Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 59.


Marcel dan Alamanda yang berada di ruangan itu sejenak hanya diam. Marcel yang mendengar kalimat yang diucapkan oleh Nyonya Ernest semakin terpesona dan teramat sayang pada Alamanda.


“Benar kamu tidak menginginkan barang apa gitu..?” tanya Marcel dengan pelan dan nada lembut masih kurang percaya jika calon istrinya itu tidak menginginkan suatu barang spesial dalam acara lamaran nanti.


“Tidak Tuan, yang saya inginkan cinta Tuan yang tulus. Tidak semata mata karena Nona Charlotte.” Ucap Alamanda akhirnya mengeluarkan apa yang selama ini dia pikirkan. Marcel spontan menatap Alamanda dengan tatapan yang sangat serius.


“Al, memang aku mencari istri untuk menjadi Mama anakku Charlotte. Tapi aku juga harus mencintainya, kalau hanya untuk Charlotte dan aku tidak mencintainya itu apa bedanya dengan Nanny pengasuh Charlotte.” Ucap Marcel sambil terus menatap pada wajah Alamanda. Alamanda pun menatap wajah Marcel, mata Alamanda berkedip kedip mendengarkan dengan serius apa yang diucapkan oleh Marcel. Alamanda pun menatap mata Marcel untuk mencari kejujuran dengan apa yang diucapkan oleh calon suaminya itu.


“Aku sudah jatuh hati pada kamu saat melihat kamu dengan sabar merawat Charlotte, meskipun pada awalnya Charlotte menolak kehadiran kamu, tetapi kamu tidak menyerah dan itu demi kesembuhan Charlotte dan tanggung jawab kamu demi pekerjaan kamu.” Ucap Marcel selanjutnya dan masih terus menatap wajah Alamanda.


“Karena aku sudah punya Charlotte maka aku tidak boleh egois. Aku memang mencari istri yang juga harus bisa menerima Charlotte anakku dengan tulus. Nyonya Wijaya sekarang juga mulai melindungi Charlotte ingin mendapatkan hak asuh nya karena mendengar aku akan menikah. Dia takut jika Charlotte tidak mendapatkan perhatian setelah aku menikah lagi.” Ucap Marcel selanjutnya masih dengan nada serius dan kini setelah mengucapkan kalimat kalimat terakhirnya ekspresi wajah berubah menjadi sedih. Alamanda pun juga ekspresi wajahnya tampak kaget dan sedih.


“Tuan, saya sangat menyayangi Nona Charlotte meskipun saya tidak menjadi istri Tuan. Apalagi jika saya sudah resmi menjadi Mamanya, itu sudah harus menjadi kewajiban saya Tuan untuk mencintai Nona Charlotte mendidik dan membesarkan Nona Charlotte seperti anak kandung saya.” Ucap Alamanda dengan nada serius.


“Jika orang tua atau keluarga Nyonya Patricia mengkhawatirkan hal itu, saya pun bisa memahaminya. Karena memang banyak kejadian Mama tiri yang tidak mencintai anak tirinya.” Ucap Alamanda masih dengan nada serius.


“Usul saya Tuan, buat saja surat perjanjian saya sanggup untuk disumpah kalau saya akan mencintai, merawat dan mendidik Nona Charlotte sama dengan anak kandung saya, agar orang tua dan keluarga Nyonya Patricia percaya dan tidak mengkhawatirkan nya.” Ucap Alamanda masih menatap wajah Marcel dengan nada dan ekspresi yang serius. Marcel pun juga mendengarkan dengan serius sambil mengangguk anggukkan kepalanya.


“Okey okey, aku setuju dengan usul kamu itu. Semoga Nyonya Wijaya mau menerimanya dan memberikan hak asuh Charlotte pada kita.” Ucap Marcel sambil mengangguk anggukkan kepalanya dan kini tampak ekspresi wajahnya lebih rileks.


