
Selamat Membaca...
•••••
Ting
Pintu lift terbuka, Nadhira belum keluar karena dia memiliki firasat yang menuruhnya menunggu sejenak di dalam lift. Sedangkan kedua pria di sampingnya barusan telah keluar dan berbelok ke arah kiri.
Nadhira yang menunduk karena lelah langsung mendongak dan waspada saat mendengar suara tembakan berasal dari arah kiri dimana kedua. pria itu berjalan.
Nadhira langsung menepi kesudut dinding lift. Menggunakan mata ajaibnya Nadhira mampu melihat keadaan di luar dengan menembus tembok.
"Terjadi aksi baku tembak?" Gumam Nadhira tak habis pikir dengan nasibnya yang harus menemui kejadian seperti ini. Bukan takut, akan tetapi dia malas dan saat ini dia butuh tidur.
Saat sedang terfokus menggerutu sambil melihat situasi di luar tiba-tiba...
Brukkk
Seseorang terkapar tak sadarkan diri tepat di depannya. Dia adalah salah satu dari dua pria yang bersama Nadhira barusan di dalam lift. Nadhira melihat bahwa pria itu masih bernafas, karena dia terkena luka tembak pada bagian perut nya saja, akan tetapi itu juga harus secepat nya di tangani.
Sedangkan yang satunya, bisa Nadhira lihat sedang bersembunyi di tiang sudut tembok sambil memegang pistol di tangannya.
Mata Nadhira menangkap beberapa orang lain yang juga bersembunyi di tiang tembok lainnya dengan memegang pistol juga.
Polisi? Penjahat? Masalah apa ya? Tebak Nadhira, tapi dia tidak tahu pasti masalah apa. Tapi demi menuju kasur empuknya yang ada di kamar hotel membuat Nadhira berniat membantu mereka. Akan tetapi yang tidak di ketahui Nadhira adalah perwira polisi tidak hanya berjumlah yang dia tahu saja. Masih ada yang bersembunyi di lain tempat. Tidak mungkin penyergapan hanya melibatkan beberapa perwira polisi, bukan?
Mata Nadhira berbinar saat melihat pistol pada pria yang tak sadarkan diri itu. Dia pelan-pelan membungkuk dan menarik pelan tubuh pria itu ke dalam lift yang masih terbuka karena terhalang oleh lengan pria yang tak sadarkan diri itu. Nadhira mengambil pistol yang terletak di samping pria itu kemudian memberikan pertolongan pertama untuk menghentikan pendarahan pria itu yang dua duga adalah polisi.
"Berhasil!" Gumam Nadhira setelah selesai mengobatinya dengan sedikit menyalurkan energi murni nya dan mengikat bagian luka agar tak mengeluarkan darah lagi.
Nadhira menggunakan mata ajaibnya lagi untuk melihat lebih jauh sudut seberang.
Kemungkinan mereka adalah target para polisi yang sudah diintai. Baku tembak terjadi karena para penjahat yang adalah para pengedar obat terlarang yang sedang berstransaksi di salah satu kamar hotel mengetahui bahwa para polisi telah mengepung mereka.
Jumlah polisi terdiri dari enam orang sedangkan para penjahat berjumlah sepuluh orang. Satu orang polisi telah tak sadarkan diri dan hanya tersisa lima dari mereka yang bertugas.
Malam sudah menunjukkan hampir jam 12 malam, Nadhira butuh tidur. Untuk mempercepat kerjaan para polisi Nadhira berniat membantu. Tapi sebelum itu dia melepas topengnya dan menggantinya dengan masker hitam. Dia juga tidak ingin ada yang mengenalinya nanti, jadi untuk antisipasi dia menggunakan masker daripada wajahnya terekspos.
Nadhira memulai aksinya dengan berguling dan bersembunyi seperti para polisi lainnya.
Para polisi terkejut melihat kehadiran Nadhira tapi mereka tak dapat berbuat apa-apa. Karena jika mereka keluar dari tempat persembunyian mereka, maka pihak musuh akan menembak.
"Suuuttt," salah satu polisi yang paling dekat dengan Nadhira bersiul memanggil Nadhira. Nadhira memahami kode itu dan menatap polisi itu.
"Mengapa kau kesini. Di sini berbahaya! Cepat pergilah!" Ucapnya.
Tatapan Nadhira datar, tak memiliki emosi apa pun itu membuat polisi itu tertegun sejenak. Apakah gadis itu tidak mengerti ucapannya? Pikir polisi itu. Tapi bukan itu yang membuat nya semakin terkejut, tapi saat melihat aksi nekad Nadhira yang berguling bersembunyi dengan lincahnya, mendekati kawanan penjahat itu.
