
Eveline terus memapah Tuan Sam menuju ke mobil yang terparkir. Saat sudah di dekat pintu mobil Eveline segera membuka pintu mobil dan memasukkan tubuh Tuan Sam yang setengah limbung ke dalam mobil dan dia taruh di jok belakang kemudi.
“Heiiii kamu mau ke mana? Ayo kita bersenang senang di sini ha... ha... ha... kamu ternyata gadis yang nakal ya ha... ha... ha.... “ suara Tuan Sam sambil menarik tangan Eveline yang masih berdiri di luar mobil dan Eveline akan menutup pintu mobil itu.
“Jangan di sini Tuan, kita bermain main di kamar hotel saja.” Bisik Eveline sambil melepaskan tangan Tuan Sam yang memegang pergelangan tangannya dengan erat. Eveline pun lalu mendorong tubuh Tuan Sam dan segera menutup pintu mobil itu. Terdengar suara Tuan Sam tertawa terbahak bahak.
“Ha... ha... ha... ha...”
Eveline segera membuka pintu depan mobil miliknya dia segera menutup tubuhnya dengan jaket dan masuk ke dalam mobil lalu segera melajukan mobil nya itu keluar dari lokasi club malam itu.
“Kenapa kamu tutupi tubuhmu yang sexie sintal itu hah? Ha.... ha... ha... aku sudah tidak sabar honey.. jangan cari hotel jauh jauh.. di sekitar club ini ada banyak hotel bagus ha... ha.... ha... ha....” suara Tuan Sam sambil masih tertawa terbahak bahak karena pengaruh red wine pemberian dari Eveline.
Eveline tidak menghiraukan ucapan Tuan Sam dia terus melajukan mobilnya.
“Apa kamu mau kita bermain main di Mansion, honey.. meskipun CCTV sudah aku matikan .. Tapi satpam akan tahu kita dan melaporkan pada Tuan Ernest hah... orang tua itu tidak suka bersenang senang macam kita ini ha... ha... ha... ha...” ucap Tuan Sam dan dia berusaha untuk memajukan tubuhnya dia sudah tidak sabar ingin mencumbui Eveline.
“Hmmm tanpa sadar dia sudah mengakui yang mematikan CCTV.” Gumam Eveline dalam hati dan terus fokus pada laju kemudinya. Sesaat dia melihat dari kaca spion tubuh Tuan Sam dan semakin mendekat dirinya. Eveline terus memasang mode waspada. Resah nafas beraroma alkohol dari Tuan Sam semakin terdengar tidak teratur di belakangnya.
Tangan Tuan Sam pun mulai menyentuh rambut panjang Eveline dan dia menciumi ujung rambut Eveline dengan penuh nafsu. Dan di saat wajah Tuan Sam semakin mendekat pada lengkung belakang Eveline.
PLAAKK
Tangan kiri Eveline melepas pegangan kemudi dan menampar dengan keras wajah Tuan Sam.
“Kurang ajar kamu!” teriak Tuan Sam sambil memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan tangan kiri Eveline yang hanya asal kena saja.
“Tuan jangan mengganggu orang yang sedang mengemudikan mobil. Bahaya!” ucap Eveline sambil terus melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
“Sabar Tuan, aku punya tempat yang sangat istimewa.” Ucap Eveline sambil terus memacu mobilnya.
Akan tetapi tiba tiba, Tuan Sam memasukkan tangannya pada saku jasnya dan satu senjata api dia keluarkan dari saku jas itu.
“Aku habisi kamu kalau kamu tidak segera menghentikan mobil pada suatu hotel atau pada suatu tempat yang bisa untuk melepaskan hasrat ku.” Ancam Tuan Sam sambil menempelkan ujung senjata apinya di pelipis kiri Eveline.
“Okey Tuan.. di depan ada hotel saya akan menuju ke sana.” Ucap Eveline sambil mengangguk dan terus memacu mobilnya. Sedangkan Tuan Sam masih terus menempelkan ujung senjata apinya itu pada pelipis kiri Eveline.
“Sial, dia membawa senjata api dan masih ada kesadaran bagus pada otaknya.” Gumam Eveline dalam hati sambil berpikir pikir untuk mengubah rencana awalnya. Tadi dia berencana akan langsung menuju ke markasnya yang tidak lain adalah rumah Bang Bule Vincent.
Dan sesaat kemudian Eveline mulai mengurangi laju kemudi mobilnya dan selanjutnya menepi lalu membelok memasuki halaman sebuah hotel
“Hmmm kamu ternyata anak manis yang menurut.. ha... ha....” Ucap Tuan Sam sambil tertawa senang dan masih terus menempelkan ujung senjata api pada pelipis kiri Eveline.
Sementara itu di hotel bintang lima tepatnya di kamar Nyonya Ernest. Nyonya Ernest belum tertidur.
“Apa Alamanda sudah tidur dengan nyenyak ya?” Gumam Nyonya Ernest di dalam hati sambil menatap wajah cantik cucu kandungnya itu.
“Oooo untuk mengecek aku cium saja pipi dia, kalau dia terbangun dan kaget aku akan bilang aku sangat rindu dengan cucuku dan jika tidak terbangun berarti dia sudah tidur pulas dan akan cium sepuasnya cucuku satu satunya yang aku kira sudah meninggal.” Gumam Nyonya Ernest di dalam hati.
Nyonya Ernest pun pelan pelan mengangkat kepalanya dan dia dekatkan wajahnya pada pipi Alamanda, dia cium pipi mulus Alamanda dengan penuh rasa kasih sayang.
Akan tetapi tiba tiba Nyonya Ernest dikagetkan bukan karena Alamanda yang terbangun akan tetapi oleh suara pintu kamar yang terbuka secara pelan pelan. Nyonya Ernest pun menghentikan ciumannya pada pipi Alamanda dan menoleh ke arah pintu. Betapa kagetnya dia karena yang dia lihat bukan sosok suami nya. Sosok yang berdiri di depan pintu itu pun tidak kalah kagetnya.