
Kedua orang itu, Nyonya Ernest dan Sang pelayan menoleh ke arah pintu dan dari pintu muncul sosok seseorang laki laki yang tidak lain adalah Tuan Ernestan. Melihat Tuan Ernestan sudah pulang dan masuk ke dalam kamar, sang pelayan pun terburu buru berjalan meninggalkan kamar.
“Mama sudah bangun?” ucap Tuan Ernest sambil berjalan mendekati istrinya. Tuan Ernest tampak wajahnya sangat lelah, di usianya yang harusnya sudah pensiun menikmati masa tua dia masih harus memikirkan jalannya perusahaan. Tuan Ernest pun mencium kening Sang isteri.
“Membicarakan apa Mama sama ibu kok tampak serius dan Papa pulang langsung terdiam. Ada rahasia apa hmmm?” tanya Tuan Ernest sambil menatap istrinya.
“Itu Pa, tentang perawat baru itu. Papa lihat tidak dia sangat mirip dengan Debora.” Ucap Nyonya Ernest.
“Iya Ma, tapi itu kan hal biasa banyak orang di dunia ini yang mirip mirip meskipun tidak ada hubungan darah.” Ucap Tuan Ernest masih menatap wajah istrinya.
“Sudah tidak usah dipikir nanti Mama malah sedih, tekanan darah naik lagi...” ucap Tuan Ernest lalu dia berjalan menuju ke kamar mandi. Nyonya Ernest pun lalu meraih ganggang telepon yang ada di dekat tempat tidurnya itu untuk menghubungi Alamanda agar segera datang ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya.
Alamanda yang sedang di dalam kamarnya sudah selesai dengan keperluan pribadinya tampak sedang berbaring di atas tempat tidurnya sambil mengusap usap layar hand phone miliknya, dia sedang chattingan dengan teman Perawatnya untuk menanyakan kabar pasien bernama Nyonya Hanson. Sesaat telepon yang ada di meja berdering, Alamanda pun mengangkat ganggang telepon itu.
“Ners segera ke kamar, aku mau mandi dan setelah itu aku mau kamu antar keliling taman depan.” Suara Nyonya Ernest di balik ganggang telepon itu.
“Baik Nyonya.” Ucap Alamanda dengan santun lalu menutup ganggang telepon itu karena Nyonya Ernest pun juga sudah lebih dulu menutup sambungan telepon setelah Alamanda berucap.
“Hmmm apa nanti aku coba minta izin pada Nyonya Ernest ya...” gumam Alamanda dalam hati sambil bergegas ke luar dari kamarnya. Dia sangat ingin untuk pergi ke rumah sakit untuk menengok Nyonya Hanson dan menemui Marcel.
Setelah setelah membersihkan tubuh dan mengganti pakaian Nyonya Ernest. Alamanda menyisir rambut Nyonya Ernest dengan pelan pelan. Tuan Ernest yang sedang duduk di sofa di dalam kamar itu pun mengamati sosok Alamanda, dalam hati dia membenarkan perkataan Sang Istri, jika perawat itu sangat mirip dengan Debora.
“Benar sangat mirip, tapi banyak orang orang mirip tidak ada hubungan darah. Mana mungkin keluarga Debora memiliki saudara di tempat pemukiman macam itu. Apa aku suruh orang untuk mencari tahu tentang keluarga perawat itu. Jangan sampai mereka hanya mengaku aku saja.” Gumam Tuan Ernest dalam hati yang masih terus saja memandangi sosok Alamanda.
“Hmmm benar aku suruh saja orang untuk mencari tahu informasi tentang keluarga perawat itu.” Gumam Tuan Ernestan masih memandangi Alamanda.
Alamanda yang merasa dipandangi terus oleh Tuan Ernest merasa risi lalu bergegas mendorong kursi roda itu keluar dari kamar dan menuju ke taman depan.
Saat sampai di taman depan Alamanda akan mengatakan apa yang diinginkan yaitu minta izin sebentar untuk ke rumah sakit akan tetapi dia masih ragu ragu. Sebab sejak keluar dari kamar Nyonya Ernest hanya diam saja, tidak mengucapkan apa apa.
Akan tetapi tiba tiba...