“Kalau begitu aku pamit dulu, masih banyak pekerjaan di Hanson Co. Nanti aku beri kabar buat kamu kapan aku akan melamar kamu.” Ucap Marcel selanjutnya kini bibirnya sudah bisa tersenyum.


“Baik Tuan..” ucap Alamanda.


“Mulai sekarang jangan panggil aku Tuan..” ucap Marcel sambil menoleh ke arah kamar tidur yang ditempati oleh Tuan dan Nyonya Ernest, dia khawatir jika diintip oleh Bos Tua. Sedangkan Alamanda hanya tersenyum saja dia tidak tahu harus memanggil siapa.


“Panggil aku Sayang.” bisik Marcel sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Alamanda.


“Hmmm Kak saja..” ucap Alamanda lirih sambil tersenyum sebab lidahnya pasti akan sangat kaku jika tiba tiba dari kata Tuan berubah menjadi Sayang.


Saat mereka berdua sudah berada di depan pintu Apartemen.


“Anak muda!” teriak Tuan Ernest sambil membuka pintu kamar tidur dan melangkah dengan kaki lebarnya mendekati mereka berdua. Meskipun sudah tua akan tetapi langkah kaki Tuan Ernest masih gesit. Meskipun anak dan menantunya yang hamil tua meninggal akibat kecelakaan akan tetapi Tuan Ernest masih bersemangat untuk hidup dan menjalankan roda perusahaan sebab beliau menjadi donatur tetap panti asuhan dan itu yang menjadikan beliau tetap hidup dalam semangat.


Marcel dan Alamanda pun menoleh ke arah Tuan Ernest.


“Jangan lupa lagi, hubungi detektif swasta teman kamu itu. Dan suruh dia untuk segera menuju ke Mansion ku.” Ucap Tuan Ernest yang kini sudah berdiri di dekat mereka berdua.


“Baik Tuan Ernest, nanti akan saya hubungi dia lagi. Sepertinya anaknya belum juga lahir.” Ucap Marcel menduga duga sebab dia kecewa tidak bisa mencium Alamanda lagi.


“Ah sudah satu jam lebih mungkin sudah lahir, coba kamu telepon sekarang.” Ucap Tuan Ernest yang sudah tidak sabar agar pelaku kejahatan di dalam Mansion nya segera tertangkap.


Marcel pun segera mengambil hand phone dari saku jasnya agar orang tua di dekatnya itu tidak kecewa. Marcel segera mengusap usap layar hand phone miliknya untuk menghubungi Bang Bule Vincent akan tetapi kini tidak bisa terhubung hand phone milik Bang Bule Vincent sudah tidak aktif lagi.


“Maaf Tuan, hand phone milik teman saya sudah tidak aktif lagi. Mungkin sekarang dia sedang mendampingi istrinya melahirkan. “ ucap Marcel dengan nada sedikit kecewa karena belum bisa menolong orang tua yang berada di depannya itu.


“Kirim nomor hand phone milik teman kamu itu kepadaku.” Ucap Tuan Ernest selanjutnya dan Marcel pun menuruti keinginan orang tua itu. Dan setelahnya Marcel segera pamit pada Tuan Ernestan dan Alamanda karena dia harus segera kembali ke Hanson Co.


Sementara itu di lain tempat. Charlotte yang masih berada di villa setelah makan siang dia menuju ke kamarnya dan mulai sibuk dengan tabletnya. Dia mulai membaca data data nomor hand phone milik orang orang suruhan Tuan Ernest yang sudah diretas nya.


“Non, ingat ya jangan lama lama habis itu bobok siang.” Ucap Sang pengasuh yang sudah dipesan oleh Nyonya Wijaya agar mengingatkan jadwal Charlotte.


“Nanny itu bagaimana sih aku kan baru saja pegang tablet ku.” Ucap Charlotte tanpa menoleh ke arah Sang pengasuh dia masih menatap layar tabletnya.


“Hmmm mereka sangat ingin tahu pada keluarga Ners Alamanda.” Gumam Charlotte dalam hati sambil jari jarinya sibuk mengusap usap layar tablet