
Marcel membuka pintu penghubung balkon itu pelan pelan dan sesaat bibir Marcel tersenyum sebab dia melihat ada satu buah sofa panjang di balkon itu.
“Hmmm kamar hotel ini sebenarnya yang cocok aku tempati bersama Alamanda dan Charlotte. Kamar tidur terjaga privasi nya. Dan balkon ini sangat romantis dan sangat terjaga privasi nya juga. Aku akan enak enakan nanti di sini dengan Alamanda.” Gumam Marcel sambil melihat lihat situasi balkon itu. Dinding kiri dan kanan tinggi mentok sampai plafon jadi tidak akan terlihat dan terganggu oleh tetangga kamar. Pagar di depannya setinggi dada dan view di depan matanya pemandangan yang sangat indah. Tajuk tajuk pohon pohon dan langit bertabur bintang bintang. Ada pula bunga bunga tabebuya bermekaran berwarna merah muda disinari lampu balkon yang tidak begitu terang.
“Hmmm besok pagi pasti lebih indah dan segar udaranya. Aku akan enak enakan di sini sampai pagi.” Gumam Marcel sambil tersenyum, lalu dia kembali melangkah menuju ke kamar.
Marcel terus melangkah menuju ke mini pantry, dia akan membuat kopi. Sesaat Marcel mengerutkan keningnya saat melihat Tuan Ernest berada di mini pantry itu juga akan tetapi Tuan Ernest sedang tidak membuat minuman panas atau mengambil sesuatu dari dalam kulkas. Akan tetapi Tuan Ernest sedang berada di depan meja mini pantry itu sambil memegang megang gunting dapur dan tidak membawa satu buah kemasan makanan apa pun yang akan digunting.
“Mau apa Bos Tua itu pegang pegang gunting malam malam begini? Apa dia sudah putus asa dengan masalah Mansion yang belum teratasi? Apa dia putus asa karena anak kucing kesayangan istrinya belum ditemukan.” Gumam Marcel dalam hati sambil berjalan pelan pelan agar Tuan Ernest tidak melihatnya dan dia akan merebut gunting yang dipegang oleh Tuan Ernest.
Dan sesaat kemudian. Di saat Marcel sudah berada di dekat Tuan Ernest dan belum sempat Marcel meraih gunting yang masih dipegang oleh Tuan Ernest. Tuan Ernest membelikan tubuhnya karena dia sudah mendengar suara langkah kaki masuk dan dekat pada dirinya.
“Tuan, jangan pendek pikir jangan putus asa semua masalah pasti ada jalan keluarnya.” Ucap Marcel sambil merebut gunting yang masih dipegang oleh Tuan Ernest.
“Ada apa sih? Siapa yang pendek pikir? siapa yang putus asa?” Tanya Tuan Ernest heran dan masih berusaha memegang guntingnya dengan erat lalu dia segera meninggalkan mini pantry itu.
Sambil masih memegang gunting Tuan Ernest terus melangkah menuju ke kamar tidur nya. Sedangkan Marcel yang penasaran tidak jadi membuat kopi akan tetapi mengikuti langkah kaki Tuan Ernest.
“Mau gunting gunting apa sih orang tua itu malam malam begini.” Gumam Marcel dalam hati sambil terus mengikuti langkah kaki Tuan Ernest. Akan tetapi Marcel tidak bisa ikut masuk ke dalam kamar sebab pintu kamar sudah ditutup. Dan Marcel hanya berdiri di balik daun pintu itu.
Tuan Ernest yang sudah masuk ke dalam kamar tidur , terharu saat melihat tiga perempuan berbeda generasi sedang terbaring di atas tempat tidur. Nyonya Ernest berada di tengah, tubuh mungil Charlotte di sisi samping Nyonya Ernest sambil tangan mungilnya memeluk tubuh Orang tua itu. Alamanda di sisi samping satunya sambit terbaring miring menghadap tubuh Nyonya Ernest. Nyinya Ernest yang menghadap ke atas tampak kedua tangannya memegang tubuh Alamanda dan tubuh mungil Charlotte.
“Aku ingin kalian sering menemani aku begini. Agar kerinduan ku pada cucu cucuku terobati.” Ucap Nyonya Ernest.
“Iya Oma.. Aku juga suka menemani Oma Ernest tapi kalau aku dan Mama menemani Oma, bagaimana dengan Papa..” ucap Charlotte sambil menguap karena sudah mengantuk.
“Papa Nona juga tidur di kamar ini sama Opa di ruang tamu.” Ucap Tuan Ernest sambil terus melangkah.
“Ma, tadi katanya butuh gunting aku taruh di nakas ya..” ucap Tuan Ernest selanjutnya dan menaruh gunting dapur itu di atas nakas yang bisa tercapai oleh Nyonya Ernest dari tempat tidur. Tuan Ernest pun segera melangkah pergi keluar dari kamar tidur itu.
“Gunting buat apa Oma?” tanya Charlotte dengan mata yang sudah sangat sayu namun jiwa keponya menggelora.
“Ehmmm itu buat.. “ ucap Nyonya Ernest sambil mikir mikir sebab tidak menyangka akan mendapat pertanyaan dari Charlotte.
“Itu tadi ada baju Oma yang benang jahitannya belum dirapikan oleh tukang jahitnya. Oma merasa tidak nyaman saja, meskipun itu tidak penting..” ucap Nyonya Ernest mencari cari alasan.
“Oooo memang kadang gitu...” ucap Charlotte lalu memejamkan matanya.
“Anakmu sudah tidur, ayo kita tidur.. kamu tenang lah suamimu juga tidur di sini bersama suamiku.” Ucap Nyonya Ernest sambil menoleh ke arah Alamanda yang tampak juga sudah mengantuk karena merasa damai hatinya tidur di samping Nyonya Ernest. Demikian pula Nyonya Ernest hatinya sangat nyaman dan senang rencananya untuk mengambil rambut Alamanda sudah di depan mata. Nyonya Ernest meskipun sudah mengantuk berusaha untuk tidak tertidur dulu menunggu Alamanda tertidur lebih dulu.