Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 28. Transferan Buat Marcel


Charlotte tampak masih duduk di tepi tempat tidurnya. Kedua kaki mungilnya menggantung dan tampak bergerak gerak maju mundur keduanya. Tatapan mata Charlotte masih pada layar tabletnya sebab belum semua data dari nomor yang diretas masuk ke dalam memori tabletnya.


“Ayo Non ke taman belakang pasti sejuk di sana, tidak panas.. Non main ayunan apa mau berenang.. Nanny pengen berenang he... he...” ucap Sang pengasuh tertawa kecil sambil melangkah mendekati Charlotte.


“Kalau Nona tidak jalan jalan dan bermain main di taman nanti Papa Marcel marah ke Nanny, terus Nanny dipecat Non.. Ayo Non..” ucap Sang pengasuh sambil mengulurkan tangan ke arah Charlotte.


“Di taman depan saja Nanny sambil menunggu Papa pulang.” Ucap Charlotte sambil turun dari tempat tidurnya dibantu oleh Sang pengasuhnya.


“Taman depan masih dipakai Oma kumpul kumpul sama genk nya.” Ucap Sang pengasuh sambil terus menggandeng tangan mungil Charlotte.


“Pasti membahas rencana pernikahan Papa dan Tante Millie. Nyebelin!” ucap Charlotte dengan nada kesal.


Mereka berdua terus melangkah menuju ke taman belakang mansion, yang sebelumnya mampir dulu ke dapur untuk mengambil es krim, minuman dan camilan. Sesampai di taman, Sang pengasuh menaruh makanan dan minuman di atas meja. Dan dia yang ingin berenang itu benar benar menceburkan dirinya di kolam renang sedangkan Charlotte tampak berjalan jalan dengan tangan kanannya memegang es krim yang sedang dia makan sedang tangan kirinya masih membawa tabletnya menunggu semua data masuk.


Beberapa menit kemudian es krim yang dimakan Charlotte sudah habis. Dan data data Kevin pun sudah masuk semua ke tablet milik Charlotte, kecuali konten konten dewasa.


Charlotte tampak jari jarinya sibuk mengusap usap layar tabletnya, juga pandangan mata fokus pada layar tablet itu. Yang pertama kali dia buka adalah isi pesan chat dari data Kevin lalu data data di riwayat telepon Kevin. Dan Charlotte kaget saat melihat ada isi pesan chat Kevin yang berisi upaya mencelakakan Alamanda lagi.


“Aku harus memberi tahu pada Papa.” Ucap Charlotte lalu mengusap usap layar tablet miliknya untuk menelepon nomor hand phone Sang Papa. Akan tetapi sudah berkali kali mencoba menghubungi nomor hand phone milik Sang Papa tidak aktif. Charlotte pun lalu menghubungi nomor hand phone milik Zena sang sekretaris Papa Marcel, dan hasilnya sama saja nomor hand phone milik Zena juga tidak aktif hanya ada suara pesan.


“Tinggalkan pesan, saya sedang ada rapat penting.”


Charlotte pun akhirnya menghubungi nomor hand phone Henry, pengawal baru Alamanda. Dan beruntung nomor hand phone Henry aktif dan bisa dihubungi oleh Charlotte. Charlotte pun segera memberi tahu pada Henry jika nanti sore sepulang Ners Alamanda akan dilakukan lagi usaha untuk mencelakakan Ners Alamanda. Charlotte pun mengirimkan bukti percakapan Kevin dengan orang orang suruhan nya.


“Okey Nona, saya akan menjaga Ners Alamanda. “ ucap Henry dengan tegas dan mantap setelah Charlotte mengucapkan perintahnya pada Henry.


Waktu pun terus berlalu, dan sore hari di gedung rumah sakit elite dan megah tempat Alamanda bekerja, sudah tiba saatnya jam istirahat pulang bagi karyawan yang masuk pagi hari. Saat Alamanda memberesi meja kerjanya, tiba tiba terdengar banyak suara notifikasi masuk ke dalam hand phone miliknya.


