Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 86.


“Ya sudah tidak lagi muda Nyonya, mungkin saat itu usia dia empat puluh tahunan. Dia suster Rita. Perawat yang membantu kelahiran bayi Alamanda jaman dulu Nyonya..” jawab Nenek Oji dengan nada serius .


“Apa kamu masih punya kontak nya? Di mana rumah dia?” tanya Nyonya Ernest dengan tidak sabar sambil menatap wajah Nenek Oji.


“Kenapa dia memberikan kalung dan liontin itu ke kamu?” tanya Nyonya Ernest lagi sebelum Nenek Oji menjawab pertanyaan pertamanya.


“Tidak Nyah, tidak tahu juga di mana rumahnya.” Jawab Nenek Oji dengan cepat sebab dia memang tidak punya nomor hand phone atau pun alamat Suster Rita perawat yang memberi kalung dan liontin itu.


“Saya juga tidak tahu kenapa dia memberikan kalung dan liontin itu. Mungkin dia kasihan pada keluarga kami. Dia berpesan jika bayi Alamanda sakit dan kekurangan biaya bisa menjual kalung dan liontin itu. Tapi alhamdulillah Alamanda sehat dan meskipun untuk hidup kami utang utang, Alamanda bisa hidup sampai sekarang, bisa jadi perawat dan cari uang sendiri. Selamat dari juragan Darman dan dapat suami Tuan Marcel.” Ucap Nenek Oji selanjutnya dengan nada dan ekspresi wajah penuh syukur.


“Saya juga sempat menggadaikan kalung itu Nyah saat Papanya Alamanda butuh uang untuk biaya hidup keluarga, tapi entah mengapa sayang kalau mau menjualnya. Saat dapat rejeki bisa saya tebus kalung dan liontin itu.” Ucap Nenek Oji lagi.


“Ya sudah, terima kasih informasinya Nek. Sewaktu waktu aku tanya tanya lagi ya..” ucap Nyonya Ernest lagi


“Iya Nyah, saya akan jawab sebisanya.” Ucap Nenek Oji.


Nyonya Ernest pun minta kembali diantar ke kamarnya oleh Sang pengasuh Charlotte yang masih setia menemani dan membantu keperluan pribadi nya.


Saat sudah masuk ke dalam kamarnya. Sang pengasuh Charlotte disuruh ke luar dari kamarnya. Tampak Tuan Ernest sudah bangun dari tidurnya dan tampak wajah keriputnya sudah segar.


“Mama dari mana?” tanya Tuan Ernest


“Pa, kita ke rumah sakit umum sekarang Pa. Kita cari perawat yang bernama Rita. Dia orang yang memberikan kalung dan liontin itu.” Ucap Nyonya Ernest dengan nada serius sambil menatap suaminya.


“Haduh, tapi kata Nenek Oji saat itu perawat Rita berumur empat puluh tahun. Sekarang berarti sudah enam puluh tahun lebih, sudah pensiun.” Ucap Nyonya Ernest lagi yang kini dengan nada sedih, sebab jika suster Rita sudah pensiun akan semakin sulit mencari keberadaannya.


“Mama sudah tanya ke Nenek Oji?” tanya Tuan Ernest sambil menatap Sang istri.


“Iya Pa.. cepat kita cari informasi ke rumah sakit umum itu.” Ucap Nyonya Ernest lagi dengan tidak sabar.


“Iya Ma, sabar.. “ ucap Tuan Ernest tampak berpikir pikir.


“Aku sudah tidak sabar Pa..” ucap Nyonya Ernest lagi.


“Iya Ma, tapi ini sudah malam, bagian administrasi sudah tutup.” Ucap Tuan Ernest mengingatkan sang istri jika hari telah malam.


“Sabar ya Ma.. tunggu besok. Besok Bang Bule Vincent sudah mengirim anak buahnya. Kita serahkan pada dia ya Ma.” Ucap Tuan Ernest sambil mengusap usap punggung istrinya.


Sementara itu di kamar lainnya di hotel yang sama. Charlotte yang masih penasaran kenapa orang orang menertawakan dirinya yang ingin ikut belah duren. Kini sibuk dengan tabletnya untuk mencari informasi tentang belah duren. Akan tetapi karena tabletnya sudah di filter oleh Marcel maka tetap saja yang dia dapatkan informasi tentang belah duren artian yang sebenarnya yaitu membelah buah durian.


“Iya Sayang.. Besok saja ya belinya. Sekarang kita bobok saja..” ucap Marcel sambil melangkah mendekati Charlotte, dia ingin Charlotte cepat tidur dan dia bisa segera belah duren.


“Katanya Papa ingin duren?” tanya Charlotte dengan wajah imutnya menatap Sang Papa.


“Iya tapi besok saja, sekarang inginnya bobok.” Jawab Marcel lalu mendudukkan pantatnya di tepi tempat tidur.


“Mama kok di kamar mandi sejak tadi ga keluar keluar ya..” ucap Marcel selanjutnya sambil menoleh ke arah kamar mandi.


“Charlotte tunggu di sini jangan ke mana mana ya.. Papa lihat Mama dulu..” ucap Marcel selanjutnya sambil mengusap usap puncak kepala Charlotte.


“Iya Papa...” ucap Charlotte sambil menganggukkan kepalanya, dia akan patuh pada Papa dan Mamanya.


Sementara itu di dalam kamar mandi, Alamanda masih sibuk membersihkan seluruh tubuhnya. Dia sedang melakukan luluran pada tubuhnya secara mandiri. Selama ini pun dia belum pernah melakukan perawatan tubuh di salon atau klinik kecantikan. Karena uangnya lebih baik untuk biaya sekolah adik adiknya atau untuk menambah modal warung.


“Hmm aku tidak mengira akan menikah dengan Tuan Marcel hari ini.” Gumam Alamanda sambil masih membersihkan tubuhnya, seluruh lipatan lipatan tubuh dia bersihkan agar nanti tidak mengecewakan Tuan Marcel yang sudah resmi menjadi suaminya.


“Mama dan Nenek sudah pesan aku tidak boleh mengecewakan Kak Marcel. Agar Kak Marcel tidak tergoda perempuan lain..” ucap Alamanda masih terus menggosok gosok tubuhnya dengan lulur agar tubuhnya bersih sempurna dan harum memikat sang suami.


Sesaat kemudian...


TOK TOK TOK TOK


“Ma....” suara Marcel sambil mengetuk ngetuk pintu kamar mandi.


“Hah? Kak Marcel, padahal aku belum selesai bagian pantat belum tuntas.” Gumam Alamanda yang tampak bingung.


“Iya Kak, sebentar belum selesai...” suara Alamanda agak keras dan melanjutkan melulur tubuhnya dengan tergesa gesa.


“Mama jangan lama lama di kamar mandi nanti masuk angin. Charlotte sudah menunggu tuh..” suara Marcel juga agak keras.


“Iya.. sebentar.” Suara Alamanda lagi.


Marcel yang penasaran pun mencoba memutar handel pintu kamar mandi itu pelan pelan dan mendorong daun pintu dengan pelan pelan pula.


Marcel tersenyum sebab pintu kamar mandi itu tidak terkunci.