
Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah sampai di gedung tempat para karyawan teknisi bekerja.
Eveline terus melangkah menuju ke suatu ruangan yang akan dituju karena orang yang dia lacak lewat nomor hand phone berada di sana.
“Non di sini karyawan laki laki semua, maka Non saya antar mereka suka menggoda perempuan muda. Di sini ada banyak ruangan para teknisi. Ada bagian perlistrikan, permesinan, perledengan, pergasan.. he... he.. itu maksudnya kalau kompor gas bermasalah mereka yang menangani.. Non mau meninjau yang mana? Apa Non diperintah oleh Tuan Ernest?” ucap Ibu pelayan sambil terus melangkah
“Ooo iya kok saya belum melihat Tuan Sam ya..” ucap Ibu pelayan kemudian.
“Saya mau ke tempat orang yang mengurusi seluruh CCTV di Mansion ini. Kenapa CCTV di Mansion utama mati.” Ucap Eveline sambil terus berjalan.
“Ooo itu kata Tuan Sam kabelnya ada yang putus katanya dimakan tikus padahal tidak ada tikus. Saya bilang begitu malah orangnya marah marah.” Ucap Ibu pelayan dengan ekspresi wajah kesal.
“Maka kita tanya sekarang pada bagian teknisi.” Ucap Eveline sambil terus melangkah ibu pelayan pun juga terus melangkah di samping Eveline.
Kini mereka berdua sudah berada di depan pintu ruang kerja teknisi. Ibu pelayan senior mengira Eveline disuruh oleh Tuan Ernest sebab langkah kakinya bisa langsung tertuju pada ruang yang dimaksud tanpa bertanya tanya pada dirinya.
Ibu pelayan langsung memutar handel pintu dan mendorong daun pintu yang tidak terkunci itu. Di dalam ruangan itu tampak beberapa laki laki yang duduk di kursi kerjanya di depan komputer. Mereka sibuk dengan pekerjaannya masing masing.
“Ehhh ada tamu tidak diundang. Ada apa Bu pagi pagi datang membawa yang bening bening membikin kami semakin bersemangat kerja.” Ucap salah satu karyawan yang duduk di kursi kerja dekat pintu dia pimpinan di ruangan itu.
“Hehhhh kamu jangan macem macem. Ini Nona Eveline cucu Tuan Ernest mau tanya kenapa CCTV Mansion utama mati?” ucap ibu pelayan dengan mata melotot ke arah karyawan itu.
“Sudah kami perbaiki Bu, sekarang sudah berfungsi normal.” Ucap karyawan itu.
“Bisa dicek Non. Maaf saya kira ada karyawan baru di Mansion.” Ucap karyawan itu lagi yang kini tampak santun dan hormat pada Eveline dan Eveline menjawab dengan anggukan kepala.
Eveline terus melangkah menuju ke meja yang ada di pojok ruangan itu. Orang yang duduk di kursi kerja itu tampak sibuk dengan tuts tuts keyboard dan tidak begitu memedulikan yang datang.
“Heh.. kamu sekarang ikut aku.” Ucap Eveline sambil menepuk pundak lagi laki itu.
“Ada apa ini?” tanya laki laki itu sambil menoleh ke arah Eveline, ekspresi wajahnya tampak kaget.
“Berapa kamu dibayar oleh Tuan Sam?” tanya Eveline lagi.
“Oooo makanya motor sport kamu baru.” Ucap salah satu karyawan yang duduk dekat mereka berada yang sejak tadi ikut mendengarkan ucapan Eveline.
“Tidak. Bukan aku yang melakukan. Bukannya itu karena ada kabel yang putus karena tikus.” Ucap laki laki itu berkilah. Melihat tampak Eveline sedang berbicara serius ibu pelayan pun juga turut serta berjalan mendekati Eveline sebab dia mengkhawatirkan Eveline.
“Kamu mau bukti hah?” tanya Eveline dengan kesal sebab orang itu tidak mengakui.
“Lihat ini semua.” Ucap Eveline sambil menunjukkan hand phone milik nya yang layarnya sudah menampilkan history chattingan nomor hand phone milik Tuan Sam dengan nomor hand phone milik laki laki itu.
“Dan dengar ini.” Ucap Eveline lagi yang kini memperdengarkan rekaman suara percakapan Tuan Sam dengan laki laki itu yang isinya rencana mematikan CCTV di Mansion Utama.
“Ealahhhh kamu toh tikusnya.” Ucap Ibu pelayan dengan nada kesal.
“Dan masih ada satu orang lagi..” ucap Eveline.
Akan tetapi tiba tiba ada satu orang karyawan yang berdiri dari tempat duduknya dan melangkah mendekati Eveline. Satu tangannya membawa satu obeng. Dari ekspresi wajah dan gestur tubuhnya tampak laki laki itu sangat emosi.
Tangannya menggenggam erat obeng itu dan terus melangkah menuju ke tempat Eveline berdiri.
“Kamu jangan sembarangan menuduh kami yang ada di sini. Aku cungkil mata kamu baru tahu rasa.” Ancam laki laki yang membawa obeng itu dan mengarahkan ujung obeng ke mata Eveline.
“Hei jangan emosi kamu, semua bisa diselesaikan dengan kepala dingin.” Ucap karyawan yang menjadi pimpinan di ruang itu. Sambil melangkah mendekati orang yang membawa obeng itu.
“Non, ayo kita keluar, biar ditangani oleh dia pimpinan mereka. Non berikan saja buktinya itu pada pimpinan mereka .” ucap Ibu pelayan dengan tangan sudah mulai gemetaran.
“Ibu silakan keluar dulu, saya harus segera menyelesaikan masalah ini.” Ucap Eveline sambil menatap Ibu pelayan namun terus dalam mode waspada terutama pada laki laki yang membawa obeng dan laki laki yang duduk di kursi kerja pojok ruang.