
“Tapi Papa aku sedang berada di villa Oma Mama.. “ ucap Charlotte yang kini senyum lebarnya sudah tidak ada berubah dengan ekspresi wajah yang serius sebab dia melihat ekspresi wajah Sang Papa yang kecewa.
“Aku juga sudah kangen pada Papa dan Ners Alamanda, tapi kangen ku pada Oma dan Opa Mama juga belum habis... “ ucap Charlotte dengan nada dan ekspresi sedih.
“Okey, baiklah nanti kalau sudah pulang dari villa kabari Papa...” ucap Marcel berusaha sabar dan tenang, dia ingat pesan dari Dokter Willy untuk memakai cara secara kekeluargaan dalam menyelesaikan hak asuh Charlotte, sebab dia pikir juga untuk kebaikan Charlotte secara psikologis.
“Iya Papa... Pa maaf aku belum bisa membaca data data. Diizinkan oleh Oma main tablet nanti saat istirahat habis makan siang sebelum bobok siang dan setelah bobok siang.” Ucap Charlotte tampak sedih
“Yang bawa tabletku Nanny Pa...” ucap Charlotte kemudian masih dengan nada sedih.
“Hmmmmm...” gumam Marcel sambil melepas udara banyak banyak dari lobang hidung. Pasti akan ada perbedaan cara didik untuk anak antara dia dan sang mertua. Marcel selama ini tahu potensi yang dimiliki oleh Charlotte maka dia membiarkan Charlotte beraktivitas dengan tablet miliknya toh sudah diberi filter.
“Charlotte....” suara Nyonya Wijaya yang terdengar di balik hand phone milik Marcel.
“Pa, sudah dipanggil Oma untuk makan siang... Sudah dulu ya Pa.. bye... bye...” suara Charlotte dan sambungan video call pun sudah diputus oleh Charlotte. Charlotte berusaha patuh pada Nyonya Wijaya agar tabletnya tidak sita oleh sang Oma. Kalau tablet masih dibawa sang pengasuh masih mendingan, Charlotte masih bisa curi curi waktu untuk beraktivitas dengan tabletnya.
Marcel menatap dengan sedih layar hand phone miliknya yang sudah tidak terhubung pada puteri semata wayangnya.
“Okey aku harus sabar.... “ gumam Marcel lalu dia menaruh lagi hand phone ke dalam saku jasnya dan dia menjalankan mobil untuk menuju ke apartemen.
Marcel menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Dan beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman apartemen, Marcel segera menjalankan mobil menuju ke tempat parkir dan selanjutnya Marcel segera melangkah menuju ke lift yang akan membawa dirinya menuju ke kamar apartemen miliknya.
Sementara itu di dalam kamar apartemen, Alamanda yang sudah selesai memasak makanan kesukaan Charlotte sudah menunggu kedatangan Marcel dan Charlotte. Alamanda juga sudah selesai membantu Nyonya Ernest makan siang dan sudah memberikan obat dan vitamin untuk Nyonya Ernest. Kini Nyonya Ernest duduk di kursi roda yang tidak jauh dengan Alamanda yang sedang duduk di sofa menunggu orang orang tersayang nya. Nyonya Ernest memandangi wajah Alamanda dengan intens.
“Semakin aku mengenal dirinya semakin dia sangat mirip dengan Debora...” gumam Nyonya Ernest dalam hati.
“Ners .. dulu Ners Alamanda lahir di mana?” tanya Nyonya Ernest tiba tiba entah mengapa tiba tiba pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
“Di rumah sakit umum kota Nyonya.” Jawab Alamanda
DEG... jantung Nyonya Ernest berdegup lebih kencang. Dia teringat dua puluh dua tahun yang lalu mobil yang ditumpangi oleh Archie dan Debora kecelakaan di dekat rumah sakit umum kota itu.
“Hah...” desah nafas berat Nyonya Ernest sambil mengibaskan telapak tangannya agar dia tidak teringat akan musibah itu sebab akan membuat tensinya naik jika dia memikirkan musibah itu.
“Nyonya...” ucap Alamanda sambil menatap serius Nyonya Ernest karena mengkhawatirkan kesehatan Nyonya Ernest.
