Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 48.


Alamanda membuka pelan pelan pintu kamar itu. Dia pun melangkah masuk dan tidak lupa mengunci lagi pintu kamar itu dari dalam dan tidak mengambil anak kunci yang masih tertempel seperti apa pesan ibu pelayan.


Alamanda melangkah menuju ke lemari untuk mengambil baju gantinya. Saat melewati meja rias mata Alamanda terbelalak melihat suatu benda yang sangat menjijikkan dan di bawah ada kertas HVS yang bertuliskan.


SEGERA KAMU TINGGALKAN MANSION INI, KALAU TIDAK INGIN BERNASIB SAMA SEPERTI TIKUS INI!


Alamanda pun menghentikan langkahnya lalu mengambil hand phone dari saku baju seragamnya. Dia segera mengaktifkan hand phone miliknya itu dan setelahnya mengabadikan barang itu. Tikus kecil yang sudah mati karena terputus leher nya di atas kertas HVS yang tertulis ancaman itu.


“Hmmm benar benar Mansion penuh misteri.” Gumam Alamanda lalu menaruh hand phone miliknya di atas meja rias itu. Dan dia membungkus tikus kecil yang sudah mati itu dengan kertas HVS tertulis ancaman itu. Lalu dia membuangnya ke tempat sampah.


Sebenarnya Alamanda ingin membuang ke tempat sampah luar kamar. Tetapi jantungnya masih berdebar debar yang belum ada keberanian untuk keluar kamar di malam ini.


Alamanda pun akhirnya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Alamanda masih berpikir pikir siapa orang yang sudah masuk ke dalam kamarnya.


“Ada yang tidak suka juga aku berada di dalam Mansion ini. Mengapa orang itu tidak menyukai aku?” gumam Alamanda dalam hati.


“Jika di Mansion Hanson karena Nyonya Hanson menginginkan Nona Millie yang dekat dengan Tuan Marcel. Kalau di Mansion ini apa yang kekhawatiran oleh orang itu akan kehadiranku.” Gumam Alamanda lalu dia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bath robe.


“Bagaimana mungkin aku keluar dari Mansion ini, sementara kontrak kerja ku belum selesai. Aku akan mendapat denda dan dikeluarkan dari rumah sakit.” Gumam Alamanda sambil membuka lemari untuk mengambil baju piyama tidur nya.


“Apa yang harus kulakukan sekarang.” Ucap Alamanda sambil mendekap baju piyama tidurnya. Ekspresi wajah Alamanda tampak bingung dan khawatir. Bagaimana pun dia takut akan ancaman itu, akan tetapi dia membutuhkan uang dan tidak bisa meninggalkan Mansion Ernest begitu saja. Di samping itu dia sebenarnya sangat penasaran dengan Mansion Ernestan.


“Ah.. Aku hubungi saja Dokter Willy. Biar nanti dia yang memikirkan perlindungan untuk aku. Aku membatalkan kontrak kerja ini.” Gumam Alamanda dalam hati lalu dia cepat cepat memakai piyama tidurnya dan setelah nya akan menghubungi Dokter Willy.


Setelah sudah mengenakan baju piyama tidur. Alamanda pun segera menghubungi Dokter Willy yang beruntung panggilan suara dari nomor telepon Alamanda segera diterima oleh Dokter Willy.


“Selamat malam Dokter, ada suatu hal yang sangat penting ingin saya sampaikan.” Ucap Alamanda setelah Dokter Willy menerima panggilan suaranya.


“Selamat malam Ners, ada masalah apa?” suara Dokter Willy di balik hand phone milik Alamanda.


“Dok, saya mendapat ancaman dan menyuruh saya segera meninggalkan Mansion Ernestan.” Ucap Alamanda dengan suara lirih.


“Saya kira bukan Dok, saya akan kirim bentuk ancaman itu pada Dokter Willy. Tidak mungkin Tuan Marcel akan melakukan sekeji itu.” Ucap Alamanda masih dengan suara pelan.


“Saya kira juga susah orang luar untuk masuk ke dalam mansion Ernestan. Perkiraan saya orang dalam mansion Ernestan.” Ucap Alamanda selanjutnya yang mencurigai orang di dalam Mansion.


“Okey Ners kirimkan pada saya bentuk ancaman itu. Nanti akan saya sampaikan pada pimpinan rumah sakit.” Suara Dokter Willy yang begitu penasaran dengan bentuk ancaman pada Alamanda. Dan Alamanda pun segera memutus sambungan teleponnya lalu mengirimkan foto terbaru dari kameranya. Foto seekor tikus kecil yang mati dengan leher terputus di atas kertas HVS yang bertuliskan sebuah ancaman.


TING


Foto terkirim. Dokter Willy di seberang sana segera membuka foto kiriman dari Alamanda. Dan mendadak jantung Dokter Willy berdetak sangat kencang, keringat dingin mulai keluar dari pori pori tubuhnya tangannya pun mulai gemetar. Baru kali ini Dokter Willy mendapati perawat yang dia rekomendasikan mendapat ancaman pembunuhan.


“Siapa yang sudah melakukan hal ini.” Gumam Dokter Willy yang terduduk lemas di sofa di dalam rumah nya. Ingatan nya pun berputar putar pada orang orang di dalam Mansion Ernestan.


Sementara itu di lain tempat di Mansion Wijaya. Charlotte masih berada di sana. Dia digendong berganti ganti oleh Tuan dan Nyonya Wijaya atau Sang Tante Valecia yang begitu merindukannya.


“Tante, aku sekarang mau ke kamar ku, aku mau istirahat di kamar ku.” Ucap Charlotte yang kini berada di dalam gendongan Valecia.


“Okey Sayang. Tante juga mau belajar dulu mau ngerjain pe er dulu. Nanti kalau sudah selesai aku ke kamar kamu. Belum habis rinduku.” Ucap Valecia sambil mencium pipi Charlotte lalu sambil masih menggendong Charlotte dia melangkah menuju ke kamar Charlotte yang dulu adalah kamar Patricia.


Di dalam kamar itu sang pengasuh Charlotte sedang duduk di karpet sambil melihat siaran televisi. Saat melihat pintu terbuka dan muncul Valecia dan Charlotte, dia pun segera bangkit berdiri untuk menyambut Nona Kecilnya.


“Nanny mana tablet ku.” Ucap Charlotte saat Valecia sudah keluar dari kamar Charlotte. Sang pengasuh pun segera mengambilkan tablet kesayangan Charlotte.


“Aku rindu dengan Ners Alamanda.” Ucap Charlotte lalu dia sibuk mengusap usap layar tablet nya untuk menghubungi Alamanda.


Akan tetapi berkali kali mencoba menghubungi nomor hand phone milik Alamanda, tidak terhubung. Hanya terdengar nada sibuk dan selanjutnya tidak ada lagi nada sambung alias hand phone milik Alamanda sudah off.


“Ners Alamanda kok hand phone miliknya mati setelah tadi sibuk terus.” Gumam Charlotte lalu jari jari mungilnya menari nari di atas layar tablet nya untuk meretas nomor hand phone milik Alamanda. Sebab Charlotte sangat rindu pada Alamanda dan penasaran dengan keadaan Alamanda di Mansion Ernestan karena tidak ingin ada pria lain yang dekat dekat dengan Ners Alamanda selain Papa Marcel.