
Meski pun kepala Nyonya Ernest pusing dan jantung berdebar debar karena melihat kalung dan liontin berinisial AD yang kini menempel di leher dan dada Alamanda. Nyonya Ernest bertahan diri. Ingin rasanya saat itu juga Nyonya Ernest bertanya pada Nenek Oji dari mana dia mendapatkan kalung dan liontin itu.
Melihat istrinya yang tampak suasana hatinya tidak nyaman. Tuan Ernest bangkit berdiri lalu mengusap usap punggung istrinya.
“Kita pamit sekarang ke hotel apa Ma? Acara pentingnya kan sudah selesai.” Ucap Tuan Ernest pada istrinya.
“Pa, bagaimana kalau kita kasih kado pada pernikahan Alamanda dan Marcel. Keluarga Alamanda dan keluarga Hanson untuk tidur beberapa hari di hotel tempat kita menginap?” ucap Nyonya Ernest dengan suara pelan sambil mendongak menatap suaminya.
“Okey, aku setuju. Aku tahu maksud Mama..” ucap Tuan Ernest yang tahu maksud istrinya pasti dia akan mengulik tentang kalung dan liontin itu pada keluarga bapak Irawan terutama pada Nenek Oji.
Tuan Ernest yang masih berdiri pun tampak melihat suasana di dalam ruang tamu yang sempit itu. Tampak Marcel dan Alamanda masih sibuk dengan tiga laki laki petugas nikah kilat, mereka masih menyelesaikan urusan surat surat pernikahan mereka. Seperti janji Alamanda, dia pun membuat surat perjanjian resmi akan merawat, mendidik mencintai dan menyayangi Charlotte seperti anak kandungnya sendiri.
Charlotte tampak selalu nempel bergelayut manja pada Alamanda. Sedangkan para saksi dan tamu tamu sudah mendapatkan jamuan. Atas saran pak Er Te, untuk jamuan ibu ibu tidak masak masak akan tetapi membooking warung sate kambing dan warung nasi padang yang ada di dekat mulut gang.
“Nyonya mau makan apa? Maaf karena acara dadakan kami hanya membooking warung di depan.” Ucap Ibu Irawan dengan takut takut.
“Tidak usah! Tensiku bisa naik kalau makan daging kambing. Dan aku diet makanan yang bersantan.” Jawab Nyonya Hanson dengan ketus tanpa menatap ibu Irawan. Ibu Irawan pun semakin ciut hatinya.
“Hmmm semoga Alamanda sabar dan tahan uji punya mertua seperti ini.” Gumam Ibu Irawan dalam hati sambil menatap Alamanda yang masih sibuk menandatangani surat surat.
“Cel! Acara sudah selesai kan? Aku mau pulang. Gerah sekali! Panas!” suara Nyonya Hanson sambi mengibas ibaskan telapak tangannya ke arah wajahnya.
“Sebentar Ma, aku dan Alamanda selesaikan ini dulu, habis ini kita foto foto bersama.” Ucap Marcel tanpa menoleh ke arah Sang Mama sebab dia pun juga masih sibuk tanda tangan.
“Tidak perlu! Malu aku back ground nya Cel rumah macam gini...” ucap Nyonya Hanson tidak keras.
Sesaat kemudian Tuan Ernest bertepuk tangan sebanyak tiga kali, lalu...
“Ehem.. ehem.. maaf saya minta perhatiannya sebentar. Yang sedang menikmati jamuan silahkan dilanjut. Saya akan menyampaikan sepatah dua patah kata.”
“Kado dari orang tua tidak boleh ditolak.” Saut Nyonya Ernest.
“Haduh Tuan dan Nyonya, kami mengucapkan banyak terimakasih dan tentu saja kami terima kado itu dengan senang hati. Tidak menyangka kalau kami bisa menginap di hotel yang megah itu. Biasanya kami hanya bisa melihatnya saja dari jalan raya.” Ucap Pak Irawan sambil tersenyum lebar menatap Tuan dan Nyonya Ernest.
“Tuan dan Nyonya Ernest yang terhormat mohon maaf kalau saya tidak bisa ikut menginap di hotel itu. Bukannya saya menolak kado dari Tuan dan Nyonya Ernest, tetapi saya masih ada keperluan.” Ucap Nyonya Hanson masih mengibas ibaskan telapak tangannya ke arah wajahnya.
“Mama ikut saja semalam saja tidak apa apa. Untuk malam keakraban dua keluarga kita.” Ucap Marcel yang baru saja menyelesaikan urusan surat surat nya.
“Hmmm buat apa coba aku harus berakrab akrab dengan keluarga miskin ini. Tidak ada faedahnya, mereka yang kesenangan.” Gumam Nyonya Hanson dalam hati sambil bibir cemberut.
“Kenapa juga Tuan dan Nyonya Ernest datang ke sini dan memberi kado istimewa buat keluarga ini. Pasti perawat itu pintar mengambil hati dua orang lansia itu.” Gumam Nyonya Hanson lagi dalam hati.
“Iya Oma ikut saja. Oma nanti kesepian di Mansion aku ikut Papa dan Mama. Aku ikut mempelai he... he... he... “ ucap Charlotte menatap Marcel dan Alamanda sambil tertawa kecil ekspresi wajah Charlotte terlihat sangat bahagia. Dia belum mau makan masih menunggu Alamanda. Alamanda berjanji setelah selesai urusan surat surat akan memasakkan buat Charlotte, Nyonya Hanson dan Nyonya Ernest. Jasmine pun sudah membelanjakan bahan makanan organik khusus untuk Charlotte lewat aplikasi on line.
Waktu pun terus berlalu semua urusan surat surat dan urusan perut semua orang sudah selesai. Para tetangga keluarga Irawan sangat bahagia karena semua sudah kenyang makan sate kambing dan nasi padang. Ditambah pesanan Marcel pada catering kue kue dan nasi box yang dibagikan pada semua tetangga Alamanda sudah datang.
Kini tiba saatnya mereka berangkat ke hotel bintang lima. Kecuali Dokter Willy dan istri, Bang Bule Vincent dan tiga laki laki petugas nikah kilat mereka sudah pamit pulang ke rumah masing masing. Eh enggak ding, Bang Bule Vincent pulang ke rumah sakit sebab Ixora sang istri dan anaknya yang baru lahir masih di rumah sakit.
Jasmine dengan sigap menyiapkan motor maticnya untuk mengantar Nyonya Hanson ke mulut gang. Sedangkan Ibu Irawan dengan senang hati mendorong kursi roda Nyonya Ernest.
“Sejak kapan kalian tinggal di kampung ini?” tanya Nyonya Ernest.
“Sejak saya menikah dengan Papanya Alamanda tinggal di sini Nyonya. Kalau Papanya Alamanda di gang sebelah sejak kecil. Kakek dan Nenek Oji kan tinggal di gang sebelah.” Jawab Ibu Irawan sambil mendorong kursi roda.
“Ooo mana Nenek Oji? Dia harus ikut menginap di hotel.” Tanya Nyonya Ernest sambil menoleh untuk mencari sosok Nenek Oji.
“Ooo maaf Nyonya, Nenek Oji kalau kena AC masuk angin, mungkin dia mau jaga rumah saja.” Ucap Ibu Irawan.