“Ambilkan aku air mineral.” Ucap Nyonya Ernestan selanjutnya. Dan Alamanda pun bangkit berdiri. Saat Alamanda melangkah menuju ke ruang makan pintu kamar apartemen terbuka dan muncul sosok Marcel yang melangkah masuk seorang diri. Alamanda menoleh ke arah pintu apartemen dan mencari cari sosok Charlotte.
“Di villa milik keluarga Wijaya.” Jawab Marcel sambil melangkah menuju ke tempat Nyonya Ernest berada. Marcel pun lalu memberi salam pada Nyonya Ernest dan saat Marcel menjabat tangan Nyonya Ernest, Marcel merasakan tangan Nyonya Ernest terasa dingin. Dan Alamanda juga sudah berdiri di dekat Nyonya Ernest sambil membawakan air mineral.
“Nyonya apa AC terlalu dingin?” tanya Marcel sambil matanya mencari remot kontrol AC di atas meja.
“Tidak Tuan Marcel.” Jawab Nyonya Ernest sambil menerima air mineral yang sudah diulurkan oleh Alamanda.
“Sayang sekali Nona kecil tidak bisa ikut ke sini, padahal aku juga ikut menunggu dia.” Ucap Nyonya Ernest setelah meminum air mineral.
“Kalian berdua makanlah, dan setelah makan kita bisa ngobrol ngobrol di sini.” Ucap Nyonya Ernest selanjutnya.
“Tuan Ernest di mana Nyonya?” tanya Marcel sambil menatap Nyonya Ernest lalu mengedarkan pandangan ke ruangan untuk mencari sosok Tuan Ernest sebab dia khawatir jika Tuan Ernest ke luar dari apartemen.
“Di dalam kamar, dia bekerja dari sana Tuan.” Jawab Nyonya Ernest dan tampak Marcel lega.
“Syukurlah Nyonya, saya harap jangan keluar dari apartemen lebih dulu.” Ucap Marcel lalu dia bangkit berdiri sebab Alamanda sudah melangkah menuju ke ruang makan.
Marcel makan dengan lahap karena sudah lama dia tidak merasakan makanan masakan Alamanda. Meskipun dia sedikit kecewa sebab Charlotte tidak ikut serta.
“Aku habiskan makanan Charlotte ya, sayang kamu sudah repot memasakkan untuk dirinya .” ucap Marcel sambil mengulurkan tangannya pada mangkok sayur spesial buat Charlotte.
Akan tetapi tiba tiba...
“Ehem... ehem....” suara deheman Tuan Ernest yang baru saja melangkah keluar dari kamar tidur. Marcel dan Alamanda pun lalu menoleh ke arah sosok Tuan Ernest.
“Anak muda jangan kamu habiskan. Aku juga mau...” ucap Tuan Ernest selanjutnya lalu beliau juga ikut melangkah menuju ke meja makan Dan Tuan Ernest pun duduk di kursi di samping Marcel. Alamanda tersenyum dan mengambilkan piring buat Tuan Ernest.
“Mumpung Tuan Ernest berada di sini, saya akan menyampaikan sesuatu yang sangat penting buat hidup saya.” Ucap Marcel setelah menyendok sayur dan menaruh ke atas piring nya.
“Anak Muda, aku yang akan bertanya apa kamu sudah menghubungi detektif swasta teman kamu itu?” tanya Tuan Ernest sebelum Marcel melanjutkan bicara.
“Haduh Bos Tua, maaf saya lupa..” ucap Marcel sambil menepuk jidat nya sendiri. Sebab dia memang benar benar lupa. Masalah Mamanya, lamaran Alamanda dan hak asuh Charlotte membuat dia lupa untuk janjinya akan membantu Tuan Ernest.
“Haduh Bos Muda terlalu sibuk jadi lupa untuk membantu orang tua ini...” ucap Tuan Ernest sambil menerima piring dari Alamanda.
“Maaf Tuan, sekarang juga akan saya hubungi Bang Bule Vincent.” Ucap Marcel lalu dia meraih hand phone dari saku kemejanya.