Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 108.


“Tuan... Comel hilang ... Maafkan saya, tadi sore waktu saya mengantar Nona Eveline keliling Mansion, Comel masih ada, dia dipeluk peluk oleh Nona Eveline. Tapi saat saya mau memberi makan dan memberi pasir bersih buat dia .. kandangnya sudah kosong dan pintu kandang terbuka hiks... hiks.. padahal saya tidak lupa menutup pintu kandang hiks.. hiks...” ucap Ibu pelayan di balik hand phone milik Tuan Ernest.


“Kamu cari di sekitar taman belakang. Mungkin kamu tidak dapat menutup pintu kandangnya!” perintah Tuan Ernest yang didengar oleh Nyonya Ernest.


“Pa, ada apa?” tanya Nyonya Ernest dengan nada khawatir.


“Comel keluar dari kandang.” Ucap Tuan Ernest agar Nyonya Ernest tenang hatinya.


Sementara itu Ibu pelayan masih berbicara di balik hand phone milik Tuan Ernest yang mengatakan sudah mencari ke mana mana akan tetapi tetap tidak ditemukan.


Nyonya Ernest pun meminta hand phone milik Sang suami dan ingin berbicara sendiri dengan Ibu pelayan.


“Kamu cari sampai dapat! Jangan sampai dia hilang atau mati kelaparan atau diserang kucing liar!” suara Nyonya Ernest dengan nada tinggi dan tersirat nada khawatir dan emosi bercampur.


“Sudah Nyonya tapi tetap tidak ketemu para pelayan sudah saya suruh untuk membantu mencari Comel... hiks.. hiks... Maaf Nyonya...” suara Ibu pelayan.


“Cari sampai ketemu! Kerja menjaga Comel saja tidak becus!” teriak Nyonya Ernest lalu memutus sambungan teleponnya.


“Pa, kepalaku tambah pusing. Leherku semakin kaku. Sakit.” Ucap Nyonya Ernest sambil memberikan hand phone milik suaminya. Ekspresi wajah Nyonya Ernest terlihat menahan rasa sakit, setelah menyerahkan hand phone pun tangannya segera memijit mijit leher belakangnya.


Melihat hal itu Dokter Willy dan Tuan Ernestan segera sigap memindah tubuh Nyonya Ernest pada kursi roda. Dan Dokter Willy segera mendorong kursi roda itu menuju ke kamar Tuan dan Nyonya Ernest. Sementara yang lain pun segera menyudahi makan malamnya dan mereka semua turut melangkah menuju ke kamar Tuan dan Nyonya Ernest untuk melihat keadaan Nyonya Ernest dan mereka siap siaga jika dimintai bantuan meskipun keluarga Irawan hanya mampu memberi bantuan tenaga dan doa sebab kalau biaya jelas tidak mungkin.


Dan setelah diperiksa oleh Dokter Willy tensi Nyonya Ernest naik lagi bahkan lebih tinggi. Saran dari Dokter Willy, nyonya Ernest dirawat di rumah sakit saja. Namun Nyonya Ernest tidak mau. Dia mau didampingi Alamanda saja.


“Kondisi emosi Nyonya saat ini tidak stabil, lebih baik dirawat di rumah sakit saja.” Ucap Dokter Willy sekali lagi dia tidak mau disalahkan jika Nyonya Ernest keadaannya semakin memburuk.


“Tidak, biar Alamanda nanti yang merawat aku.” Ucap Nyonya Ernest dengan suara lirih.


“Kenapa Oma Ernest juga takut ke rumah sakit seperti aku dulu..” ucap Charlotte yang mendengar suara Nyonya Ernest, dia berdiri di samping Tuan Ernest.


Sedangkan di kamar pengantin, Alamanda dan Marcel masih tidur dengan pulas. Marcel memeluk tubuh sang istri dari belakang.


KRUCUK KRUCUK KRUCUK


Lambung Alamanda yang sudah minta diisi kembali itu pun membuat Alamanda terbangun. Sesaat Alamanda membukakan matanya. Hatinya merasa sangat bahagia karena sang suami memeluk tubuhnya dengan posesif.


Dan tiba tiba....


“Hah? Sudah malam. Aku harus ke kamar Nyonya Ernest. Sudah terlambat, Dokter Willy pasti sudah pulang. Charlotte juga apa sudah mandi dan makan.” Gumam Alamanda dalam hati dan segera bangkit dari tidurnya. Teringat akan tugas dan tanggung jawabnya membuat Alamanda melupakan tubuhnya yang masih terasa sakit akibat kegiatan enak enaknya yang beronde ronde


Marcel yang merasa tubuh yang dia peluk pergi juga ikut terbangun.


“Sayang kamu di mana?” suara Marcel saat membukakan matanya.


“Pa, sudah malam. Aku harus ke kamar Nyonya Ernest dan harus lihat Charlotte juga apa dia sudah mandi, sudah makan. Lihat jam makan malam sudah lewat.” Ucap Alamanda sambil berganti baju dan merapikan rambut dan wajahnya.


“Okey, aku ikut.” Ucap Marcel lalu ikut bangkit dari tidurnya dan segera merapikan penampilannya. Sepasang pengantin baru itu pun segera keluar dari kamar mereka.


“Sayang aku gendong kamu ya.” Ucap Marcel sambil memeluk pinggang ramping Alamanda.


“Tidak usah Pa, malu dilihat orang. Jalanku juga masih normal kok tidak seperti Mama.” Ucap Alamanda sambil tersenyum. Marcel lalu semakin mempererat rangkulannya pada perut Alamanda dia berharap segera tumbuh yuniornya di sana.


Sesaat mereka berdua sudah sampai di ruang makan. Suasana ruang makan sudah tampak sepi. Dan satu pelayan yang bertugas di ruang makan itu, menoleh ke arah Marcel dan Alamanda.


“Tuan, Nyonya mau makan sekarang di sini atau kami antar ke kamar?” tanya pelayan itu karena sudah tahu mereka berdua yang baru saja datang itu pengantin baru.


“Apa yang lain sudah makan? Apa kamu tahu anakku Charlotte sudah makan?” tanya Alamanda


“Sudah Nyonya, baru saja mereka selesai. Nyonya Ernest mendadak sakit. Sepertinya mereka semua ke kamar Nyonya Ernest. “ jawab Sang pelayan dan membuat Alamanda juga Marcel tampak kaget. Dan dengan segera Marcel dan Alamanda pun membalikkan tubuh dan melangkah untuk keluar dari ruang makan itu.


“Kamu antar makan malam ku dan istriku ke kamar Nyonya Ernest!” perintah Marcel sambil menoleh ke arah pelayan saat sudah sampai pintu ruang makan. Sedang Alamanda sudah lebih dulu keluar dari ruang makan itu dan berjalan dengan cepat menuju ke kamar Nyonya Ernest. Alamanda sangat mengkhawatirkan kesehatan Nyonya Ernest apalagi dia mengira Dokter Willy sudah pulang.