
Saat masuk ke dalam Mansion tampak sosok perawat Nyonya Hanson sedang berjalan keluar dari kamar Nyonya Hanson sambil membawa tas yang berisi perlengkapan pribadi perawat itu.
“Tuan....” teriak sang perawat sambil berjalan lebih cepat mendekati Marcel.
Marcel yang juga melangkah dengan cepat bermaksud untuk segera menuju ke lantai atas itu, menoleh ke arah suara dan sosok perawat Nyonya Hanson yang berjalan cepat ke arah dirinya.
“Tuan, kontrak kerja saya sudah selesai. Saya mau pamit pulang.” Ucap Sang perawat itu saat sudah dekat dengan sosok Marcel dia memandangi wajah dan sosok Marcel penuh dengan kekaguman dan berharap mendapat tambahan bonus. Sebab dia mendengar dari cerita pelayan di Mansion jika Alamanda mendapat banyak hadiah dari Tuan Marcel dan Nona Charlotte. Sementara dirinya tidak mendapat hadiah dari Nyonya Hanson maka dia mengharapkan dapat hadiah dari Tuan Marcel.
“Okey, terima kasih banyak atas kerja samanya.” Ucap Marcel
“Sama sama Tuan tapi itu...” ucap perawat Nyonya Hanson sambil senyum senyum.
“Itu apa?” tanya Marcel sambil mengernyitkan dahinya.
“Itu Tuan...” ucap Sang perawat itu sambil tersenyum meringis
“Aku tidak punya banyak waktu dan bukan paranormal yang bisa menebak apa yang ada di dalam isi kepalamu.” Ucap Marcel dengan tidak sabar.
“Kewajiban saya sudah saya kerjakan Tuan, terus saya berharap mendapatkan hak yang lebih...” ucap Sang perawat itu masih dengan bibir yang senyam senyum.
“Hmmm bukan nya aku sudah mentransfer gaji kamu full saat kontrak kerja dimulai?” ucap Marcel yang tidak tahu maksud sang perawat yang menginginkan hadiah hadiah seperti Alamanda.
“Itu Tuan... Hmmm maksud saya bonus, hadiah...” ucap perawat itu lagi
“Ooowhhh.. ya sudah nanti aku beri lewat Dokter Willy.. Maaf aku sedang tergesa gesa.” Ucap Marcel lalu dia segera melangkah meninggalkan perawat itu.
“Iya Tuan terima kasih banyak. Saya pamit Tuan..” suara perawat itu lebih keras agar Marcel yang sudah melangkah mendengar. Dia pun melangkah menuju ke pintu utama Mansion dengan senyum lebarnya.
“Hmm memang sungguh beruntung si Alamanda, dia akan mendapatkan suami kaya dan keren macam Tuan Marcel, kenapa Dokter Willy menyuruh aku kerja di sini baru sekarang.” Ucap perawat itu sambil ke luar dari pintu utama Mansion.
Sementara itu Marcel tidak jadi langsung menuju ke lantai dua ke kamarnya. Dia melangkah menuju ke kamar Sang Mama.
Marcel langsung membuka pintu kamar Nyonya Hanson yang tidak dikunci itu. Saat pintu dibuka tampak sosok Nyonya Hanson sedang berjalan mondar mandir di dalam kamar.
“Ma...” sapa Marcel sambil melangkah masuk.
“Eh kamu Cel, tumben pulang cepat.” Ucap Nyonya Hanson sambil menoleh ke arah pintu.
“Iya Ma, aku akan menemui Tuan Ernest dan menjemput Charlotte sore ini.” Ucap Marcel sambil terus melangkah dan mendekati sang Mama lalu mencium pipi Sang Mama.
“Hmmm juga mau belanja untuk keperluan lamaran Alamanda. Apa Mama punya saran apa yang harus aku beli..” ucap Marcel selanjutnya sambil menatap Sang Mama.
“Ma, meskipun Alamanda bukan dari keluarga terpandang tetapi kita juga harus menghormati mereka. Mereka juga akan menjadi keluarga kita Ma.” Ucap Marcel dengan nada serius sambil masih menatap Sang Mama.
