Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 39. Mencari Informasi Keluarga Alamanda


Di dalam ruang ICU, setelah memakai baju khusus Marcel segera menuju ke ruang di mana Nyonya Hanson berada. Marcel melangkah dengan cepat.


“Tuan, pasien terus saja memanggil manggil nama Anda.” Ucap petugas medis yang ada di dekat pembaringan Nyonya Hanson.


“Marcel... Marcel....” gumam lirih Nyonya Hanson dan mata masih terpejam


“Marcel... Marcel...” gumam lirih Nyonya Hanson lagi.


“Ma, ini aku di sini Ma..” ucap lirih Marcel yang sudah duduk di kursi dekat pembaringan Nyonya Hanson. Telapak tangan kekar Marcel pun memegang telapak tangan Sang Mama yang terasa sangat lemah namun sudah tidak lagi dingin seperti saat tergeletak di lantai kamar.


“Marcel... Maaf... Maaf... “ gumam lirih Nyonya Hanson lagi.


“Iya Ma, semua salah Mama, Marcel maafkan.” Ucap lirih Marcel masih memegang telapak tangan Sang Mama.


Sesaat Alamanda pun juga melangkah masuk dan berjalan mendekati tempat pembaringan Nyonya Hanson. Alamanda lalu berdiri tidak jauh dari tempat duduk Marcel. Sekilas Marcel menoleh dan menatap Alamanda.


“Maaf....” gumam lirih Nyonya Hanson lagi. Dan kini air mata mulai mengalir dari ujung kedua mata Nyonya Hanson.


“Ma... Marcel maafkan semua kesalahan Mama. Mama tidak usah khawatir dengan ancaman Tante Leli. Bagaimana pun Mama adalah orang yang sudah melahirkan Marcel, aku tidak akan mengusir Mama. Mama juga harus minta maaf pada Mama Wijaya.” Ucap Marcel sambil ujung jarinya menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua ujung mata Sang Mama. Alamanda yang berdiri di dekat Marcel hanya diam saja. Akan tetapi dia sedikit bahagia sebab tanda tanda Nyonya Hanson membaik sudah ada.


Dan tidak lama kemudian Dokter Willy yang sudah dihubungi oleh tenaga medis yang menunggu Nyonya Hanson, tampak berjalan mendekat. Dan selanjutnya Dokter Willy tampak memeriksa Nyonya Hanson.


“Kondisi Nyonya Hanson sudah lebih membaik Tuan Marcel. Hari ini sudah bisa dipindah ke ruang perawatan.” Ucap Dokter Willy setelah selesai memeriksa Nyonya Hanson. Dokter Willy sekilas menatap Alamanda yang masih berdiri di dekat Marcel, Dokter Willy belum tahu jika ada hubungan asmara antara Alamanda dan Marcel, dia malah menduga Alamanda ada hubungan asmara dengan Henry karena dia pernah melihat Henry menjemput Alamanda.


Saat Alamanda masih berdiri tiba tiba terasa hand phone yang ada di saku baju seragamnya bergetar getar. Tangan Alamanda pun meraih hand phone yang dia mode getar saja itu. Saat di lihat di layar hand phone miliknya tertera nama kontak Nyonya Ernest sedang melakukan panggilan suara, Alamanda segera menggeser tombol hijau.


“Aku sudah keluar dari ruang periksa. Aku tunggu kamu. Cepat!” Suara Nyonya Ernest di balik hand phone milik Alamanda.


“Baik Nyonya.” Ucap Alamanda dengan santun dan sambungan telepon pun sudah diputus oleh Nyonya Ernest setelah Alamanda menjawab.


Alamanda pun segera pamit pada mereka yang ada di dalam ruangan ICU Nyonya Hanson itu, dan dia segera melangkah keluar.


“Dok, apa kontrak kerja Ners Alamanda dengan keluarga Ernestan bisa dibatalkan?” tanya Marcel dengan nada serius sambil menatap Dokter Willy.


“Itu tergantung dari pihak keluarga Ernestan, Tuan. Jika dari kedua belah pihak tidak ada yang menyalahi kontrak pihak rumah sakit tidak bisa membatalkan kontrak kerja itu.” Jawab Dokter Willy sambil menatap wajah Marcel.


