
“Siapa kamu?” tanya Tuan Ernest dan Marcel secara bersamaan sambil menatap seorang gadis cantik dengan postur tubuh yang tinggi tetap. Sedangkan pegawai hotel sudah membalikkan tubuhnya meninggalkan ruang makan khusus yang dipesan oleh Tuan Ernest.
“Selamat pagi semua, saya Eveline teman Bang Bule Vincent, saya disuruh oleh Bang Bule Vincent untuk menemui Tuan Ernest dan Tuan Marcel.” Jawab gadis cantik itu lalu dia melangkah menuju ke meja Tuan Ernest.
Sedangkan Marcel yang masih berdiri tampak berbicara pada Alamanda dan Charlotte lalu dia pun ikut melangkah menuju ke meja Tuan Ernest. Tampak Eveline menjabat tangan Tuan Ernest dan Nyonya Ernest dengan santun juga pada orang orang di sekitar meja itu. Lalu pada Marcel yang baru datang mendekat.
“Kita duduk di sana saja agar pembicaraan lebih nyaman.” Ucap Tuan Ernest sambil bangkit berdiri menunjuk pada satu meja yang agak kecil di sudut ruang makan itu.
Mereka bertiga pun melangkah menuju ke meja makan yang ukurannya agak kecil.
“Saya tidak menyangka jika Bang Bule Vincent akan mengutus anak buahnya yang cantik seperti ini. Saya kira yang datang seorang laki laki dengan tubuh kekar dan wajah menyeramkan.. “ ucap Tuan Ernest sambil mendudukkan pantatnya di salah satu kursi.
“Terima kasih atas pujiannya Tuan.” Ucap Eveline yang juga duduk di kursi tidak jauh dari Tuan Ernest. Sedangkan Marcel hanya diam sambil duduk di kursi juga namun dia tidak memuji kecantikan Eveline. Baginya Alamanda adalah yang tercantik apalagi jika dengan tubuh polosnya dan wajah yang sedang menikmati aksi darinya. Benar benar tiada duanya.
“Syukurlah Nona datang lebih awal. Saya minta tolong pada Nona untuk datang ke rumah sakit umum daerah untuk mencari perawat yang bernama Rita.” Ucap Tuan Ernest dengan nada serius.
“Tuan, bukannya yang utama untuk mencari tahu tentang Tuan Sam, orang yang sudah mengancam Alamanda?” ucap Marcel dengan nada serius pula, sebab Marcel tidak tahu tentang cerita perawat Rita atau yang disebut oleh Nenek Oji adalah suster Rita.
Eveline pun tampak mengernyitkan dahinya.
“Benar, seperti yang Tuan Marcel katakan. Bang Bule Vincent juga menugaskan pada saya untuk mencari tahu tentang Tuan Sam. Saya akan menyamar untuk menjadi saudara Tuan Ernest, dan akan tinggal di Mansion Ernestan.” Ucap Eveline sambil menatap Tuan Ernestan.
“Hmm ide yang bagus. Tapi mencari Suster atau perawat Rita juga sangat penting buat aku dan istriku. Ini juga ada kaitannya dengan musibah dua puluh dua tahun lalu.” Ucap Tuan Ernest
“Baiklah Tuan. Apa Tuan tahi nama lengkap perawat Rita itu, atau informasi lainnya?” tanya Eveline sambil mengambil smart phone nya untuk mencatat segala informasi dari Tuan Ernestan.
“Ooo dia yang tahu.” Gumam Tuan Ernest lalu dia memanggil Nenek Oji. Marcel pun tampak semakin bingung.
Sedangkan Nenek Oji yang sedang menikmati makan pagi dengan menu mewah baginya, sangat kaget dan takut saat dipanggil oleh Tuan Ernest.
“Kamu punya salah apa?” tanya kakek Oji yang khawatir jika istrinya melakukan kesalahan.
“Apa mungkin Tuan Marcel menceritakan khasiat jamu bikinanku dan Tuan Ernest mau pesan.” Gumam Nenek Oji yang belum tahu jika jamu buatannya yang minum anak laki lakinya papa nya Alamanda.
Nenek Oji pun lalu bangkit berdiri.
“Kek, jaga piring makanan, jangan boleh diambil pelayan. Aku belum selesai!” pesan Nenek Oji pada suami nya.
Sesaat kemudian Nenek Oji sudah berdiri di dekat meja Tuan Ernest.
“Nek, siapa nama lengkap suster Rita?” tanya Tuan Ernest dengan suara pelan.
“Ooo itu Tuan, saya kira mau pesan jamu jos jos jus jus...” ucap Nenek Oji dengan senyum lebarnya sementara Tuan Ernest dan Marcel mengernyitkan dahinya.
“Kalau itu saya tidak tahu Tuan. Saya hanya tahu suster Rita saja namanya.” Ucap Nenek Oji.
“Ciri cirinya Nek?” tanya Eveline.
“Apa ya, tidak gemuk tidak kurus, tidak putih tidak hitam, tidak cantik tidak jelek .. Semua nya biasa biasa saja tapi sangat baik hatinya...” ucap Nenek Oji dengan nada serius dan pandangan matanya menerawang jauh untuk mengingat ingat suster Rita.
“Okey, baiklah saya akan segera ke rumah sakit itu, dan nanti saya akan minta semua foto suster yang bernama Rita dan Nenek yang pilih ya..” ucap Eveline sambil menatap Nenek Oji.
“Pokoknya saat Alamanda lahir kira kira usia dia empat puluh tahun.” Ucap Nenek Oji lagi.
“Ohh terima kasih Nek, tambahan informasinya.” Ucap Eveline.
“Sama sama , apa kamu juga ingin kalung dan liontin itu?” tanya Nenek Oji sambil menatap tajam Eveline.
“Tidak Nek, saya hanya menjalankan tugas. Untuk mencari Suster Rita dan mengajak beliau untuk menemui Tuan Ernest. Begitu.” Ucap Eveline sambil tersenyum menatap Nenek Oji. Dan selanjutnya Eveline mohon diri untuk segera pergi ke rumah sakit umum daerah untuk mencari Suster Rita.
“Tuan Marcel, cucu mantu ku yang tercinta. Tuan belum menjawab bagaimana khasiat jamu buatan saya?” tanya Nenek Oji sambil tersenyum menatap Marcel saat Eveline sudah melangkah pergi.
“Jamu apa Nek?” ucap Marcel malah balik bertanya.
Dan sesaat kemudian di ruang makan khusus itu muncul dua sosok orang laki laki dan perempuan. Ekspresi wajah keduanya masih terlihat mengantuk dan kecapekan bahkan yang perempuan tampak kesulitan berjalan sampai dituntun oleh yang laki laki.