
Millie mengabaikan panggilan suara dari nomor hand phone milik Bang Bule Vincent. Berkali kali Bang Bule Vincent melakukan panggilan suara. Millie terus saja menjalankan mobilnya menuju ke rumah sakit.
“Apa sih sebenarnya yang sudah terjadi. Mungkin orang akan melakukan black campaign pada Papa. Mengorek orek masa lalu keluarga Papa. Bukannya sebentar lagi sudah akan pemilu. “ gumam Millie dalam hati sebab sang Papa Donald Bernath akan mencalonkan diri sebagai anggota dewan legislatif.
“Aku berharap Papa Donald adalah Papa kandungku, mungkin Mama menikah dengan laki laki itu sudah mengandung aku, terus Mama memilih kembali pada Papa Donald karena sudah ada aku.” Gumam Millie dalam hati sambil terus melajukan mobilnya.
Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman rumah sakit. Suatu rumah sakit yang sama dengan tempat Dokter Willy bekerja dan rumah sakit di mana Tuan Sam juga dirawat sebab Tuan Sam memiliki asuransi kesehatan dari keluarga Ernestan. Dan rumah sakit itu menjadi rumah sakit rujukan terakhir buat karyawan karyawan Mansion Ernestan dan Ernestan Co.
Millie terus berjalan menuju ke bagian informasi sebab dia belum tahu bagaimana cara dan prosedur untuk uji DNA. Setelah mendapatkan petunjuk dari bagian informasi Milli terus melangkah menuju ke suatu ruangan ruangan yang di tentukan. Dengan jantung berdebar debar Millie menjalani setiap rangkaian prosedur. Akan tetapi dia tampak kecewa sebab belum membawa sample rambut Sang Papa Donald Bernath.
“Hmmm gara gara tergesa gesa.” Gumam Millie dalam hati.
“Tidak mungkin aku menyuruh Papa datang ke sini.” Gumam Millie di dalam hati lagi sambil berjalan keluar dari ruangan tempat dia diambil sample rambut nya.
“Hmmm nanti saja, aku pijit pijit pundak Papa dan aku pura pura cabut uban Papa. Belum tentu juga Papa setuju aku buat test DNA.” Gumam Millie di dalam hati lagi.
Di saat Millie masih berjalan tiba tiba dia bertemu dengan Dokter Willy.
“Hei Nona Millie apa kabar? Ada perlu apa?” sapa Dokter Willy saat mereka berpapasan.
“Hmmm kabar baik Dok, saya hanya mau menjenguk teman yang sakit saja. Maaf saya tergesa gesa.” Jawab Millie bohong dan segera melangkah pergi.
Dokter Willy yang akan mengambil hasil test DNA Alamanda pun segera melanjutkan langkahnya. Dan dia tanpa sengaja melihat nama Millie Melia Donald di daftar uji test DNA.
Sementara itu di lain tempat , di Mansion Hanson juga sedang terjadi kehebohan kecil masalah jamu.
“Pa, yang punya Charlotte yang warna jamu nya agak hijau karena ada bahan daun pepaya agar kuat makan.” Ucap Alamanda yang sudah dihubungi oleh Nenek Oji lewat hand phone milik Ibu Irawan.
“Punya Papa juga agak pahit pahit rasanya, sepertinya punya Papa kemarin warna jamu juga agak kehijau hijauan kecoklatan.” Ucap Marcel yang belum yakin dan takut keliru.
“Papa khawatir kalau salah Sayang. Biar dua duanya Papa yang minum saja ya.. Kita hubungi lagi Nenek biar membuatkan lagi jamu buat Charlotte lima botol besok kita ambil.” Ucap Marcel sambil mengulurkan tangannya pada Charlotte untuk meminta botol jamu yang dipegang tangan mungil Charlotte.
“Papa ini benar punya aku.” Ucap Charlotte sambil mendekap botol jamu kuat makannya.
“Kalau salah bagaimana kalau adiknya muncul di perut kamu? Kamu nanti tidak bisa jalan karena perutmu besar.” Ucap Marcel sambil menatap wajah imut Charlotte. Charlotte yang semula memegang botol jamu dengan kuat sambil didekap di dadanya, pelan pelan kendor pegangannya, kepala nya pun menunduk melihat perutnya, ada rasa takut juga jika perutnya membesar.
“Ih.. Papa menakut nakuti saja.” Ucap Alamanda lalu memeluk tubuh Charlotte.
“Enggak akan terjadi begitu Sayang.. Tapi karena Papa ragu, ya sudah Charlotte besok saja ya daripada nanti Charlotte sakit perut kalau keliru, punya Papa ada bahan lada yang banyak..” ucap Alamanda selanjutnya.
“Jadi rasa jamu Papa pedes Pa, bukan pahit.” Suara Charlotte dengan lantang sambil masih memegang botol jamu nya.
Saat mereka masih ribut, terdengar bunyi dering di hand phone milik Marcel. Marcel segera berjalan menuju ke nakas tempat hand phone miliknya dia taruh.
“Bang Bule Vincent. “ gumam Marcel saat melihat di layar hand phone miliknya tertera nama kontak Bang Bule Vincent, Marcel pun segera menggeser tombol hijau.
“Bro, aku sudah kirim foto keluarga Millie di masa lalu, belum kamu buka ya.. tolong hubungi Millie, kata dokter yang merawat Tuan Sam tidak sadar tetapi selalu menyebut nama Millie anaknya.” Suara Bang Bule Vincent di balik hand phone milik Marcel.
“Sorry Bang, tadi aku sampai Mansion langsung menemui Mama dan sekarang sedang diskusi masalah jamu kuat.” Ucap Marcel sambil tersenyum
“Hah? Jamu kuat apa mentang mentang sudah bisa buka puasa kamu ya. Tapi boleh juga itu jamu buat aku Bro.” Suara Bang Bule Vincent
“Sudah cepat hubungi Millie ya.. suruh ke rumah sakit menghubungi Dokter Richard yang menangani Tuan Sam. Millie aku hubungi tidak diangkat. Aku ingin cepat mengungkap rahasia kematian Archie dan Debora. Aku belum bisa melacak nomor lama Tuan Sam. Orang orangnya juga tidak ada informasi yang memberi titik terang, jadi sangat berharap Tuan Sam jangan mati dulu sebelum memberikan informasi.” Suara Bang Bule Vincent lagi lalu sambungan telepon itu pun terputus.