Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 41. Hak Asuh Charlotte


“Mama.” Ucap Marcel dengan nada dan ekspresi wajah yang sangat kaget saat di depannya berdiri sosok Nyonya Wijaya, Mamanya Patricia. Marcel lalu menjabat tangan Nyonya Wijaya dan mencium punggung tangan Nyonya Wijaya.


“Aku ditelepon Charlotte, aku disuruh ke sini. Katanya Oma Hanson sakit.” Ucap Nyonya Wijaya dengan pandangan mata tertuju ke dalam ruang rawat, untuk melihat sosok Sang besan perempuan yang sudah menyakiti hatinya.


“Ma, maafkan Mama Hanson..” ucap Marcel dengan penuh permohonan.


“Charlotte juga bilang seperti itu. Cel..” ucap Nyonya Wijaya sambil menepuk nepuk pundak Marcel lalu mereka berdua berjalan masuk ke dalam ruang rawat Nyonya Hanson.


Melihat besan perempuannya yang datang. Wajah Nyonya Hanson langsung menegang, air mata kembali meleleh dan kedua telapak tangannya menutupi wajahnya.


“Maafkan aku.... hiks... hiks... hiks...” suara lirih Nyonya Hanson sambil terisak isak hingga bahunya bergoncang goncang. Marcel menarik kursi agar Mama Wijaya duduk di kursi di dekat pembaringan Nyonya Hanson.


“Aku maafkan kesalahan masa lalu, yang penting jangan diulangi lagi. Nyawa orang orang yang kita cintai menjadi korban hanya karena kelakuan memalukan itu.” Ucap Nyonya Wijaya tampak masih ada nada kesal di kalimat kalimat belakangan. Karena meninggalnya Tuan Hanson kaget saat mengetahui isterinya selingkuh dengan suaminya. Dan kondisi Patricia juga semakin memburuk karena memikirkan hal itu dan masih ditambah dengan keinginan mertua akan cucu laki laki.


“Iya, aku tidak akan mengulangi lagi hiks ... hiks... meskipun aku sudah menjadi janda aku tidak akan lagi mengganggu suami kamu hiks... hiks....” ucap Nyonya Hanson masih terisak isak.


“Keterlaluan jika itu diulangi lagi, macam tidak ada laki laki lain saja. Mengganggu suami orang, besan sendiri lagi.” Gumam Nyonya Wijaya masih dengan nada kesal. Mungkin kalau tidak karena cucu perempuannya Nyonya Wijaya masih enggan untuk menemui Nyonya Hanson.


“Ya sudah semoga cepat sembuh. Pengalaman buruk dan pahit masa lalu jadikan pelajaran, senang sesaat tapi malu dan nyawa anggota keluarga korbannya.” Ucap Nyonya Wijaya yang kini mengusap usap lengan Nyonya Hanson.


“Iya iya... terima kasih sudah ke sini dan memaafkan aku.” Ucap Nyonya Hanson sambil menghapus air matanya.


Dan selanjutnya Nyonya Wijaya pamit pada Nyonya Hanson. Nyonya Wijaya bangkit berdiri dan menoleh ke arah Marcel. Lalu dia menarik tangan Marcel untuk diajak berjalan keluar dari ruang rawat itu.


Di saat sudah sampai di depan pintu ruang rawat.


“Hmmm aku dengar dari Charlotte kamu akan melamar seorang gadis?” tanya Nyonya Wijaya sambil menatap tajam wajah Marcel.


“Iya Ma, untuk menggantikan Patricia. Menjadi Mamanya Charlotte dan pendamping saya.” Ucap Marcel sambil menganggukkan kepala.


“Cel, aku sudah maafkan Nyonya Hanson tapi sebagai gantinya aku minta hak asuh Charlotte. Aku khawatir dengan cucuku jika diasuh oleh Mama tiri.” Ucap Nyonya Wijaya dengan nada serius dan menatap tajam pada Marcel.


“Ma, dia gadis yang baik dan sangat sayang pada Charlotte.” Ucap Marcel dengan nada dan ekspresi kaget tidak menyangka jika Nyonya Wijaya akan meminta hak asuh anaknya.


“Banyak perempuan bersikap seperti itu jika mendekati duda kaya beranak. Baik baik di awal pada anak tirinya, dan setelah dia punya anak sendiri berusaha untuk menyingkirkan anak tirinya.” Ucap Nyonya Wijaya dengan nada serius pula.


