Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Rencana Penyerangan


Selamat Membaca


•••


Hari, minggu serta bulan telah berlalu. Hari-hari itu pula mengantarkan kedekatan semua murid di kelas XII IPS 1. Baik itu yang pendiam, antisosial, miskin maupun kaya tak membuat alasan tak bersatunya seluruh penghuni kelas XII IPS 1.


Pernah suatu hari, salah satu siswi di kelas XIIIPS 1 yang latar belakangnya dari keluarga miskin serta culun. Dia di bully oleh adik tingkat nya sendiri, yang mana tiga orang siswi adik tingkat yang baru kelas sepuluh merasa berasal dari keluarga berpengaruh serta donatur di sekolah membuatnya besar kepala.


Tapi pembully an tak berlangsung lama, karena saat teman sekelasnya yaitu selurih penghuni XII IPS 1 tahu, maka habislah adik tingkat itu sampai-sampai ketiganya di keluarkan dari sekolah dengan tidak terhormat.


Dari semenjak itulah kelas XII IPS 1 disegani oleh semua kelas bahkan guru.


Jangan remehkan meski kelas yang menyandang nama satu adalah kelas di mana hampir semua penghuninya adalah murid pintar tapi jangan berpikir kalau mereka itu hanya membaca buku, tapi hampir semua dari mereka telah di ajarkan oleh Nadhira serta teman-temannya bela diri, jadi tak ada lagi yang berani dengan mereka, tapi yang pasti mereka tidak menyalahgunakan kemampuan mereka untuk hal yang salah. Karena mereka takut dengan akibatnya, kalau anggap saja ketua mereka, Nadhira mengetahui, habis mereka.


Seperti hari ini, salah satu teman mereka yaitu Gilang yang ternyata ketua dari sebuah geng motor di keroyok oleh musuh mereka sampai dia masuk rumah sakit.


Seluruh penghuni kelas XII IPS 1 merasa marah dan mereka berencana membalasnya.


Meja di satukan di tengah kelas dan selanjutnya masing-masing dari mereka duduk memutar meja yang telah di susun di tengah.


"Apa rencana kita untuk membalas mereka?" Dia Tati, nerd yang hanya di permukaan tapi tidak dengan di dalamnya.


"Apa kita harus menyerang markas mereka?" Usul Marko, nerd berkacamata, sekaligus siswa terpintar di kelas setelah Nadhira.


Dua nerd yang terkenal dari kelas XII IPS 1. Meski nerd, tapi tak ada yang berani membully mereka. Sebab meski nerd, akan tetapi kalau mengenai masalah saudara mereka, penghuni kelas XII IPS 1, maka mereka lebih menyeramkan daripada orang yang terlihat normal di permukaan.


"Siapa yang tahu markas mereka?" Tanya Bagas melihat satu-persatu penghuni kelas melihat apakah ada yang tahu.


Mereka menggeleng, tapi...


"Di jalan X, di belakang bangunan tua terbengkalai," jawab tenang seseorang.


Semua orang menatapnya dan dia adalah Nadhira yang dari tadi diam mendengar semua orang.


"Bagus! Kita serang mereka tanpa peringatan. Sama halnya mereka mengeroyok Gilang tanpa memberitahu," ucap Rangga dan diangguki mereka semua.


...•••...


Hari yang telah di janjikan telah tiba. Tinggak menunggu beberapa jam lagi mereka akan siap berangkat ke tempat tujuan. Tapi sebelum itu mereka menyempatkan diri untuk menjenguk Gilang yang di rumah sakit.


"Kau sudah mendingan?" Tanya Clara.


"Hm, lumayan," jawab Gilang.


"Kalian mau kemana ramai-ramai begini?" Tanyanya.


Mereka semua mengalihkan pandangan kearah lain, bahkan ada yang pura-pura tak mendengar dan beralih berbicara dengan bundanya Gilang.


Ya, di ruangan itu, bukan hanya mereka saja yang ada, tapi bunda, ayah, kakak dan adik dari Gilang juga ada.


Mereka mulanya kaget, tapi karena mereka di sambut dengan ramah mereka semua pun masuk, dan membuat ruangan VVIP itu sesak.


"Hm? Ira?" Gilang menuntut jawaban jadi satu-satunya orang yang tak beralih dari tempatnya sambil memainkan ponselnya.


Nadhira mendongak saat namanya di panggil. Melihat pandangan Gilang dia berlaih melihat sekitar dan kembali menatap Gilang.


"Penyerbuan," jawab Nadhira.


"Hah?"


"Mereka ingin menyerang markas BlackDragon,"


"Apa? Kalian gila? Itu berbahaya! Aku tahu kalian kuat, tapi mereka banyal! Apalagi di markas mereka. Kalian cari mati," Gilang tak habis pikir dengan teman-teman nya? Kapan dia mengakui mereka teman. Dia juga tidak tahu, semua ini mengalir begitu saja tanpa dia sadari.


"Tidak, bukan begitu! Tapi kalian hanya berjumlah 32 orang, mereka banyak, hampir 100 orang lebih. Itu hanya di markas, belum lagi yang diluaran," Gilang.


