Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 63.


DEG


Jantung Alamanda berdetak lebih kencang, kini bukan karena hadirnya Marcel di dalam ruang apartemen itu. Akan tetapi akan kalimat yang diucapkan oleh Tuan Ernestan.


“Ooo makanya beberapa orang di Mansion Ernestan menatapku aneh. Juga Tuan dan Nyonya Ernest banyak bertanya tentang keluargaku. Aku jadi penasaran seperti apa menantu Tuan dan Nyonya Ernest.” Gumam Alamanda dalam hati yang masih berdiri mematung.


“Kenapa Tuan dan Nyonya Ernest begitu penasaran akan kemiripan ku dengan menantunya. Seperti apa dia, bukannya banyak orang di dunia ini yang mirip mirip meskipun bukan saudara, yang saudara saja kadang tidak mirip juga banyak. Macam aku dengan Jasmine.” Gumam Alamanda lagi di dalam hati.


“Oooh itu Tuan, Alamanda sudah hadir di sini bisa tanya saja langsung apa keluarga nya apa ada hubungan kerabat dengan menantu Tuan.” Ucap Marcel saat melihat sosok calon istrinya sudah berada di dalam ruangan itu. Alamanda sudah mandi dan tampil sederhana namun tetap cantik dengan blues dan celana kulot dan tanpa dia sadari warna baju dia senada dengan warna kemeja Marcel.


“Duduk sini Al.” Ucap Marcel sambil menggeser pantatnya agar Alamanda duduk di sampingnya di sofa panjang. Alamanda pun melangkah dan pelan pelan mendudukkan pantatnya di samping Marcel. Aroma parfum yang dipakai oleh Alamanda kalah dominan dengan aroma parfum maskulin yang dipakai oleh Marcel karena Marcel memang memakai sangat banyak demi menemui tambatan hati.


“Istriku sudah menanyakan pada dia, namun Ners Alamanda dan orang tuanya tidak mengenal orang tua dan kakek menantuku itu.” Ucap Tuan Ernest sambil menatap Alamanda.


“Ooo mungkin hanya kebetulan saja mirip Tuan.” Ucap Marcel selanjutnya yang kini tangannya sudah berani merangkul bahu Alamanda.


“Ayo kita berangkat, keburu malam.” Ucap Marcel sambil menoleh menatap Alamanda. Alamanda yang sebenarnya ingin bertanya apa ada foto menantu Tuan Ernest tidak jadi bertanya pada Tuan Ernest sebab Marcel sudah mengajaknya pergi dia pun tidak ingin pergi sampai larut malam dengan laki laki yang belum sah menjadi suaminya apalagi status dia masih terikat kontrak kerja dengan Nyonya Ernestan.


“Anak muda, perawat istriku mau kamu bawa ke mana? Kamu belum menjawab pertanyaan ku dari mana kamu mendapat rekaman itu?” ucap Tuan Ernest yang wajah keriput masih tampak bersedih.


“Tuan, kami mau belanja untuk keperluan lamaran. Soal rekaman itu saya mempunyai seorang ahli yang bisa diandalkan. Tuan Ernest pun sudah mengenal dirinya. Sebenarnya saya akan mengajak dia ke sini juga akan tetapi sayang sekali belum bisa. Semoga besok bisa Tuan.” Ucap Marcel lalu bangkit berdiri sambil menggandeng tangan Alamanda agar juga ikut berdiri.


“Saya harap Tuan bersabar lebih dulu dalam menangani kasus ini, sebab pelaku orang dalam. Orang kepercayaan Tuan sendiri. Saya sangat mengkhawatirkan kalau dia sudah memiliki semua titik kelemahan Tuan.” Ucap Marcel selanjutnya untuk mengingatkan agar Tuan Ernest tidak pergi dulu ke Mansion Ernestan. Tampak Tuan Ernest mendengarkan dengan serius.


“Tuan, makan malam sudah saya siapkan di meja makan. Maaf jika saya tidak bisa menemani Tuan dan Nyonya makan malam. Tuan nanti biarkan saja setelah makan, biar nanti saya beres kan selesai saya pulang atau menelepon pelayan apartemen.” Ucap Alamanda saat sudah berdiri.