“Jadi saya harus menghubungi keluarga Ernestan?” tanya Marcel pada Dokter Willy dan Dokter Willy hanya mengangguk pelan. Dia mengira Marcel ingin mengontrak Alamanda untuk merawat Nyonya Hanson.


“Marcel....” ucap Nyonya Hanson dan kini kedua matanya sudah terbuka.


Sementara itu di lain tempat, di lokasi sekitar di rumah Alamanda. Dua orang suruhan Tuan Ernest sudah mulai bekerja untuk mencari informasi tentang keluarga Alamanda. Mereka berdua mendapat alamat Alamanda dari Tuan Ernestan.


Dua orang itu memakai jaket kulit berwarna hitam hitam dan memakai kaca mata hitam pula. Mereka berdua berjalan di jalan gang.


“Sepertinya warung kecil itu rumahnya.” Ucap salah satu laki laki itu sambil dagunya terangkat menunjuk ke arah warung kecil milik orang tua Alamanda.


“Kebetulan kita bisa beli rokok di warung itu sambil tanya tanya.” Ucap laki laki satunya. Dan dua laki laki itu terus berjalan menuju ke warung milik orang tua Alamanda.


“Permisi...” ucap salah satu laki laki suruhan Tuan Ernest itu saat sudah berada di depan warung kecil. Mamanya Alamanda yang mendengar ada suara orang segera keluar dari dalam rumahnya dan berjalan menuju ke warung saat yang dilihat adalah dua orang laki laki dengan mengenakan jaket hitam hitam dan kaca mata hitam. Mamanya Alamanda sangat ketakutan karena kasus penyiraman air keras pada Alamanda yang belum lama ini. Mamanya Alamanda kembali masuk ke dalam rumah sebelum laki laki itu melihat dirinya.


“Haduh apa mereka teman teman penjahat itu. Tidak terima jika teman temannya ditangkap. Minta Alamanda agar mencabut laporannya. Terus mengancam aku.” Gumam Mamanya Alamanda dalam hati dengan ekspresi wajah tampak panik dan ketakutan.


“Haduh bagaimana ini? Aku sendirian di rumah. Papa sedang pergi kulakan, Jasmine dan Iqbal masih sekolah. Aku sendirian di rumah.” Gumam Mamanya Alamanda tampak bingung.


“Permisi... beli rokok!” teriak laki laki suruhan Tuan Ernest itu dengan suara lebih keras.


“Tidak jual rokok!” teriak Mamanya Alamanda dari dalam, dia secara spontan mengucapkan hal itu karena begitu takutnya.


Dua laki laki yang berada di depan warung itu tampak heran sebab mereka berdua melihat di etalase ada dagangan rokok.


“Mungkin dia takut melihat kita.” Ucap salah satu laki laki suruhan Tuan Ernest.


“Ya sudah kita cari cara lain.” Ucap temannya.


Dan di saat dua laki laki itu membalikkan tubuhnya dan akan melangkah meninggalkan warung. Tampak sosok Pak Irawan, Papanya Alamanda berjalan dengan tangan kanannya menarik belanjaan yang dia taruh pada papan beroda. Dia memang belanja menggunakan transportasi umum, sebab motor satu satunya digunakan Jasmine untuk sekolah.


“Hei, pergi kalian dari rumahku jangan ganggu keluargaku!” teriak Pak Irawan dengan keras dan nada penuh emosi. Akan tetapi dia menghentikan langkahnya untuk jaga jarak aman dengan dua laki laki yang mencurigakan baginya itu. Sama seperti istrinya Pak Irawan juga paranoid pada kasus yang baru saja menimpa Alamanda.


“Tolong... Tolong....” teriak Pak Irawan dengan lantang dan dia menutupi wajahnya dengan lengannya. Karena khawatir jika dua laki laki itu akan melempar air keras pada wajahnya.


Dua laki laki suruhan Tuan Ernest itu tampak bingung dan panik, lalu segera berlari sebelum orang orang kampung menyerbu mereka berdua. Dan Pak Irawan masih berteriak teriak minta tolong sambil menutup wajahnya dengan lengannya.