
“Marcel.” Gumam lirih Nyonya Hanson yang masih tampak kaget dan sebagai kode agar Millie tidak berbicara membahas rencana mereka memisahkan Marcel dan Charlotte dari Alamanda.
Marcel yang menggendong tubuh Charlotte terus melangkah dengan cepat mendekati mereka berdua, ekspresi wajah Marcel terlihat sangat emosi.
“Cel, aku kira kamu sudah berangkat ke kantor dan Charlotte ikut kamu ke kantor. Kata Nanny tadi Charlotte tidak berangkat ke sekolah dan ikut kamu.” Ucap Nyonya Hanson dengan lembut sambil menatap Marcel agar Marcel tidak marah karena kedatangan Millie di Mansion.
“Millie kenapa kamu masih juga menginjakkan kaki di sini!” teriak Marcel yang tadi sudah sangat emosi saat melihat ada mobil Millie di depan pintu utama Mansion.
“Cepat sekarang juga kamu pergi dari sini.” Ucap Marcel lagi dengan kesal.
“Cel, sabar Cel.. tadi aku yang mengundang Millie untuk menemani aku sarapan. Sepi Cel... “ ucap Nyonya Hanson yang masih berusaha melindungi Millie.
“Sudahlah Cel, Millie sudah minta maaf atas kesalahannya. Dia khilaf.” Ucap Nyonya Hanson lagi.
“Mama....” ucap Marcel dengan sangat kesal dan nada tinggi akan tetapi kalimatnya tidak berlanjut sebab tangan mungil Charlotte menutup mulutnya hingga dia tidak bisa mengucapkan apa apa. Dia sebenarnya ingin mengucapkan apa yang sudah dilakukan Millie baru saja dengan Kevin dan orang orang suruhannya akan tetapi Charlotte sejak tadi sudah memberi pesan agar merahasiakan lebih dulu.
“Mama selalu lebih percaya pada Millie!” teriak Marcel setelah tangan mungil Charlotte sudah tidak menempel di mulutnya.
Marcel yang masih menggendong Charlotte lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju ke kamarnya untuk mandi dan mendinginkan isi di dalam otaknya.
“Papa sabar dulu.. belum waktunya mengatakan sekarang..” ucap Charlotte dengan suara lirih agar tidak ada orang yang mendengar selain Sang Papa. Marcel hanya diam saja wajahnya tampak masih sangat memendam rasa marah. Dia ingin segera menyampaikan tentang rencana Millie yang akan mencelakakan Alamanda.
Marcel langsung membuka pintu kamarnya, dan Charlotte masih berada di dalam gendongannya, sebab Charlotte tidak mau diturunkan dan ingin ikut masuk ke kamar Sang Papa.
“Pa aku boleh ikut mandi sama Papa?” tanya Charlotte saat Marcel akan menurunkan tubuhnya.
“Tidak boleh.” Jawab Marcel dengan singkat dan datar datar saja.
“Papa jangan marah terus nanti cepat tua kayak Juragan Darman, Ners Alamanda tidak jadi suka.” Ucap Charlotte yang kini sudah berdiri sambil menatap sosok Sang Papa dan Marcel pun akan melangkah menuju ke kamar mandi.
“Pa, aku tidak mau Papa mengatakan sekarang karena Kevin itu bisa melindungi nomor hand phonenya. Kalau dia juga melindungi nomor hand phone Tante Millie aku kesulitan meretas. Aku coba cari cara dulu untuk meretas nomor yang dalam perlindungan.” Ucap Charlotte dengan nada serius hingga bibir mungilnya sampai mengerucut ke depan. Lalu dia membalikkan tubuhnya dan berlari meninggalkan kamar Marcel menuju ke kamarnya sendiri. Sedangkan Marcel tampak masih terpaku melihat sosok anaknya yang sudah berlalu.
“Hmmm gara gara tidak ingin aku didekati perempuan dia malah bisa menjadi agen mata mata..” gumam Marcel sambil geleng geleng kepala lalu dia pun melangkah menuju ke kamar mandi karena dia harus segera bekerja.
Sementara itu di lain tempat di sebuah rumah sakit elite yang megah tempat Alamanda bekerja. Alamanda melangkah menuju ke ruang kerjanya dengan hati yang bahagia namun juga sedang berpikir keras.
“Duh yang habis lamaran bawaannya tersenyum terus tuh bibir..” ucap salah satu teman Alamanda yang berada di satu ruang kerja dengan dirinya. Teman temannya itu hanya tahu Alamanda habis melakukan acara lamaran tidak tahu jika acara lamaran gagal.