“Baiklah, anak muda jangan terlalu malam kamu bawa perawat istriku itu.” Ucap Tuan Ernest yang masih duduk di sofa sambil menatap Alamanda lalu beralih pada Marcel.


“Siap Bos Tua.” Ucap Marcel sambil tersenyum lalu melangkah sambil merangkul pinggang ramping Alamanda.


Mereka berdua segera keluar dari pintu apartemen dan ber jalan menuju ke lift yang akan mengantar mereka menuju ke lantai tempat mobil Marcel yang terparkir.


“Apa kamu dulu juga sering jalan berdua dengan Juragan Darman?” tanya Marcel saat masuk ke dalam pintu lift. Alamanda hanya menggelengkan kepalanya.


“Apa kamu punya kekasih hati lainnya selain Juragan Darman?” tanya Marcel lagi yang ingin tahu banyak tentang masa lalu Alamanda yang berhubungan dengan masalah hati.


“Hmmm pasti kalian putus karena kamu dijodohkan dengan Juragan Darman.” Tebak Marcel.


“Apa dia sudah punya kekasih hati lagi atau dia bunuh diri?” tanya Marcel yang masih kepo, sedangkan Alamanda hanya tersenyum.


“Kenapa kamu malah senyum senyum. Aku bertanya dengan sungguh sungguh.” Ucap Marcel sambil menatap tajam wajah Alamanda. Manik manik mata dua anak manusia yang sedang jatuh cinta itu pun saling beradu. Jantung kedua orang itu berdetak lebih kencang, pandangan Marcel pun turun pada hidung mancung Alamanda lalu pada bibir indah Alamanda nan merah ranum sangat menggoda hatinya untuk mengecupnya, Marcel pun secara reflek mendekatkan wajahnya pada Alamanda, Alamanda yang juga sedang memandang bibir Marcel yang telah mendarat di pipi mulusnya pun mendadak memejamkan matanya saat wajah Marcel mendekati wajahnya.


Dan sesaat kemudian...


TING


Suara alarm lift mengagetkan mereka berdua. Alamanda pun dengan cepat membuka matanya dan Marcel pun menarik wajahnya dan kini dia pun sudah berdiri tegak sempurna. Pintu lift telah terbuka.


“Ehmm.. Hmmm...” Marcel berdehem dehem untuk menetralkan suasana hatinya. Dia dengan segera menggandeng telapak tangan Alamanda dan melangkah meninggalkannya ruang lift itu. Marcel menggenggam lebih erat telapak tangan Alamanda yang dia rasakan dingin.


“Apa kamu kedinginan hmmm?” tanya Marcel sambil mempererat genggaman tangannya.


“Sedikit.” Jawab Alamanda asal.


“Banyak juga boleh.. he... he... “ ucap Marcel sambil tertawa kecil lalu dia melepas genggaman tangannya dan berpindah merangkul pundak Alamanda dan kedua nya terus melangkah menuju ke tepat mobilnya yang terparkir.


Sesampai di tempat mobil Marcel segera membukakan pintu buat Alamanda. Alamanda pun segera masuk ke dalam mobil. Marcel melangkah dengan cepat mengitari mobil bagian depan dan dia pun segera membuka pintu mobil buat dirinya.


Marcel menoleh dan tersenyum ke arah Alamanda.


“Sayang sekali Charlotte tidak bisa ikut.” Ucap Marcel lalu memasang sabuk pengamannya.


“Ooo ya, ada salam dari Charlotte dia sangat kangen pada calon Mamanya.” Ucap Marcel selanjutnya lalu dia mulai menyalakan mesin mobilnya.


“Saya juga sangat kangen dengan Nona Charlotte..” ucap Alamanda sambil menatap ke depan menerawang jauh, dia tidak basa basi akan tetapi memang benar benar rindu pada Charlotte.


Mobil pun terus melaju meninggalkan lokasi apartemen, Marcel mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang sebab lalu lintas terbilang ramai di petang hari itu.