
Keesokan paginya, di Mansion Hanson. Pagi pagi Marcel sudah terbangun. Pertama kali yang dia lakukan adalah mengaktifkan hand phone miliknya. Marcel langsung menghubungi Alamanda.
“Aku harus memastikan agar Alamanda tidak keluar dari kamar Apartemen dulu.” Gumam Marcel dalam hati sambil mengusap usap layar hand phone miliknya untuk mencari kontak nama Ners Alamanda. Dia belum mengganti nama kontak yang terprogram di hand phone nya.
Akan tetapi Marcel kecewa sebab hand phone milik Alamanda masih belum aktif. Marcel pun tidak habis akal dia lalu menghubungi lewat nomor telepon apartemen miliknya dan langsung pada nomor kamar Alamanda.
Alamanda yang baru saja terbangun sangat kaget mendengar dering suara telepon di kamar barunya itu.
“Apa Nyonya Ernest sudah bangun. Apa dia minta diantar jalan jalan di sekitar Apartemen ini...” gumam Alamanda dalam hati lalu segera melangkah menuju ke tempat telepon kamar yang masih berdering.
“Selamat pagi..” ucap Alamanda dengan suara khas orang bangun tidur. Apalagi Alamanda tidak cukup tidur benar benar suara itu terdengar sangat sexie di telinga Marcel.
“Ehmm hmmm... selamat pagi....” suara Marcel, satu telapak tangan Marcel memegang dadanya karena detak jantung lebih cepat.
“Tuan Marcel, ada perlu apa?” tanya Alamanda yang kaget ternyata yang menghubungi bukan Nyonya Ernest tetapi laki laki yang bibirnya terasa masih menempel di pipinya. Satu tangan Alamanda pun mengusap usap pipi mulusnya.
“Ners, jangan keluar dari kamar Apartemen, saya akan menyuruh pelayan apartemen untuk mengirim semua kebutuhan Tuan dan Nyonya Ernest juga kamu. Ingatkan pada Tuan Ernest juga agar tidak keluar dulu dari apartemen. Nanti saya juga akan menghubungi beliau.” Ucap Marcel dengan nada serius.
“Baik Tuan.” Ucap Alamanda dengan sopan.
“Baik lah aku tutup, nanti siang aku akan menjemput Charlotte, dan aku akan ajak dia untuk menemui Ners Alamanda, pasti dia akan senang sekali.” Ucap Marcel selanjutnya dan Alamanda hanya menganggukkan kepalanya yang tidak dilihat oleh Marcel lalu sambungan telepon pun terputus.
Setelah menghubungi Alamanda. Marcel lalu menghubungi Charlotte akan tetapi tablet milik Charlotte masih off sebab Charlotte masih tidur dengan pulas. Marcel pun lalu menghubungi Dokter Willy. Dia menyuruh Dokter Willy datang segera ke Mansion Hanson untuk memeriksa Sang Mama dan memberikan obat yang paling manjur agar Sang Mama cepat sehat dan bisa segera melamar Alamanda.
“Iya Tuan Marcel, saya sudah memberikan obat dan vitamin kualitas nomor satu.” Suara Dokter Willy di balik hand phone milik Marcel.
Dokter Willy di seberang sana tersenyum sebab sekarang dia tahu jika Marcel ada hubungan asmara dengan Alamanda. Dokter Willy pun mendukung sebab Alamanda selama ini dikenal sebagai perempuan yang baik meskipun dari keluarga miskin.
“Dokter cepat mandi dan langsung ke sini. Sarapan di sini saja.” Ucap Marcel lalu dia memutus sambungan telepon nya. Marcel pun segera melangkah menuju ke kamar mandi.
Sementara itu, di Mansion Ernestan. Tuan Sam yang tadi malam tidur di Mansion Karyawan bukan di Mansion utama tidak tahu jika Tuan dan Nyonya Ernest pergi dari Mansion itu.
