
Alamanda terus mendorong kursi roda itu dengan hati hati. Nyonya Ernest kini hanya diam saja tidak lagi berkata kata, untuk menunjukkan arah ke mana kursi roda harus didorong oleh Alamanda, dia hanya menunjuk dengan jari telunjuk tangannya.
Alamanda pun hanya diam saja tidak berani mengucapkan sepatah kata pun jika tidak menanyakan hal yang penting berkaitan dengan tugasnya. Padahal Alamanda sebenarnya sangat penasaran dengan keluarga Ernest. Sebab yang dia tahu keluarga Ernestan pemilik perusahan EC suatu perusahaan ekspor import yang besar. Akan tetapi tidak ada publikasi sedikit pun mengenai keluarga Ernestan. Tidak ada media sosial pribadi perorangan, yang ada hanya media sosial resmi perusahaan. Selama beberapa jam berada di Mansion pun suasana sepi yang dia temui hanya Tuan dan Nyonya Ernestan, beserta para pelayan atau karyawan. Tidak ada juga foto keluarga terpampang di dinding.
Tidak lama kemudian kursi roda itu sudah sampai di depan sebuah kamar. Mansion itu sudah dilengkapi fasilitas agar kursi roda bila lewat di setiap ruang tanpa susah.
“Buka pintu dan biarkan aku sendirian di dalam kamar!” perintah Nyonya Ernest dengan nada datar, tampak ekspresi wajahnya masih sedih.
“Baik Nyonya.” Ucap Alamanda dengan santun lalu membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu. Alamanda mendorong kursi roda itu masuk ke dalam kamar dan selanjutnya Nyonya Ernest menjalankan sendiri kursi roda itu lebih masuk ke dalam kamar.
Alamanda menutup pintu lalu melangkah meninggalkan kamar itu. Sesaat nampak sosok seorang laki laki setengah baya mungkin seumuran dengan Juragan Darman berjalan ke arah Alamanda.
“Hei kamu perawat baru itu?” tanya laki laki itu yang mengenakan pakaian lengkap dengan jas. Laki laki itu menatap tajam pada wajah Alamanda dan tiba tiba mengernyitkan keningnya lalu geleng geleng kepala.
“Tidak mungkin.” Gumam laki laki itu dalam hati.
“Iya Tuan.” Jawab Alamanda dengan santun dia mengira sedang berhadapan dengan putera Tuan Ernestan. Laki laki itu tidak mengucapkan apa apa lalu pergi melangkah dengan cepat.
Alamanda terus melangkah mencari sosok pelayan yang tadi membawa tasnya. Dan tidak lama kemudian tampak pelayan yang dicari tergopoh gopoh datang mendekati dirinya.
“Ners, aku cari cari ternyata sudah di sini.” Ucap Sang pelayan saat sudah berada di depan Alamanda.
“Saya juga sedang mencari Ibu, di mana kamar saya Bu?” tanya Alamanda dengan santun. Ibu pelayan itu pun mengajak Alamanda menuju ke kamar Alamanda yang ternyata berada di sebelah kamar Nyonya Ernest.
“Di sini Ners, kalau Nyonya ada perlu biar mudah. Sudah ada telepon antar kamar Ners dan kamar Nyonya.” Jawab sang pelayan saat sudah berada di depan sebuah kamar.
“O ya, tadi Tuan Sam juga mencari Ners Alamanda katanya mau berkenalan. Apa sudah ketemu?” ucap Sang pelayan selanjutnya.
“Apa seorang laki laki yang memakai jas lengkap tadi?” ucap Alamanda balik bertanya.
“Iya Ners, dia kepala asisten di sini yang mengurus segala yang ada di mansion ini. Ya sudah Ners istirahat dulu, nanti menjelang jam makan siang jemput Nyonya Ernest dibawa ke ruang makan.” Ucap Sang pelayan lalu berjalan meninggalkan Alamanda yang masih diam berdiri sebab orang yang dikira putera Tuan Ernestan tadi adalah Tuan Sam, kepala asisten.
“Hmm di mana anak anak Tuan Ernest.” Gumam Alamanda dalam hati lalu menutup pintu kamarnya.
