
“Untung suster Rita yang dimaksud masih tinggal di dalam kota.” Gumam Eveline di dalam hati lalu dia memasukkan lagi hand phone miliknya ke dalam tas.
“Coba kalau Suster Rita yang dimaksud yang sudah pindah ke luar kota. Benar benar pusing aku dengan tugas baruku ini.” Gumam Eveline lalu dia melangkah menuju ke ruang pimpinan rumah sakit untuk membuat janjian pertemuan dengan pimpinan rumah sakit lewat sekretaris pimpinan tersebut. Dan setelahnya Eveline meninggalkan rumah sakit tersebut untuk menuju ke alamat rumah suster Rita Nuraini.
Eveline memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia ingin segera menemui suster Rita dan selanjutnya di bawa untuk menemui Tuan Ernest kemudian dia akan segera pergi ke Mansion Ernestan untuk menjalankan rencana awal tugas nya yaitu untuk tinggal di Mansion Ernestan untuk mengintai Tuan Sam.
Setelah perjalanan satu jam lebih mobil yang dikemudikan oleh Eveline sudah memasuki sebuah perumahan sederhana di pinggiran kota. Eveline mengurangi kecepatan mobilnya, dia mengemudikan mobilnya dengan pelan pelan untuk mencari blok dan nomor rumah Suster Rita.
“Hmmm itu rumahnya.” Gumam Eveline saat matanya sudah melihat tulisan blok dan nomor rumah yang dimaksud. Eveline pun segera menghentikan mobilnya di depan pintu pagar rumah itu. Suasana rumah dan perumahan itu sepi. Mungkin karena masih jam kerja dan jam sekolah.
“Semoga orangnya ada.” Gumam Eveline sambil turun dari mobilnya. Eveline pun melangkah menuju ke pintu pagar itu dan selanjutnya dia menekan bel tamu yang ada di dinding pagar.
Sesaat pintu rumah sederhana itu terbuka dan muncul seorang nenek dengan memakai baju daster.
“Syukur alhamdulillah orangnya ada.” Gumam Eveline dalam hati saat melihat wajah Nenek yang memakai daster itu sangat mirip dengan wajah yang ada di foto data Suster Rita Nuraini.
“Selamat pagi Suster Rita...” ucap Eveline saat Nenek memakai baju daster itu sudah berada tidak jauh dari dirinya.
“Selamat pagi Nona. Anda sudah mengenal saya. Tetapi saya tidak tahu siapa Nona.” Ucap Nenek memakai baju daster itu pasang mode waspada sebab banyak penipu.
“Saya Eveline, Suster Rita. Saya sudah mendapat izin dari rumah sakit umum daerah untuk menemui suster Rita.” Ucap Eveline sambil menunjukkan surat pengantar dari rumah sakit.
“Hmmm tunggu sebentar Nona.” Ucap Nenek yang memakai baju daster itu dan belum membukakan pintu pagar buat Eveline tetapi dia membalikkan tubuhnya dan kembali melangkah menuju ke dalam rumahnya.
Eveline masih berdiri di luar pagar dengan gelisah. Khawatir jika suster Rita tidak mau menemui dirinya apalagi harus dibawa untuk menghadap Tuan Ernestan.
“Mari masuk Nona, maaf saya harus mengecek dulu pada pihak rumah sakit, jaman sekarang banyak penipu canggih Nona.” Ucap Nenek yang memakai baju daster itu yang tidak lain adalah suster Rita Nuraini.
“Benar Suster, maaf jika kedatangan saya sudah mengganggu Suster Rita.” Ucap Eveline lalu ikut melangkah masuk ke dalam rumah suster Rita.
Sementara itu di hotel bintang lima. Tuan dan Nyonya Ernest sudah tidak sabar untuk bertemu dengan suster Rita.
“Pa, bagaimana apa Nona Eveline sudah berhasil bertemu dengan Suster Rita?” tanya Nyonya Ernest pada suaminya.
“Sudah Ma, sudah sampai di rumahnya dia sedang membujuk agar mau datang ke sini.” Jawab Tuan Ernest sambil berjalan mondar mandir di dalam kamarnya.
“Pa, kalau dia tidak mau datang ke sini, biar kita saja yang datang ke rumahnya.” Ucap Nyonya Ernest yang sudah tidak sabar.
“Tuan Marcel dan Bang Bule Vincent melarang kita pergi pergi dahulu, mereka khawatir Sam melakukan hal yang berbahaya pada kita dan Alamanda. Kalau dia berusaha masuk ke dalam kamar pasti dia berusaha untuk mencari surat surat penting. Aku juga curiga dia punya teman pihak berwajib Ma..” ucap Tuan Ernest yang masih berjalan mondar mandir.
“Ah repot kalau begitu kita dulu mempercayai Sam yang mengurus kasus kecelakaan Archie dan Debora, tapi malah hasilnya dianggap kecelakaan tunggal karena kesalahan Archie sendiri hiks... hiks.... hiks... anakku sudah meninggal masih disalahkan hiks... hiks... hiks... Archie semoga kamu damai dan terungkap kasus kalian hiks... hiks....” Nyonya Ernest kembali menangisi nasib yang menimpa anak menantu dan cucu nya.
“Sabar Ma, kita berdoa aku sangat berharap Alamanda adalah cucu kita.. kita urus ini sampai tuntas. Aku akan minta Dokter Willy melakukan test DNA pada Alamanda secara diam diam. Jangan sampai keluarga Irawan dan Sam tahu lebih dulu Ma. Kita juga tidak tahu bagaimana reaksi keluarga Irawan jika tahu kalau Alamanda adalah cucu kita.” Ucap Tuan Ernest yang sudah berada di dekat tempat duduk istrinya sambil mengusap usap punggung istrinya.
Sesaat hand milik Tuan Ernest berdering, Tuan Ernest pun segera mengambil hand phone dari saku kemejanya.
“Nona Eveline.” Gumam Tuan Ernest lalu segera menggeser tombol hijau.