"Benar nak, Gilang juga tidak apa-apa lagi. Om juga sudah mengurus mereka, yah meski hanya beberapa sih," ucap ayah Gilang.


"Emang om ngapain?" Tanya Clara.


"Bukan om sih, tepatnya abang tertuanya gilang. Dia sudah membuat perusahaan-perusahaan keluarga mereka yang terlibat di pengeroyokan itu mengalami krisis," jelas ayah Gilang.


"Ei? Gilang punya abang?" Mereka baru tahu akan itu, karena selama berteman dengan Gilang dan juga mereka sering ke rumah Gilang, mereka tak pernah bertemu dengan abangnya, Gilang pun tak pernah mengatakannya. Mereka hanya tahu Gilang mempunyai kakak perempuan bernama Gania dan adik laki-laki bernama Geo.


"Kenapa dia ikut campur?" Wajah Gilang mengeras, sepertinya dia tidak senang.


"Gilang, dia itu abang kamu, dia sayang denganmu. Saat bunda mengatakan kamu masuk rumah sakit dia langsung ingin kesini, tapi kau tahu dia tidak dapat kesini sembarangan, jadi dia melakukannya dari sana," jelas Bunda Gilang lembut.


"Emm, maaf tante, kami permisi pamit dulu," ucap Rima sopan.


"Kalian sudah mau pulang?" Tanya Bunda Gilang.


"Jangan bilang kalian akan tetap menyerang?" Tanya Gilang was was.


Dan ya, raut wajah semua temannya menjadi serius dan mengangguk pasti.


"Mereka harus di bubarkan. Bukan kau saja yang jadi begini, bahkan warga biasa juga mengalaminya. Mereka bukan geng yang hanya untuk bersenang-senang, tapi mereka merasahkan warga. Mereka balapan liar di jalanan raya dengan banyak pengendara lain. Mereka juga sering memalak bahkan memukuli mereka yang tidak menurut dengan mereka, jadi kau jangan khawatir. Ini bukan untukmu saja, tapi untuk semua orang,"


Saat Gilang hendak menyahuti perkataan Nadhira, Nadhira lebih dulu memotong.


"Aku tahu kalau ketuanya bukan orang seperti itu, tapi dia seorang ketua yang tidak becus mengatur bawahannya. Kau tahu banyak dari mereka yang mengaku-ngaku sebagai anggota BlackDragon, tapi sebenarnya bukan. Mereka menumpang nama tanpa seengetahuan ketuanya. Apakah pantas di sebut ketua jika membedakan anggota nya saja tidak tahu? Kau bilang anggota mereka banyak kan? Kau salah, sebenarnya anggota asli mereka hanya 50 orang saja, dan sisanya orang yang masuk oleh usulan dari 50 anggota tersebut. Menurutmu seberapa hebat mereka?"


Nadhira membeberkan semua yang dia ketahui. Apa yang dia tidak tahu? BlackDragon? Geng itu adalah Geng yang ketuanya adalah seseorang yang dia tolong. BlackDragon juga sebenarnya sudah bubar, tapi karena keangkuhan para anggota yang berasal dari keluarga berada tak dapat di kendalikan oleh Zyan sang ketua lagi, jadi dia menyerah dan membiarkannya tanpa tahu akibat kedepannya.


Sudah lama Nadhira tidak bertemu dengan nya, hampir satu tahun dan sekarang dia mendengar kabar ini membuatnya geram.


Kalau saja tidak ada kejadian Gilang di keroyok, dia tidak akan tahu kalau geng itu sudah meresahkan semua orang.


"Bagaimana kau bisa tahu?" Gilang masih tak mengerti sosok gadis yang berstatus teman sekelasnya ini. Dari awal bertemu dia sudah merasa penasaran akan tetapi sepenasaran dirinya, tetap saja dirinya tak mampu memahaminya.


"Zyan bukan ketuanya?" Diangguki Gilang.


"Aku kenal dia, kami menyerang juga untuk membuat anggota nya jera. Kalau hanya berbicara dengan ketuanya percuma. Toh ketuanya saja tak sanggup lagi mengatur bawahannya,"


Hah hari ini Nadhira cukup lelah karena kebanyakan bicara.


"Sudahlah! Toh kami tidak akan apa-apa! Karena kami sudah membuat rencana yang sangat matang," ucap Nadhira dan diangguki yakin oleh semuanya.


"Ahhh, terserah kalian lah, tapi tetap hati-hati!" Ucap Gilang pasrah. Inilah yang disukai Gilang terhadap semua temannya. Solidaritas mereka tinggi, satu sakit semua sakit.


"Kalian jangan terlalu memaksakan diri ya, hati-hati!" Ucap Bunda Gilang khawatir.


"Baik tante!" Jawab Clara.


Semua teman-teman Gilang sudah keluar, tertinggal Nadhira yang tak mau berdesakan keluar, tapi apakah bajunya tersangkut?


¤


¤


¤


Semoga Suka...