“Ehhhhh..” gumam Nyonya Hanson sambil mencibirkan bibirnya. Nyonya Hanson memang belum bisa menerima kenyataan jika harus memiliki menantu dari keluarga sederhana akan tetapi dia terpaksa harus mau menuruti keinginan Marcel agar kesalahan di masa lalunya dimaafkan oleh Marcel.
“Ma, setiap orang itu di mata Allah adalah sama yang membedakan hanya amalan dan perbuatannya Ma. Kita sebagai sesama manusia yang juga punya banyak dosa tidak layak untuk menilai sesamanya....” ucap Marcel dengan nada serius namun belum berlanjut sebab sudah dipotong oleh Sang Mama.
“Haiyahhh kamu kok malah berkotbah pada Mama. Kamu mau nyindir Mama kalau Mama sudah punya dosa besar gitu.. kalau Mama ingat kesalahan Mama, Mama sakit lagi kamu tidak jadi melamar perawat itu..” saut Nyonya Hanson lalu melangkah meninggalkan Marcel yang masih berdiri, Nyonya Hanson melangkah menuju ke tempat tidur nya.
“Ma, jangan sakit lagi Ma.. aku tidak berkotbah hanya meneruskan apa yang sudah pernah aku dengar..” ucap Marcel sambil tersenyum dan melangkah mengikuti Sang Mama lalu merangkul bahu Nyonya Hanson, dia tidak ingin Sang Mama sakit lagi.
“Ya sudah sana kamu segera jemput Charlotte.” Ucap Nyonya Hanson selanjutnya yang juga khawatir jika Besan perempuannya meminta hak asuh Charlotte. Marcel pun mencium pipi Sang Mama lalu dia segera melangkah meninggalkan kamar Nyonya Hanson.
Marcel segera mandi setelah masuk ke dalam kamarnya. Beberapa menit kemudian Marcel sudah keluar dari kamar mandi dengan tubuh segarnya.
Sesaat hand phone miliknya berdering. Marcel yang masih hanya terlilit handuk di bagian tubuh bawahnya itu segera melangkah menuju ke nakas tempat hand phone miliknya berada.
“Charlotte. “ gumam Marcel lalu menggeser tombol hijau.
“Sayang ini Papa sudah mandi, apa kamu sudah akan pulang?” ucap Marcel saat sudah menggeser tombol hijau. Tampak wajah imut Charlotte di layar hand phone miliknya.
“Papa, kata Oma menginap di villa besok pagi dari villa langsung berangkat ke sekolah.” Suara Charlotte ada nada kecewa di sana.
“Papa besok jemput aku di sekolah saja sebelum Oma menjemput aku.” Ucap Charlotte selanjutnya memberi saran pada Sang Papa, sebab dia juga ingin bertemu dengan sang Papa dan Ners Alamanda.
“Ooh.. baiklah sayang aku jemput kamu besok di sekolah.” Ucap Marcel dan berusaha untuk bersabar.
“Iya Pa..., salam buat Ners Alamanda ya Pa... I miss you Pa...” ucap Charlotte yang ekspresi wajahnya juga tampak sedih dan kecewa karena gagal lagi bertemu dengan Papa dan Ners Alamanda.
“Iya Sayang, miss you too.. “ ucap Marcel
“Mmmuaaachhhhh.” Suara mereka berdua saling memberi cium jauh.
Setelah menaruh lagi hand phone miliknya, Marcel segera berpakaian, tidak lupa dia menyemprot parfum pada seluruh tubuhnya. Meskipun kecewa tidak bisa menjemput Charlotte malam ini, akan tetapi masih ada senyuman di bibir Marcel sebab dia akan bertemu dengan sang pujaan hati.
Beberapa kali Marcel melihat penampilan dirinya di depan cermin. Dan setelah yakin sudah okey, dia pun segera melangkah meninggalkan kamarnya untuk menuju ke mobilnya, tidak lupa dia pamit terlebih dulu pada Sang Mama.
Marcel menjalankan mobil dengan kecepatan sedang..