Alamanda, Perawat Untuk Anakku

Alamanda, Perawat Untuk Anakku
Bab. 103.


Di saat Marcel sudah membaringkan tubuh Alamanda di atas tempat tidur dengan penuh gelora cinta yang membara. Dan Marcel pun juga sudah akan naik ke atas tempat tidur. Tiba Tiba pintu terbuka dengan lebar.


“Papa.. Nenek Suster Rita mau bertemu Papa. “ teriak Charlotte yang masih digendong oleh Nenek Oji dan sudah mulai melangkah masuk ke dalam kamar.


“Hmmm kenapa pintu tidak kamu kunci.” Ucap Marcel sambil memijit mijit kepalanya dan tidak jadi naik ke atas tempat tidur.


“Aku kan sudah katakan Pa, kalau akan ada tamu.” Ucap Alamanda yang segera bangkit dari terbaringnya. Dia sangat bersyukur suami nya belum membuka buka pakaiannya.


“Pa, Nenek Suster Rita menunggu di luar.” Ucap Charlotte yang masih digendong oleh Nenek Oji. Nenek Oji tersenyum menatap Marcel yang wajahnya tampak kusut karena memendam geloranya.


“Tuan cucu mantu temui sebentar Suster Rita yang sudah menolong kelahiran Alamanda dan yang sudah membantu kami. Dan nanti Tuan bisa lanjutkan lagi. Saya dan Charlotte akan buat jamu kuat makan he... he... he....." ucap Nenek Oji sambil tertawa dan Charlotte pun mengangguk angguk setuju yang dia tahu akan segera dibuatkan jamu.


Marcel pun segera melangkah untuk menemui Suster Rita. Sementara itu Nenek Oji yang masih menggendong Charlotte juga melangkah keluar dari kamar.


“Ayo Nona kita buat jamu kuat buat Nona Charlotte. Kita pulang ke rumah Nenek Oji ya.. kita buat jamu di sana . Alat alatnya ada di rumah Nenek.” Ucap Nenek Oji sambil tersenyum. Nenek Oji akan memberi kesempatan pada Marcel dan Alamanda untuk berdua di kamar sepuas puasnya.


“Nanti selesai Nona minum jamu kuat. Nenek pijiti tubuh Nona biar enak ya...” ucap Nenek Oji lagi dan Charlotte pun tersenyum lebar.


“Nanti tubuhku bisa tambah kuat ya Nek...” ucap Charlotte dan Nenek Oji terus melangkah semakin menjauh dari kamar pengantin. Terdengar sayup sayup Nenek Oji dan Charlotte masih terus berbicara. Tampaknya Charlotte sudah mulai akrab dengan Nenek Oji.


Marcel tampak duduk di kursi teras kamar yang tidak jauh dari Suster Rita. Suster Rita banyak memberi pesan dan nasihat pada Marcel agar Marcel menjaga Alamanda dengan baik. Tampak Marcel mengangguk angguk mengiyakan semua pesan dan nasihat Suster Rita, berharap agar Suster Rita segera pamit. Sebab burung milik Marcel masih saja menegang.


Melihat ekspresi wajah Marcel yang gelisah namun dengan santun terus mengangguk anggukkan kepalanya. Suster Rita pun lalu tahu diri dan segera mohon diri.


“Tuan, saya sangat berharap Tuan menjaga dengan baik Alamanda.” Ucap Suster Rita sekali lagi.


“Baik Suster.” Ucap Marcel mengangguk dan kedua telapak tangannya menutup bagian burungnya. Layaknya orang yang sangat santun padahal dia menutup burungnya yang masih meronta minta segera masuk ke sarang hangatnya.


“Sayang.. kamu di mana?” teriak Marcel yang tidak melihat sosok Alamanda.


“Hmmm apa dia sedang di kamar mandi? Luluran lagi? Aku sudah tidak sabar untuk bermain main di atas tempat tidur.” Gumam Marcel sambil berjalan dengan cepat menuju ke kamar mandi.


Akan tetapi setelah membuka pintu kamar mandi Marcel juga tidak melihat sosok Alamanda, Marcel terus melangkah menuju bath up tidak juga tercium aroma lulur Alamanda. Bath up pun kosong melompong tidak ada tubuh mulus Alamanda di sana.


“Hmm di mana isteriku. Al apa kamu tidak tahu burungku sudah keras begini..” ucap Marcel lalu melangkah keluar dari kamar mandi.


“Sayang.. kamu di mana?” teriak Marcel lagi, namun tetap tidak ada suara jawaban dari Alamanda.


Sementara itu, Alamanda sedang duduk di kursi balkon.


“Kak Marcel pasti sudah minum habis jamu itu. Padahal sore nanti Dokter Willy akan datang. Bagaimana kalau aku kesulitan jalan seperti Mama. Kak Marcel kenapa tidak sabar menunggu malam nanti.” Gumam Alamanda yang masih gelisah memikirkan serangan yang bakal diterima.


Tidak lama kemudian pintu kamar yang menuju ke balkon itu terbuka. Marcel yang melihat ada sosok istrinya di depan matanya langsung bibirnya tersenyum dan hatinya sangat lega.


“Sayang.. aku cari cari dan aku panggil panggil kamu...” ucap Marcel sambil melangkah mendekati Alamanda.


“Pa, nanti aku harus ke kamar Tuan dan Nyonya Ernest, Dokter Willy nanti akan datang akan memeriksa Nyonya Ernest, aku juga harus tahu hasil pengembangan kesehatannya. Tadi aku lihat wajah Nyonya Ernest sangat sedih dan gelisah. Sepertinya dia sangat menginginkan kalung dan liontin ini...” ucap Alamanda yang tadi memperhatikan ekspresi wajah Nyonya Ernest.


“Hmmm ya sudah kamu kasihkan saja.. besok kamu pesan lagi yang kamu suka... “ ucap Marcel sambil menggendong tubuh Alamanda karena sudah tidak sabar akibat reaksi jamu.


“Sudah aku tawarkan, tapi dia tidak mau katanya sudah tidak menginginkan lagi. Tapi mereka berdua masih saja mencari Suster Rita ingin tahu suster Rita mendapat kalung ini dari mana... “ ucap Alamanda di dalam gendongan Marcel. Marcel hanya diam saja tidak menghiraukan masalah kalung dan liontin. Baginya itu bukan suatu masalah karena Marcel belum tahu tentang sejarah kalung dan liontin itu.


Marcel pun mencium bibir Alamanda dan cara itu sangat mujarab membuat Alamanda terdiam tidak lagi membicarakan masalah kalung dan liontin.