Alamanda segera mengambil hand phone dari saku bajunya, saat dilihat banyak pesan chat masuk, email masuk juga informasi dari mobil banking. Pertama kali Alamanda membuka aplikasi chatting, ada pesan chat dari Henry yang sudah menjemput menunggu di depan. Juga ada chat dari bagian administrasi rumah sakit yang memberi tahu surat kontrak sudah dikirim dan informasi separo honor dari kontrak kerja dengan keluarga Ernestan sudah dikirim ke rekening Alamanda. Ada juga chat dari Dokter Willy yang mengirim data data lengkap Nyonya Ernestan.


Alamanda berjalan dengan cepat, dia menuju ke pintu keluar khusus pegawai rumah sakit. Saat keluar dari pintu tampak sosok Henry sudah berdiri.


“Ners mari, mobil masih di tempat parkir tidak boleh sampai di depan pintu ini.” Ucap Henry dengan sopan.


“Kenapa kamu menunggu di sini, kamu bisa menunggu di dalam mobil di dekat pintu gerbang atau di tempat parkir.” Ucap Alamanda sambil terus berjalan menuju ke tempat parkir mobil.


“Nona Charlotte berpesan agar saya menjaga Ners dengan baik. Mengambil dari depan pintu gedung rumah sakit dan memasukkan ke dalam pintu rumah Ners Alamanda.” Ucap Henry masih dengan nada sopan sambil berjalan di samping agak belakang Alamanda.


Beberapa teman teman Alamanda yang berada di dekat situ menatap mereka berdua. Termasuk Dokter Willy yang baru saja keluar dari pintu dan berjalan menuju ke tempat parkir, Dokter Willy yang sudah mengenal Henry. mengernyitkan keningnya. Sedangkan Henry dan Alamanda yang berjalan di depan Dokter Willy tidak melihatnya.


Sesampai di mobil milik keluarga Hanson, Alamanda duduk di jok depan di samping Henry. Dan mobil pun mulai berjalan meninggalkan rumah sakit menuju ke rumah orang tua Alamanda. Alamanda mengambil hand phone yang berada di dalam tas kerjanya. Alamanda mengusap usap layar hand phone miliknya membuka aplikasi mobil banking miliknya. Dia pun segera mentransfer uang yang tadi masuk ke salah satu nomor rekening Marcel yang dia tahu dengan berita:


Pembayaran cicilan hutang keluarga Irawan. Thanks.


Transferan sukses terkirim. Alamanda tersenyum senang.


“Hmm bisa segera lunas jika jika honor besar begini, yang sebagian bisa untuk membantu biaya sekolah dan biaya sehari hari.” gumam Alamanda masih dengan bibir tersenyum.


Mobil terus melaju Alamanda terus tersenyum sedangkan Henry yang berada di sampingnya tampak tegang apalagi saat mobil sudah semakin mendekati lokasi rumah Alamanda.


Suasana jalan raya sudah semakin ramai oleh kendaraan kendaraan pegawai yang baru pulang dari bekerja. Hari pun sudah mulai gelap, beberapa lampu jalan raya dan lampu lampu depan toko toko dan bangunan bangunan sudah mulai menyala.


Saat mobil sudah sampai di tanah kosong. Henry semakin tegang saat melihat dua orang yang tadi pagi akan mencelakakan Alamanda sudah nongkrong di atas motor yang tadi terjatuh di tambah satu lagi seorang pemuda dengan jaket kulit warna hitam pula nongkrong di atas motor sport.


Alamanda yang tidak tahu siapa mereka dan merasa terbiasa di tempat tanah kosong itu juga untuk nongkrong anak anak jalanan, tidak curiga dan dia santai santai saja. Sesaat Alamanda akan membuka pintu mobil saat sabuk pengaman sudah dilepasnya.


Dan di luar mobil, ketiga laki laki berjaket hitam itu menoleh ke arah mobil.