“Sepertinya tidak Rin, aku harus mencari banyak uang lagi.” Jawab Alamanda pada teman satu ruangnya itu. Alamanda memang berniat akan bekerja lebih giat karena dia bermaksud untuk mengumpulkan uang dan mengganti uang Marcel yang sudah digunakan untuk melunasi hutang hutang keluarganya. Agar Nyonya Hanson tidak semakin menghinanya. Apalagi jika ditambah Marcel dan Charlotte mengirim pengawal untuknya semakin tambah biaya.
Agar tidak mendapat pertanyaan dari temannya lagi Alamanda pun segera melangkah meninggalkan ruangan itu untuk pergi ke kamar pasien.
Saat baru beberapa langkah dari depan pintu ruang itu, tampak sosok Dokter pribadi keluarga Hanson yang juga bertugas di rumah sakit itu sedang berjalan ke arah dirinya.
“Kebetulan Ners Alamanda kita ketemu di sini. Nanti jam istirahat tolong ke ruang kerja saya ya.” Ucap Pak Dokter pribadi keluarga Hanson itu.
“Baik Dok.” Ucap Alamanda. Dan selanjutnya mereka berdua pun berpisah jalan Alamanda meneruskan langkahnya menuju ke ruang pasien. Sedang Pak Dokter meneruskan langkahnya menuju ke ruang lain.
“Ada perlu apa Dokter meminta aku menemuinya, kontrak kerjaku sudah selesai. Apa iya Tuan Marcel akan meminta aku bekerja lagi di sana. Senang sih tapi Nyonya Hanson pasti tidak suka.” Gumam Alamanda dalam hati dan terus melangkah menuju ke kamar pasien tempat dia bertugas. Dia ingin waktu cepat berlalu dan jam istirahat tiba.
Dan waktu pun terus berlalu, kini waktu istirahat Alamanda tiba. Alamanda segera melangkah menuju ke ruang Dokter pribadi keluarga Hanson.
Saat Alamanda sudah berada di depan pintu ruang Dokter pribadi keluarga Hanson.
TOK TOK TOK
TOK TOK TOK
Alamanda mengetuk ngetuk pintu ruang Dokter pribadi keluarga Hanson itu. Dan sesaat kemudian ada suara Pak Dokter yang mempersilahkan masuk. Alamanda pun segera memutar handel pintu dan mendorong daun pintu itu. Alamanda segera melangkah menuju ke meja kerja Pak Dokter dan duduk di kursi depan meja itu.
“Ners ada satu keluarga yang membutuhkan satu perawat untuk tinggal di Mansionnya, akan tetapi tidak untuk mengurus anak anak. Gaji lebih tinggi dari gaji yang diberikan Tuan Marcel kemarin.” Ucap Pak Dokter yang duduk di kursi kerjanya sambil menatap Alamanda yang duduk di depannya dengan tersekat oleh sebuah meja kerja.
“Keluarga siapa Dok, dan siapa yang sakit?” tanya Alamanda dengan nada serius.
“Keluarga Ernestan, Nyonya Ernestan yang sakit usianya tujuh puluh tahun lebih, dia tidak bisa berjalan. Membutuhkan seorang perawat yang sabar. Tingkat emosi dia sangat tinggi.” Ucap Dokter pribadi keluarga Hanson itu sambil menunjukkan data data Nyonya Ernest pada Alamanda, tampak Alamanda membaca dengan serius.
“Saya pikir pikir dulu Dok, tapi jangan ditawarkan pada perawat lain dulu.” Ucap Alamanda kemudian, yang di dalam hati dia juga senang sebab maksud untuk mengganti uang Marcel meskipun dengan cara mencicil akan segera terlaksana dengan bekerja tinggal di Mansion yang mendapatkan gaji lebih banyak.
“Baik Ners, tapi tolong secepatnya memberi keputusan.” Ucap Dokter pribadi keluarga Hanson dengan nada serius. Setelah Alamanda mengiyakan lalu Alamanda pun diizinkan keluar dari ruang Dokter itu.
“Hmmm diterima tidak ya...” gumam Alamanda sambil terus berjalan menuju ke ruang kerjanya untuk beristirahat sejenak mumpung masih ada waktu istirahat yang tersisa.
Akan tetapi tiba tiba hand phone di dalam saku baju seragamnya berdering.