
Eveline pun segera mengirim empat data perawat yang memakai nama Rita itu ke nomor hand phone milik Tuan Ernest. Dan setelahnya Eveline segera masuk ke ruang administrasi yang menyimpan file file lama.
Sedangkan di hotel berbintang tempat Tuan dan Nyonya Ernest menginap. Tuan Ernest sedikit lega sebab Eveline sudah mendapatkan data data tentang suster Rita, tinggal memilih saja.
“Bagaimana Pa, apa sudah ditemukan alamat suster Rita itu. Aku sudah tidak sabar untuk menemui dirinya dan menanyakan bagaimana dia bisa mendapatkan kalung itu. Dan kenapa diberikan pada Nenek Oji.” Tanya Nyonya Ernest sambil menatap suaminya.
“Sudah tapi ada empat orang yang punya nama Rita yang usia nya seperti yang dimaksud Nenek Oji. Biar dia pilih mana yang dia maksud.” Ucap Tuan Ernest lalu dia melangkah menuju ke pesawat telepon untuk menghubungi nomor kamar yang ditempati oleh Nenek Oji agar segera datang ke kamarnya.
Sementara itu Nenek Oji di dalam kamarnya masih ngedumel karena kasus jamu yang salah minum. Dia di dalam kamar sendirian sebab Iqbal tetap masuk sekolah dan berangkat dari hotel.
“Apa aku pulang sebentar dan aku buatkan jamu lagi buat cucu mantu ku Tuan Marcel yang terhormat ya.. Alamanda harus cepat hamil agar Tuan Marcel tidak berpaling. Aku yakin jika Alamanda tidak segera hamil pasti Nyonya Hanson akan ribut dan menyuruh Marcel cari istri lagi.” Gumam Nenek Oji lalu dia melangkah menuju ke pintu kamar.
“Benar, aku pulang saja sebentar aku buat jamu lagi, mumpung masih pagi pasar belum tutup.” Gumam Nenek Oji yang terus melangkah.
“Aku pamit ke Kakek dulu, dia ngadem di kamar apa sedang di ruang fitness ya.” Gumam Nenek Oji sambil memutar handel pintu sebab tadi Kakek Oji punya rencana mau lihat ruang fitnes dia ingin mencoba treadmil yang bisa digunakan secara gratis oleh tamu hotel, sebab di kampung nya ada tempat fitness yang harus bayar mahal.
Saat pintu sudah terbuka, Nenek Oji terkejut karena mendengar suara dering telepon yang ada di dalam kamarnya itu.
“Hah? Siapa yang telepon, aku tidak membuat kesalahan. Air sudah aku matikan, lampu juga sudah, televisi sudah, AC apalagi Iqbal aku larang pakai.. Apa petugas hotel melihat aku dari CCTV kalau aku akan pulang...” gumam Nenek Oji lalu dia melangkah menuju ke meja tempat pesawat telepon berdering.
“Hallo semua sudah saya matikan...” ucap Nenek Oji yang dengan percaya diri mengira pegawai hotel yang menelepon dirinya.
“Apa yang sudah Nenek matikan?” suara Tuan Ernest di balik ganggang pesawat telepon.
“Ya kran air, lampu, televisi, aku mau pulang sebentar saja...” ucap Nenek Oji yang masih tidak mengenal suara Tuan Ernest di balik ganggang pesawat telepon.
“Nek, sekarang juga ke kamar ku. Eveline sudah menemukan data suster Rita, tapi ada empat nama suster Rita sekarang nenek pilih yang mana yang memberikan kalung dan liontin itu.” Suara Tuan Ernestan lalu ...
KLEK
“Owalah ternyata Tuan Ernest aku kira pegawai hotel.” Ucap Nenek Oji lalu dia segera melangkah meninggalkan kamar nya dan menuju ke kamar Tuan dan Nyonya Ernest.
Sesaat kemudian Nenek Oji sudah berada di dalam kamar Tuan dan Nyonya Ernest. Tuan Ernest sudah menunjukkan foto foto yang dia dapat dari Eveline.
“Ini Tuan... Saya yakin ini Suster Rita yang membantu kelahiran Alamanda.” Ucap Nenek Oji dengan senyum lebar sambil memilih salah satu foto.
“Nenek yakin itu?” tanya Nyonya Ernest.
“Yakin, seyakin yakinnya Nyah, saya ingat ada tahi lalat di hidungnya.. bener ini Nyah... siapa nama lengkap suster Rita.” Ucap Nenek Oji sambil masih mengamati foto suster Rita.
“Rita Nuraini, ya sudah biar Eveline segera menemui dirinya dan segera membawanya ke sini.” Ucap Tuan Ernest dan dia pun akan segera menghubungi Eveline.
Sedangkan Eveline yang masih berada di rumah sakit tampak sedang berbicara serius dengan pegawai rumah sakit.
“Tolong kami sangat membutuhkan data data itu.” Ucap Eveline dengan nada permohonan.
“Maaf Nona, dulu Tuan Ernestan sudah setuju kasus itu ditutup. Kami tidak bisa memberikan data itu. Ini data data sudah terkunci.” Ucap pegawai rumah sakit itu.
“Tapi sekarang Tuan Ernest ingin membuka kasus itu. Ada surat kesepakatan kerja antara Tuan Ernest dengan organisasi kami.” Ucap Eveline dengan nada serius.
“Kalau begitu silakan Nona menemui pimpinan rumah sakit.” Ucap pegawai rumah sakit itu.
“Baiklah.” Ucap Eveline lalu dia bangkit berdiri dan melangkah keluar dari ruangan itu. Saat dia sudah keluar dari pintu, hand phone miliknya yang berada di dalam tasnya berdering lagi akan tetapi tidak lama namun selanjutnya terdengar suara notifikasi pesan masuk.
Eveline yang sudah mengambil hand phone dari dalam tasnya itu segera membuka pesan chat yang masuk.
“Hmm aku harus menemui suster Rita lebih dulu agar Tuan dan Nyonya Ernest lega hatinya. Baiklah aku buat janjian dulu saja dengan pimpinan rumah sakit ini.” Gumam Eveline dalam hati. Setelah membaca pesan chat dari Tuan Ernestan.