“Apa perawat itu sudah pergi, kenapa tidak terlihat harusnya jam segini dia sudah mendorong kursi roda Nyonya Ernest. Sejak pagi aku tidak melihat mereka jalan jalan di taman dan di dalam Mansion juga tidak terlihat.” Gumam Sam di dalam hati. Sebab biasanya jika pagi dia melihat Nyonya Ernest bersama sang perawat jalan jalan di taman, dan saat jam makan pagi pun terdengar kursi roda yang didorong menuju ke ruang makan.
“Syukurlah kalau sudah pergi. Tapi aku harus tetap mencari ke mana perawat itu pergi. Meskipun dia sudah tidak ada di sini tetapi kemunculan orang itu sangat membahayakan aku. Siapa Sebenarnya orang itu, kehadiran dirinya sangat mencuri perhatian Tuan dan Nyonya Ernest karena kemiripan nya dengan Nona Debora.” Gumam Tuan Sam dalam hati sambil terus melangkah menuju ke ruang makan khusus karyawan.
Saat dia sudah masuk ke ruang makan dia melihat dua orang suruhan Tuan Ernest yang pernah ke rumah orang tua Alamanda.
“Hmmm aku akan tanya pada mereka tentang informasi apa yang sudah didapat.” Gumam Tuan Sam dalam hati lalu dia setelah mengambil sarapannya berjalan mendekati meja dua orang suruhan Tuan Ernest yang sedang makan.
“Selamat pagi Tuan Sam.” Ucap dua orang suruhan Tuan Ernest itu saat melihat Tuan Sam mendekati meja makan mereka.
“Selamat pagi, tumben kalian ikut makan pagi di sini.” Ucap Tuan Sam sambil menaruh kopi dan piring sarapannya di meja, lalu duduk di kursi dekat mereka.
“Iya Tuan, saya rencana pagi pagi akan menemui Tuan Ernest tetapi ternyata beliau pergi ke rumah sakit ya sudah sama ibu pelayan disuruh makan dulu.” Jawab salah satu dari orang suruhan Tuan Ernest. Dan jawaban itu membuat Tuan Sam kaget sebab dia tidak tahu jika Tuan Ernest pergi ke rumah sakit.
“Siapa yang sakit Tuan atau Nyonya? Maaf saya tidur di Mansion Karyawan baru pagi ini ke sini.” Ucap Tuan Sam.
“Sepertinya Nyonya Ernest, tadi baru saja Tuan Ernest berbicara lewat telepon dengan aku, suaranya biasa biasa saja. Dan menyuruh kami untuk sementara membatalkan tugas kami yang mencari tahu informasi keluarga perawat itu.” Ucap salah satu dari orang suruhan Tuan Ernest.
“Kenapa dibatalkan?” tanya Tuan Sam penasaran
“Tidak tahu, kami hanya menjalankan perintah yang penting kami dibayar.” Ucap mereka berdua.
Selanjutnya tampak Tuan Sam mencondongkan tubuhnya ke arah telinga salah satu orang suruhan Tuan Ernest itu. Tuan Sam membisikkan sesuatu pada orang itu. Dan orang itu pun tampak mengangguk anggukkan kepalanya.
“Okey, nanti aku hubungi kalian.” Ucap Tuan Sam selanjutnya dan dia pun bangkit berdiri dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan itu. Karena kopi dan sarapan paginya pun sudah habis.
Sementara itu Ibu pelayan yang berada di ruang makan itu, yang mencurigai Tuan Sam sejak kasus kunci kamar Alamanda, terus mengamati gerak gerik Tuan Sam.
“Dia berbincang bincang apa dengan dua orang itu. Sepertinya Tuan Sam membisikkan sesuatu.” Gumam Ibu pelayan dalam hati. Dia yang penasaran lalu melangkah menuju ke meja dua orang suruhan Tuan Ernest itu.