
Dokter Willy mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu dia mengamati lagi layar lap topnya untuk melihat hasil laboratorium sample darah Charlotte.
“Tapi tanganku tidak sakit Dokter Willy.....” ucap Charlotte dengan nada serius agar ketiga orang dewasa itu tidak mengkhawatirkan dirinya.
Dokter Willy pun menoleh sekilas ke arah Charlotte sambil tersenyum datar. Sedangkan Marcel mencium lembut puncak kepala Charlotte.
“Dokter akan melakukan evaluasi lebih lanjut Nona Cantik.. sekarang Nona ikut Ners Alamanda dulu sebentar. Dokter ingin berbicara serius dengan Papa.” Ucap Dokter Willy selanjutnya sambil menatap ketiga orang yang berada di depan nya.
“Bukan Ners lagi Pak Dokter ... tapi Mama...” ucap Charlotte sambil menoleh dan mengulurkan tangannya kepada Alamanda. Dengan senang hati Charlotte ikut pada Alamanda dan selanjutnya mereka berdua meninggalkan ruang kerja Dokter Willy.
“Dok, apa kesimpulan dari hasil uji laboratorium?” tanya Marcel dengan tidak sabar.
“Charlotte tidak merasakan lagi sakit di lengannya...” ucap Marcel selanjutnya.
“Hmmm .. begini Tuan, test darah yang kami lakukan menggunakan metode baru yang bisa mengenali sel kanker, dan gambar yang ditunjukkan sel kanker yang sekarang berbeda dengan sel kanker yang kemarin berada di dalam tubuh Charlotte...” ucap Dokter Willy dengan pelan sambil menatap wajah Marcel dengan serius.
“Dok.... “ ucap Marcel dengan suara tertahan di kerongkongan, rasanya ada sebongkah batu di lehernya. Sakit.
“Sekarang bagian tubuh mana yang diserang?” tanya Marcel sambil mengusap wajahnya dengan kasar, peningkatan sel darah putih yang dikatakan oleh Dokter Willy tadi membuat dirinya khawatir jika sel kanker berpindah menyerang darah Charlotte.
Dokter Willy tampak masih diam dan menatap wajah Marcel bagai sedang menyusun suatu kalimat.
“Apa darahnya Dok?” tanya Marcel yang sudah tidak sabar untuk mengetahui. Marcel menatap tajam wajah Dokter Willy.
“Ya.” Jawab Dokter Willy singkat sambil menganggukkan kepalanya.
“Dokter, tolong Charlotte Dok, tolong kami Dok.. apa Charlotte bisa sembuh Dok?” ucap Marcel dengan ekspresi wajah yang campur aduk, antara sedih, khawatir, takut, panik...
“Bisa.” Jawab Dokter Willy dengan mantap.
“Dengan semakin awal dideteksi sel kanker itu akan semakin besar kemungkinan sembuh, kita akan lakukan pengobatan dengan segera. Dan yang utama pola makan dan suasana hati Charlotte terus dijaga agar dia bahagia.” Ucap Dokter Willy dengan mantap.
“Baik Dok, untuk masalah pengobatan saya percayakan pada Dokter.” Ucap Marcel masih dengan nada sedih meskipun Dokter Willy sudah mengatakan ada kemungkinan besar bisa sembuh karena masih stadium awal.
Sedangkan di lain tempat Tuan Sam sudah berjalan jalan di sekitaran ruang VIP tempat yang biasanya dipakai oleh Nyonya Ernest. Dia sudah melihat di daftar tidak ada nama pasien Nyonya Ernest.
“Hmmm di mana mereka berada. Coba aku ke ruang Dokter Willy saja, aku akan bilang jika aku ada kepentingan urgen dengan Tuan Ernest.” Ucap Tuan Sam dalam hati lalu dia melangkah menuju ke lift.
Beberapa menit kemudian Tuan Sam sudah sampai di lantai tempat ruang Dokter Willy, dia melangkah dengan cepat. Dan....
