Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 105.


“Sabar Ma..” ucap Tuan Ernest yang segera bangkit berdiri dan mendekati kursi roda Sang isteri. Tuan Ernest memeluk tubuh sang istri dengan sangat erat.


“Aku sudah tidak sabar Pa, aku ingin memeluk Alamanda cucuku, aku ingin membelai rambutnya aku ingin tidur dengan dirinya memeluk hingga pagi tiba hiks... hiks...” ucap Nyonya Ernest sambil menangis tersedu sedu di dalam pelukan sang suami. Tuan Ernest hanya mampu mengusap usap punggung Sang istri karena sudah kehabisan kata kata untuk memberi tahu pada Sang istri agar sedikit bersabar.


“Tuan, bagaimana jika memakai alasan Nyonya Ernest rindu dengan cucunya dan ingin Ners Alamanda sejenak menggantikan untuk mengobati rasa rindu itu.” Ucap Dokter Willy dengan nada pelan namun sangat serius.


“Iya.. Aku setuju itu, pura pura aku rindu pada cucuku yang entah di mana. Cepat Dokter panggil Alamanda ke sini.” Ucap Nyonya Ernest dengan semangat dia setuju dengan ide Dokter Willy.


“Dan nanti biar Nyonya Ernest yang mengambil sedikit sample rambut Ners Alamanda. Kalau saya yang mengambil pasti dia akan bertanya tanya.” Ucap Dokter Willy lagi.


“Benar, nanti saat aku tidur dengan dirinya biar aku ambil sedikit rambutnya. Meskipun aku yakin tidak usah dengan uji DNA sudah bisa aku pastikan dia adalah cucuku. Tapi ini untuk menguatkan bukti pada Alamanda dan keluarga Bapak Irawan.” Ucap Nyonya Ernest dengan mata berbinar binar membayangkan akan segera memeluk tubuh Alamanda cucu yang dirindukannya.


“Cepat Dok, telepon atau datangi Alamanda katanya tensi saya naik karena saya merindukan cucu.” Ucap Nyonya Ernest dengan nada tinggi, emosinya kembali tidak stabil.


“Iya.. iya..” ucap Dokter Willy lalu dia mengambil hand phone dari saku bajunya. Dia menghubungi Alamanda berkali kali ada nada sambung akan tetapi tidak diterima. Dokter Willy mengulangi berkali kali hasilnya sama saja.


Dokter Willy lalu mencoba menghubungi nomor hand phone milik Marcel, malah tidak ada nada sambung. Hand phone milik Marcel tidak aktif.


“Kamu datangi kamarnya sana!” perintah Tuan Ernest.


“Tadi sudah aku katakan agar sore hari dia datang ke kamarku.” Ucap Tuan Ernest lagi. Dan Dokter Willy pun segera melangkah meninggalkan kamar Tuan dan Nyonya Ernest untuk menjalankan perintah Tuan Ernest, memanggil Alamanda.


Dokter Willy melangkah dengan cepat. Sesaat dia melihat sosok Jasmine sedang berjalan menggendong tubuh mungil Charlotte. Tampak mereka berdua dari kamar pengantin.


“Tidak tahu aku juga mau ambil baju tapi kamar dikunci aku panggil panggil ga ada yang keluar.” Ucap Charlotte dengan lantang


“Kata Tante Jasmine mungkin Mama dan Papa tidur, kita tidak boleh ganggu biar aku cepat punya adik.” Ucap Charlotte lagi sambil tersenyum lebar lalu dia terburu buru menutup mulutnya dengan telapak tangan mungilnya.


“Pak Dokter jangan ganggu ya... Ayo kita segera pergi. Aku mau beli baju di store hotel saja.” Ucap Charlotte dan mengajak Jasmine segera melangkah menuju toko serba ada yang ada di lokasi hotel.


“Hmmm benar juga yang dikatakan Jasmine pada Charlotte. Pengantin baru pasti tidak mau diganggu. Tapi bagaimana dengan tensi Nyonya Ernest yang naik tinggi. “ gumam Dokter Willy sambil memijat mijat pelipisnya.


Sementara itu di Mansion Ernestan. Eveline sudah tiba di Mansion Ernestan. Ibu pelayan senior menerima kedatangan Eveline dengan senang hati. Eveline menunjukkan bukti chat Tuan Ernest yang menyuruhnya tinggal di Mansion Ernestan. Eveline sudah dijamu dan diajak keliling Mansion.


“Nona belum pernah ke sini ya?” tanya Ibu pelayan saat berjalan dan akan menunjukkan pada Eveline kamar yang akan ditempati oleh Eveline.


“Belum Bu, saya tinggal di New York dan sekarang ada kerjaan di Indonesia maka saya numpang di Mansion Opa.. sebenarnya Opa Ernest bukan Opa kandung saya, Opa kandung saya yang saudara dengan Opa Ernest.. hah begitu pokoknya.. jangan pusing ya..” ucap Eveline sambil tersenyum menoleh ke arah Ibu pelayan yang berjalan di sampingnya.


“Tidak Non, cucu keponakan ya.. ah entah apa namanya he.. he... “ ucap Ibu pelayan sambil tertawa kecil.


“Saya senang Non, kalau ada saudara Tuan dan Nyonya Ernest datang. Bisa menghibur juga hati Tuan dan Nyonya Ernest. “ ucap Ibu pelayan dan mereka terus melangkah.


Saat mereka berdua sudah berada di dekat kamar yang akan di tempati oleh Eveline. Tampak sosok Tuan Sam dengan wajah kakunya sudah berdiri dengan tegap di depan pintu kamar.


“Hmmm tidak semudah itu kamu bisa tinggal di Mansion ini.” Gumam Tuan Sam dalam hati dan tampak salah satu sudut bibirnya terangkat sedikit.