“Ners.. besok pagi jadwal aku kontrol ke rumah sakit. Kamu temani aku ya...” suara Nyonya Ernest yang tiba tiba itu mengagetkan Alamanda akan tetapi juga membuat hatinya bahagia. Sebab rumah sakit tempat kontrol Nyonya Ernest sama dengan rumah sakit tempat Nyonya Hanson di rawat.
“Baik Nyonya.” Ucap Alamanda dengan santun dan terus mendorong kursi roda itu untuk keliling taman depan.
“Besok aku minta izin sebentar saat Nyonya Ernest masuk ruang periksa.” Gumam Alamanda dalam hati sambil terus mendorong kursi roda. Dua orang itu hanya terdiam masing masing sibuk dengan pikirannya sendiri sendiri.
Akan tetapi tiba tiba....
“Ners Alamanda... Ners Alamanda.....” suara seorang anak kecil berteriak teriak.
Alamanda juga Tuan dan Nyonya Ernest pun menoleh ke arah suara yang memanggil manggil itu. Tampak Charlotte berlari lari dan di belakangnya Sang pengasuh dan Henry. Sang pengasuh ikut berlari lari sambil melarang Charlotte untuk berteriak teriak.
Alamanda tersenyum memandang Charlotte namun dia terus mendorong kursi roda itu.
“Ners Alamanda... tunggu...” teriak Charlotte lagi. Alamanda pun sedikit mengurangi langkahnya dalam mendorong kursi roda itu. Dia tampak ragu ragu jika berhenti akan mendapat marah dari Nyonya Ernest dan jika terus kasihan Charlotte yang terus berlari lari.
“Tunggu anak kecil itu!” perintah Nyonya Ernest. Dan Alamanda pun menepikan kursi roda yang diduduki oleh Nyonya Ernest.
“Ners Alamanda....” ucap Charlotte selanjutnya saat sudah dekat sambil memeluk paha Alamanda. Sambil masih memegang kursi roda Alamanda menunduk dan mencium puncak kepala Charlotte.
“Ners ayo lihat Oma dan Papa. Aku mau mengantar baju buat Papa. Aku sebenarnya tidak boleh ikut ke rumah sakit tapi aku kasihan pada Papa dan Oma.” Ucap Charlotte dengan nada sedih.
“Nona saya juga ingin menengok Oma dan menemui Papa Marcel tapi saya masih bekerja.” Ucap Alamanda dengan nada sedih pula.
“Ooowhhh bisakah sebentar saja menemui Papa dan melihat Oma, Ners?” tanya Charlotte dengan ekspresi wajah yang sangat kecewa. Nyonya Ernest yang mendengar suara imut Charlotte yang kecewa itu jadi tidak tega, demikian juga Tuan Ernest yang sejak tadi menatap wajah cantik dan imut Charlotte.
“Temui mereka setelah kamu mengantar aku ke ruang periksa.” Ucap Nyonya Ernest dengan nada serius. Alamanda dan Charlotte pun tampak tersenyum senang dan saling pandang.
“Terima kasih Nyonya....” ucap Charlotte lalu menjabat tangan Nyonya Ernest dan mencium punggung tangan Nyonya Ernest dengan sopan.
“Sama sama Nona cantik, panggil aku Oma saja jangan Nyonya ya...” ucap Nyonya Ernest sambil tersenyum menatap wajah imut Charlotte. Dia yang begitu merindukan hadirnya cucu dan cicit gemas melihat wajah imut Charlotte.
“Baik Oma...” ucap Charlotte dengan santun sambil tersenyum manis.
“Dan panggil aku Opa.” Ucap Tuan Ernest sambil tersenyum juga pada Charlotte,
“Kalau dulu cucu perempuanku tidak meninggal pasti juga lucu macam anak ini.” Gumam Tuan Ernest dalam hati. Dia membayangkan jika cucu perempuannya dulu tidak meninggal saat bayi, pasti di saat balita juga akan cantik dan imut macam Nona kecil yang ada di depannya itu.
“Ah aku melarang istriku mengingat ingat masa lalu tetapi kenapa aku juga mengingat ingat masa lalu yang menyedihkan itu.” Gumam Tuan Ernest dalam hati...