“Itu mereka.” Gumam Tuan Sam saat melihat Marcel dan Alamanda juga Charlotte berada di luar ruang Dokter Willy. Tuan Sam pun bersembunyi agar tidak diketahui oleh Alamanda.
Marcel menggendong tubuh Charlotte dengan erat. Alamanda yang berjalan di sampingnya wajahnya juga tampak sedih karena melihat ekspresi wajah sedih Marcel. Meskipun dia berada di luar ruangan dan belum diberitahu oleh Marcel atau pun Dokter Willy, tetapi dia sudah bisa mengerti jika kondisi Charlotte tidak baik baik saja. Mereka segera melangkah menuju lift dan akan segera ke apotik yang berada di dalam rumah sakit itu untuk mengambil obat. Sedangkan Tuan Sam segera berjalan menuju ke ruang Dokter Willy setelah Alamanda, Marcel dan Charlotte sudah masuk ke dalam lift.
“Sayang kita langsung menemui Uncle Bule dulu ya.. “ ucap Marcel sambil membuka pintu mobil untuk Alamanda. Setelah Alamanda duduk Charlotte pun diserahkan pada Alamanda lalu dipangku oleh Alamanda.
“Di mana?” tanya Alamanda dan Charlotte secara bersamaan.
“Apartemen.” Ucap Marcel sambil terus melangkah mengitari mobil bagian depan.
“Kak, bajuku masih di Mansion..” ucap Alamanda saat Marcel sudah duduk di dalam mobil.
“Mama jangan kembali dulu ke apartemen... Aku masih kangen sama Mama, masih ingin bobok sama Mama dan Papa...” ucap Charlotte sambil mendongak menatap Alamanda.
“Charlotte apa yang membuat kamu senang Nak, katakan.. kamu ingin mainan apa, apa kamu ingin tablet baru apa ingin lap top yang super canggih Papa akan membelikan sekarang juga setelah kita pulang menemui Uncle Bule.” Ucap Marcel sambil menjalankan mobil meninggalkan tempat parkir.
“Belum Papa.. saat ini aku maunya bersama Mama dan Papa saja...” ucap Charlotte sambil menoleh menatap Sang Papa.
“Maunya kita selalu bersama...” ucap Charlotte lagi.
“Baiklah nanti kita bicarakan dengan Nyonya dan Tuan Ernest.” Ucap Marcel sambil terus fokus pada kemudi mobilnya.
Mobil terus melaju membelah jalan raya menuju ke apartemen.
Sementara itu Tuan Sam juga sudah berada di dalam mobilnya. Dia terus mengikuti mobil Marcel dengan jarak aman yang tidak diketahui oleh Marcel dan Alamanda.
“Hmmm Dokter Willy juga merahasiakan di mana Nyonya Ernest dirawat. Coba aku ikuti saja mobil itu, ke mana mereka akan pergi di mana sekarang perawat itu tinggal.” Ucap Tuan Sam sambil terus melajukan mobil nya mengikuti mobil yang dikemudikan oleh Marcel.
Sesaat mobil yang dikemudikan oleh Tuan Sam mendekati lampu merah. Mobil yang dikemudikan oleh Marcel sudah melintas menyeberang perempatan yang ada lampu merah itu.
“Sial lampu sudah kuning.” Ucap Tuan Sam sambil menambah laju kecepatan mobilnya.
Dan sesaat lampu sudah berubah menjadi merah.
Mobil Tuan Sam menerobos lampu merah itu.
“HHHHHH... untung aman... “ ucap Tuan Sam sambil bernafas lega sebab dia selamat menerobos lampu merah.
“Jika dapat kiriman surat tilang elektronik, itu urusan belakang.” Gumam Tuan Sam sambil terus melajukan mobilnya, mobil yang dikemudikan oleh Marcel masih terus dalam pantauannya dan masih dalam jarak aman yang tidak diketahui oleh Marcel dan Alamanda.
“Hhhmm ke mana mereka?” gumam Tuan Sam saat beberapa mobil menutupi pandangan matanya pada mobil yang dikemudikan oleh Marcel.
Tuan Sam pun lalu mempercepat lagi laju kemudinya dan menyalip mobil yang ada di depannya.