
“Hmmm bagaimana dengan istriku, pasti akan kaget.” Ucap Tuan Ernestan saat sudah mendengar bisikan dari Marcel.
“Hubungi Dokter Willy sekarang, suruh ke sini sekarang juga.” Ucap Marcel yang kini sudah duduk dengan posisi normal tidak lagi berdiri mendekatkan wajahnya di telinga Tuan Ernest.
“Okey.” Ucap Tuan Ernestan lalu dia mengangkat ganggang teleponnya dan menyuruh Dokter Willy segera datang ke Mansion Ernestan.
“Dengan datangnya Dokter Willy di Mansion ini biar orang orang di dalam Mansion ini juga mengira, kita akan ke rumah sakit karena kesehatan Nyonya Ernest menurun.” Ucap Marcel selanjutnya, sebab dia pun menduga pelaku yang mengancam Alamanda dan mematikan CCTV adalah orang dalam Mansion Ernestan.
“Okey, okey kalau begitu nanti aku akan bilang pada mereka semua kita akan ke rumah sakit.” Ucap Tuan Ernest selanjutnya.
“Baiklah Tuan, kami akan bersiap siap. Silahkan Tuan menunggu di sini atau di ruang tamu.” Ucap Tuan Ernest sambil bangkit berdiri sebab Dokter Willy sudah on the way menuju ke Mansion Ernestan.
“Tuan apa boleh saya menemui Ners Alamanda.” Ucap Marcel yang tiba tiba wajahnya tampak malu malu bagaimana pun dia sudah memendam rindu pada Alamanda apalagi mendengar Sang kekasih hati sedang dalam bahaya dia begitu sangat ingin melihatnya.
Tuan Ernestan yang sudah berpengalaman menangkap ekspresi wajah Marcel. Dan juga begitu khawatirnya Marcel pada Alamanda termasuk begitu semangatnya untuk membatalkan kontrak kerja Alamanda.
“Maaf Tuan, apa ada Ners Alamanda sangat spesial buat Anda?” tanya Tuan Ernest sambil menatap tajam wajah Marcel.
“Ehem... ehem...” tiba tiba tenggorokan Marcel terasa gatal dan dia berdehem dehem.
“Tidak usah Anda jawab Bos Muda, saya sudah tahu jawabannya. Okey mari ikut saya.” Ucap Tuan Ernest selanjutnya. Dan mereka berdua pun melangkah meninggalkan ruang kerja Tuan Ernestan dan pengawal Marcel selalu mengikuti langkah kaki ke mana Marcel pergi. Sebab sang pengawal sudah diberi tahu oleh Marcel kalau ada ancaman pembunuhan pada Ners Alamanda.
“Itu kamar Ners Alamanda, kamu ketuk saja.” Ucap Tuan Ernest saat sudah sampai di depan kamarnya sambil menunjukkan kamar Alamanda yang berada di samping kamarnya. Marcel pun melangkah menuju ke pintu kamar Alamanda sedangkan Tuan Ernest melangkah masuk ke dalam kamarnya.
TOK TOK TOK
Suara ketukan pintu kamar Alamanda oleh jari jari tangan kekar Marcel. Jantung Marcel berdebar debar, kali ini bukan karena berita ancaman pembunuhan akan tetapi berdebar debar karena akan bertemu Alamanda. Namun pintu tetap tertutup rapat.
TOK TOK TOK
Marcel masih mengetuk ngetuk daun pintu itu lagi.
Sementara Alamanda yang berada di dalam kamar tidak berani membuka pintu itu. Dia teringat akan pesan ibu pelayan dan juga akan kertas ancaman pada dirinya. Sejak tadi Alamanda hanya menyibukkan diri dengan melantunkan doa doa, memohon perlindungan dari Allah dan untuk mendapatkan ketenangan hati.
TOK TOK TOK
TOK TOK TOK
“Masuk.” Suara Tuan Ernestan dari dalam. Marcel pun membuka pintu kamar Tuan Ernestan tampak Tuan Ernest sedang sibuk mengatur pakaian pakaian di dalam sebuah koper besar. Tidak menoleh ke arah pintu. Karena tidak mendengar suara langkah kaki Tuan Ernest menoleh ke arah pintu. Sedangkan Nyonya Ernestan masih terbaring dengan nada terpejam dia sudah diberi tahu oleh suami jika malam ini harus keluar dari Mansion karena dia tidak mau kejadian dua puluh dua tahun silam terulang lagi.
“Ooo aku kira Dokter Willy sudah datang. Ada apa?” ucap Tuan Ernest.
“Pintu Ners Alamanda tidak terbuka.” Jawab Marcel yang masih berdiri di depan pintu.
“Ooo, Ma telepon Ners Alamanda suruh dia membuka pintu.” Ucap Tuan Ernestan dan Nyonya Ernest pun masih dengan berbaring mengangkat ganggang telepon yang tergapai oleh tangannya dan memencet satu tuts yang sudah diprogram itu nomor kamar Alamanda.
“Buka pintu jangan takut.” Ucap Nyonya Ernest yang suaranya terdengar bagai habis menangis . Nyonya Ernest menaruh lagi gagang telepon itu setelah Alamanda mengiyakan.
Marcel pun mendengar suara pintu kamar sebelah terbuka. Marcel melangkah menuju ke pintu kamar yang baru saja terbuka itu.
“Tuan Marcel.” Ucap Alamanda dengan nada kaget bercampur senang. Mereka berdua pun saling melangkah mendekati.
“Ners...” Ucap Marcel yang secara spontan dia memeluk tubuh Alamanda yang begitu dia rindu dan dia khawatirkan. Alamanda pun mendekap erat tubuh kekar Marcel dia merasakan ada ketenangan hati dengan memeluk dan dipeluk oleh Marcel.
Akan tetapi tiba tiba ada suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arah mereka berdua yang sedang saling berpelukan untuk melepas kerinduan dan berbagi ketenangan hati.
“Ehem ... ehem....” deheman suara laki laki berada di belakang mereka berdua.
Marcel dan Alamanda pun saling melepaskan pelukan mereka. Lalu Marcel menoleh ke arah suara deheman itu. Sedangkan Alamanda tertunduk kepalanya karena malu.
“Dokter.” Ucap Marcel selanjutnya.
“Silahkan dilanjutkan.” Ucap Dokter Willy sambil tersenyum lalu dia melangkah menuju ke dalam kamar Tuan Ernest.
Marcel pun lalu menggandeng tangan Alamanda dan menariknya untuk diajak masuk ke dalam kamar. Alamanda tampak bingung akan tetapi mau tak mau dia menuruti akan ajakan Marcel untuk masuk ke dalam kamarnya. Marcel lalu menutup pintu kamar itu dengan rapat.
“Ners malam ini Ners harus pergi dari Mansion ini.” Ucap Marcel dengan pelan saat sudah menutup pintu dengan rapat agar tidak ada orang yang mendengar karena dia khawatir jika tiba tiba ada orang lewat seperti Dokter Willy yang baru saja datang mengagetkan mereka berdua.
“Tapi saya masih terikat kontrak dengan keluarga Ernestan. Saya tidak bisa membayar denda dan mengembalikan uang yang sudah dibayarkan pada saya.” Ucap Alamanda yang ekspresi wajahnya masih tampak bingung dan juga masih ada semburat merah jambu di kedua pipi mulusnya karena malu.