
Dokter Willy yang sudah terbiasa berkunjung di Mansion itu terus melangkah dengan cepat menuju ke ruang di mana Tuan dan Nyonya Ernest berada di saat pagi hari. Alamanda berjalan di belakangnya sambil membawa travel bag nya, jantungnya terus berdebar debar lebih kencang.
Sesaat kemudian mereka sudah sampai pada suatu ruangan semi terbuka ada taman yang indah dan sinar matahari pagi menerpa dua sosok manusia laki laki dan perempuan yang sudah tua, rambut keduanya sudah banyak yang memutih. Mendengar suara langkah kaki mendekat, dua sosok orang tua yang duduk berjemur itu menoleh dan keduanya menatap tajam pada Alamanda yang berjalan di belakang Dokter Willy.
“Hmmm kalian baru datang. Hari pertama kerja sudah terlambat.” Ucap Nyonya Ernest yang duduk di atas kursi roda. Mendengar hal itu jantung Alamanda semakin kencang detaknya. Telapak tangannya pun mulai dingin.
“Maaf Tuan dan Nyonya Ernest terjadi kesalah pahaman. Maksud saya jam tujuh pagi dari rumah sakit.” Ucap Dokter Willy sambil tersenyum menatap Tuan dan Nyonya Ernest. Setelah menjabat tangan keduanya, Dokter Willy lalu duduk di kursi yang tidak jauh dari Tuan Ernest. Alamanda pun melakukan hal yang sama, dia lalu duduk di dekat Dokter Willy.
Dokter Willy lalu mengenalkan Alamanda pada Tuan dan Nyonya Ernestan. Dan setelahnya Dokter Willy melakukan pemeriksaan rutin pada dua orang manula itu. Sesaat kemudian sang pelayan datang dengan membawa minuman buat Dokter Willy dan Alamanda, sang pelayan itu terus saja menatap Alamanda.
“Tuan, Nyonya saya pamit akan ke rumah sakit lagi. Ners Alamanda sudah tahu jadwal kerjanya di sini.” Ucap Dokter Willy setelah meminum habis kopinya.
“Ma, sudah ada Ners. Aku juga mau ke EC ada meeting penting.” Ucap Tuan Ernestan sambil bangkit berdiri lalu mencium puncak kepala istrinya yang duduk di kursi roda.
“Harusnya kita sudah istirahat Pa, menikmati masa tua bersama cucu cucu dan cicit cicit...” ucap Nyonya Ernestan dengan nada sedih.
“Sudahlah Ma jangan diingat ingat lagi..” ucap Tuan Ernest sambil mengusap usap pundak istrinya. Tuan Ernest dan Dokter Willy pun lalu melangkah keluar dari ruang itu. Dokter Willy akan menuju ke rumah sakit dan Tuan Ernest menuju ke perusahaannya.
“Berikan tas kamu itu pada pelayan agar dibawa masuk ke kamar kamu. Dan sekarang temani aku jalan jalan di sekitar Mansion.” Perintah Nyonya Ernest pada Alamanda dengan tanpa sedikit pun senyuman. Alamanda segera menghabiskan minumannya lalu memberikan travel bag nya pada pelayan yang masih berdiri di situ. Lalu Alamanda bangkit berdiri dan berjalan menuju ke belakang kursi roda Nyonya Ernest dan mendorong kursi roda itu dengan hati hati.
Sang pelayan tampak ingin berbicara pada Nyonya Ernest akan tetapi dia belum berani.
“Besok besok saja kalau suasana hati Nyonya sedang baik dan tidak ada perawat itu.” Gumam sang pelayan lalu pergi dari ruang semi terbuka itu sambil membawa travel bag milik Alamanda dan nampan yang berisi cangkir kosong.
Sementara itu di Mansion Hanson terjadi kehebohan di kamar Marcel. Charlotte sudah rapi dengan baju seragam sekolah dan kini sedang berada di kamar Sang Papa.
“Papa itu gimana sih sekarang aku malah dilarang mengatakan pada Oma tentang kejahatan Tante Millie. Aku tuh ingin Papa segera melamar Ners Alamanda dan Ners Alamanda tinggal di sini lagi, menjadi Mamaku.” Ucap Charlotte dengan bibir cemberut.