Sementara itu Marcel sudah di dalam mobil bersama puteri tercintanya. Charlotte terlihat sudah tidak sabar agar sampai ke Mansion dan segera menjumpai sang Oma.
“Papa sudah cepat Sayang, tapi kan jalan sedang macet.” Ucap Marcel sambil terus menatap ke depan ke arah jalan raya.
“Papa kalau sudah melamar Ners Alamanda, terus Ners Alamanda sudah jadi Mamaku dan sudah boleh tidur terus di Mansion tidak usah pakai kontrak kerja Pa?” tanya Charlotte dengan nada serius sambil menoleh menatap Sang Papa.
“Belum Sayang, setelah melamar masih menunggu hari pernikahan dulu baru boleh tidur di Mansion.” Jawab Marcel sambil tersenyum membayangkan Alamanda tidur satu ranjang dengan dirinya.
“Hmmm masih lama ya Pa, langsung nikah aja biar cepet.” Ucap Charlotte masih menoleh menatap Sang Papa. Marcel pun lalu melepas tangan kirinya dari pegangan kemudi lalu mengacak acak puncak kepala Charlotte.
“Sabar....” ucap Marcel pada Charlotte akan tetapi juga ditujukan pada dirinya sendiri. Marcel pun kembali memegang kemudi dengan kedua tangannya. Mobil pun terus melaju menuju ke Mansion Hanson.
Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman Mansion Hanson.
“Pa langsung ke depan pintu, biar sopir atau pak satpam yang memasukkan mobil ke garasi.” Pinta Charlotte yang tidak mau jalan kaki dari garasi.
“Iya Sayang, nanti Papa juga akan balik lagi ke kantor. Papa pulang hanya untuk menjemput kamu dan menyampaikan kabar berita ini.” Ucap Marcel sambil terus menjalankan mobil menuju ke dekat pintu utama Mansion.
Setelah mobil berhenti Charlotte langsung membuka pintu mobil dan berlari menuju ke pintu utama. Petugas penjaga pintu pun segera membukakan pintu buat Nona Kecil mereka.
“Oma.... Oma....” teriak Charlotte dengan suara lantang sambil berlari dari pintu utama Mansion menuju ke ruang keluarga. Tas mungil masih terus menempel di punggung yang di dalamnya ada tablet kesayangannya.
“Oma.. Oma di mana?” teriak Charlotte yang kini berlari menuju ke kamar Nyonya Hanson. Para pelayan yang mendengar pun sampai lari dari ruang di mana mereka berkerja untuk melihat Nona Kecil mereka.
“Charlotte sayang... ada apa kok teriak teriak.” Suara Nyonya Hanson sambil membuka pintu kamarnya. Nada suara Nyonya Hanson pun lembut tidak meninggi.
“Oma aku ada kabar penting tolong Oma sedia air mineral dulu.” Ucap Charlotte yang kini sudah berada di depan Sang Oma.
Tidak lama kemudian Marcel pun juga sudah berada di dekat mereka berdua.
“Ada apa hmmm kalian berdua berlari larian?” tanya Nyonya Hanson sambil menatap pada Marcel dan Charlotte. Marcel pun lalu mengajak Nyonya Hanson dan Charlotte masuk ke dalam kamar Nyonya Hanson. Marcel terus melangkah menuju ke sofa sambil menggandeng tangan mungil Charlotte. Akan tetapi tiba tiba Charlotte melepaskan diri dari gandengan tangan Sang Papa dan berlari menuju ke nakas yang ada botol air mineral ukuran sedang. Tangan mungilnya meraih botol air mineral itu hingga nyaris akan jatuh akan tetapi berhasil dipegang oleh Charlotte dan selanjutnya dia pun berjalan menuju ke sofa sambil membawa botol air mineral itu.
“Ada apa sepertinya serius, apa kalian sudah mau jika Millie menjadi anggota keluarga kita.” Ucap Nyonya Hanson sambil duduk di samping Marcel, bibir Nyonya Hanson pun tersenyum lebar.
“Oma, aku akan membuka rahasia Tante Millie.” Ucap Charlotte setelah menaruh botol air mineral di atas meja dan mengambil tas mungil di punggungnya. Marcel pun membantu Charlotte, Charlotte akan mengambil tabletnya sebagai bukti autentik alias dapat dipercaya.