“Ma, sepertinya gadis itu tidak seperti itu.” Ucap Marcel yang tidak rela jika Alamanda dicurigai berniat jahat dan tidak rela hak asuh Charlotte diminta oleh Sang mertua.


“Ma, saya akan menikah lagi yang utama untuk mencari Mama buat Charlotte.” Ucap Marcel dengan nada serius.


“Sudah aku pamit aku akan menemui Charlotte.” Ucap Nyonya Wijaya lalu melangkah pergi.


Marcel berdiri mematung, lalu dia tampak mengusap wajahnya dengan kasar. Ekspresi wajahnya tampak bingung dan khawatir.


“Charlotte harus selalu bersama aku sampai kapanku, dia sebagian besar dari hidupku.” Ucap Marcel lalu dia mengambil hand phone dari saku kemejanya. Lalu dia mengusap usap layar hand phone miliknya untuk menghubungi Henry, dan menyuruh Henry untuk terus menjaga Charlotte agar jangan sampai diambil oleh Nyonya Wijaya atau orang lain suruhan Nyonya Wijaya.


“Kamu terus jaga Charlotte. Ke mana pun Charlotte pergi. Oma Wijaya akan berkunjung ke Mansion untuk menemui Charlotte, jangan diizinkan kalau membawa keluar Charlotte dari Mansion.” Ucap Marcel yang khawatir jika Nyonya Wijaya akan langsung membawa Charlotte.


Sementara itu di lain tempat. Di mansion Ernestan, di ruang kerjanya Tuan Ernestan masih menelepon Dokter Willy untuk menanyakan keluarga Alamanda.


“Setahu saya, dia dari keluarga sederhana Tuan. Alamanda bekerja keras dan mencari tambahan penghasilan untuk membantu orang tuanya.” Suara Dokter Willy di balik hand phone milik Tuan Ernest.


“Apa Dokter kenal dengan orang tua perawat itu?” tanya Tuan Ernest.


“Saya tidak mengenal orang tuanya. Meskipun saya pernah mengantar Ners Alamanda pulang ke rumah tapi saya hanya mengantar sampai di mulut gang. Karena mobil tidak bisa masuk ke jalan gang yang sempit itu.” Suara Dokter Willy lagi.


“Maaf Tuan Ernest apa Ners Alamanda berbuat kesalahan?” tanya Dokter Willy selanjutnya.


“Hmmm tidak tidak... ya sudah.” Ucap Tuan Ernest lalu dia memutus sambungan teleponnya dengan Dokter Willy. Tuan Ernest tidak mengatakan pada Dokter Willy tentang kemiripan Alamanda dengan Debora. Sebab Dokter Willy tidak mengenal Debora. Dokter Willy menjadi Dokter keluarga Tuan Ernest baru lima tahun belakangan ini, untuk menggantikan Dokter keluarganya yang sudah meninggal karena usia sudah tua.


Tuan Ernest lalu bangkit berdiri dan berjalan keluar dari ruang kerjanya. Dia terus melangkah untuk menuju ke kamarnya, karena dia akan beristirahat.


Saat dia sudah berjalan dan tidak jauh lagi dari kamarnya. Dia melihat Tuan Sam sedang berada di depan pintu kamar Alamanda.


“Ada urusan apa Sam di depan kamar perawat itu?” tanya Tuan Ernest pada dirinya sendiri di dalam hati. Tuan Ernestan mempercepat langkah kakinya.


Tuan Sam yang mendengar ada suara langkah kaki, dia segera menoleh ke arah suara langkah kaki itu. Tuan Sam tampak kaget saat melihat sosok Tuan Ernest yang sedang berjalan menuju ke arah kamar. Lalu dia dengan cepat cepat melangkah meninggalkan tempat itu.


“Sam! Sam!” teriak Tuan Ernestan. Akan tetapi Tuan Sam pura pura tidak mendengar dan terus berlalu dengan lebih mempercepat langkah kakinya.


“Hmmm dia pasti juga melihat jika perawat itu sangat mirip dengan Debora. Pasti dia juga penasaran dengan perawat itu. Apa dia baru saja bertanya tanya pada perawat itu.” Gumam Tuan Ernest dalam hati lalu dia mempercepat langkah kakinya dan membiarkan Tuan Sam terus berlalu.


Sesaat Tuan Ernest sudah sampai di depan pintu kamarnya, dengan cepat dia membuka pintu kamar itu. Dan saat melihat di dalam kamar Tuan Ernest tampak kaget....


“Lah...?” ucap Tuan Ernest dengan nada dan ekspresi kaget.