“Jangan sekarang Sayang. Kita tunggu proses di kepolisian selesai dulu. Takutnya mereka kabur. Oma pasti akan langsung menanyakan pada Tante Millie tentang kebenaran itu.” Ucap Marcel yang menghadap cermin besarnya sambil memasang dasi.
“Kamu pergi ke sekolah nanti sepulang dari sekolah jika polisi sudah menangkap mereka, baru kamu boleh bicara pada Oma.” Ucap Marcel yang masih merapikan pakaiannya.
Charlotte lalu tampak berjalan menuju ke tempat tidur Marcel kemudian ditariknya guling Marcel dan ditekuk guling itu, macam didudukkan guling itu di tepi tempat tidur. Charlotte memegang dan menatap guling itu, lalu...
“Oma... tahukah kamu jika Tante Millie itu jahat sekali, dia sudah punya pacar dan dia hanya ingin harta Papa saja, dia juga sudah berusaha mencelakakan Ners Alamanda, kalau Oma tidak percaya lihat di tablet ku. Oma harus segera melamarkan Ners Alamanda buat Papa.” Ucap Charlotte sambil terus memegang dan menatap guling Marcel itu dia anggap guling itu adalah Oma. Agar dia bisa terlaksana berbicara. Marcel yang mendengar dan melihat tingkah anaknya dari pantulan cermin tersenyum.
Setelah Marcel selesai bersiap siap. Mereka berdua pun keluar dari kamar untuk menuju ke ruang makan. Tampak Nyonya Hanson sudah duduk di kursi dan bibirnya terus tersenyum. Sebab Millie baru saja mengabari pada dirinya jika tidak akan lama lagi Marcel dan Charlotte akan menjauhi Alamanda.
“Hmmm persahabatanku dengan Mamanya Millie akan berubah menjadi satu keluarga. Dan memiliki cucu yang sama, cucuku juga cucunya... benar benar Amazing.” Gumam Nyonya Hanson sambil menyesap kopi dari cangkir nya.
Dan sesaat kemudian Marcel dan Charlotte pun sudah memasuki ruang makan itu.
“Oh.. Sini Sayang.. Charlotte mau di suapin Oma?” ucap Nyonya Hanson saat melihat Marcel dan Charlotte sudah mendekati meja makan. Nyonya Hanson akan memperlakukan Charlotte dengan manis agar mendukung rencananya menjodohkan Marcel dengan Millie.
“Jangan berisik ya...” Bisik lirih Marcel pada Charlotte sambil mengangkat tubuh mungil Charlotte dan didudukkan pada kursi Charlotte. Sebagai kode agar Charlotte tidak mengatakan dulu tentang kejahatan Millie. Charlotte hanya diam saja lalu menatap Sang Oma sambil menganggukkan kepalanya.
“Oma... apa Oma tahu kalau...” ucap Charlotte kemudian yang membuat Marcel langsung bereaksi.
“Charlotte...” saut Marcel sambil menatap tajam puteri semata wayangnya.
“Ada apa Sayang...” ucap Nyonya Hanson dengan manis dia ingin agar Charlotte tidak membuat kekacauan pada rencananya yang sudah di depan mata.
“Hmmm apa Oma tahu kalau aku sebenarnya malas sekolah he... he...” ucap Charlotte selanjutnya sambil tertawa kecil dan menoleh ke arah Sang Papa. Marcel pun menjadi menjadi lega, mereka terus melanjutkan sarapannya. Nyonya Hanson terus berlaku manis pada Charlotte.
Sedangkan di lain tempat di kamar Millie. Tergolek dua tubuh tanpa baju di atas tempat tidur. Sejak malam Kevin sudah mendatangi Millie dan mereka berdua merayakan kesuksesannya. Yang Kevin tahu, orang suruhan bisa melempar plastik berisi air keras itu tepat pada tubuh sasaran bagian atas.
“Sayang ayo bangun.. aku mau lagi... “ ucap Millie sambil menciumi wajah Kevin yang masih tertidur.