Seperti tak menyadari ada yang mendekat para penjahat masih terfokus ke depan di mana para polisi bersembunyi.
Beberapa pasangan mata memperhatikan setiap gerak gerik Nadhira dari layar monitor.
Mereka adalah para perwira polisi lainnya dengan satu pria menggunakan masker hitam tepat di depan layar monitor untuk melihat pekerjaan tim nya. Saat ini mereka berada di hotel ANDALAS juga akan tetapi di sebuah kamar kamar yang telah di khususkan untuk memantau gerak gerik para pengedar.
Di telinganm nya terdapat earphone tanpa tali, dia terlihat berkomunikasi kepada seseorang. "Jangan lengah! Tetap waspada. Untuk gadis kecil kita lihat apa yang akan dia lakukan, kalau membahayakan diri nya bersiap beraksi," ucap nya datar.
"Siap laksanakan!" Jawab seseorang di seberang.
Yang lain juga hanya mendengarkan dan menyaksikan setiap gerak yang di lakukan tim mereka dan juga seorang gadis di layar monitor.
Nadhira yang sudah sangat dekat dengan ke sepuluh penjahat bersenjata itu pun...
Tak tak
Hanya enam peluru yang keluar dan mengenai lengan-lengan para penjahat, sisanya masih terkejut dengan perbuatan Nadhira. Peluru di pistol Nadhira sudah habis jadi hanya enam orang penjahat yang dapat di lumpuhkan Nadhira.
Tak membuang waktu untuk berpiki lagi, Nadhira berlari dengan kencang dan mengambil pistol yang terlepas dari tangan penjahat terdekatnya.
Kesepuluh penjahat tak diberi kesempatan Nadhira untuk membalas maupun terkejut dengan perbuatannya. Nadhira langsung membabat habis mereka semua, tanpa mampu membalas serangan nya.
Nadhira berpikir para penjahat menggunakan pistol hanya untuk menakuti dan menembak sembarangan, karena tidak ada skil apa pun yang di hadapi Nadhira saat melawan mereka semua. Hanya untuk membalas tembakan pun tidak ada.
Para polisi di belakang Nadhira tidak bisa tidak terkejut, tapi mereka langsung sadar dan langsung membekuk semua penjahat dengan memborgol mereka, meski tangan mereka terkena tembak tapi tetap di borgol.
Setelah semua telah di borgol Nadhira akan pergi akan tetapi di cegah oleh salah satu polisi yang mana dia adalah pria yang berada di ruang kamar sebelumnya yang mengamati semua kejadian melalui layar monitor.
Dia tidak menyangka gadis itu dengan mudah nya mengalahkan ke sepuluh penjahat itu, sedangkan para bawahannya telah tak sadarkan diri satu orang.
"Tunggu!"
Nadhira berbalik menghadap seseorang yang memanggilnya. "Ada apa?" Tanya Nadhira dengan nada lemah. Bukannya kelelahan akan tetapi dia sangat ngantuk.
"Oh maaf jika menunda waktu istirahatmu, tapi bisakah kami meminta keteranganmu mengenai semua ini?" Tanya nya. "Oh ya, perkenalkan namaku Bayu, seorang komandan polisi yang menangani kasus ini. Terimakasih sebelumnya telah membantu. Tapi kau juga telah melanggar hukum karena menggunakan pistol tanpa ijin. Tapi karena kau telah berperan besar dalam kesuksesan kasus ini dan juga telah melakukan pertolongan pertama kepada anggotaku yang membuatnya selamat dari kematian, maka kau di maafkan!" Ucap Bayu panjang lebar dengan datar.
"Bisakah kau menganggap aku tidak ada dalam kasusmu ini? Bukan apa, hanya saja aku tidak ingin berurusan dengan kepolisian!" Ucap Nadhira datar.
Kagum! Semua perwira polisi yang menyaksikan aksi Nadhira sungguh terpesona dengan kegesitan, kelincahan dan kemahiran Nadhira menggunakan pistol serta menembakkannya.
Mereka saja yang terus berlatih bertahun-tahun masih tak semahir Nadhira.
Berapa umur gadis itu?
Berapa lama dia berlatih?
Tak ada yang akan menjawabnya karena sekarang Nadhira telah pergi setelah disetujui oleh Bayu, tidak akan ada yang mengungkit bahwa dirinya berperan dalam penangkapan para pengedar narkoba di hotel ANDALAS.
"Komandan! Apa rencana selanjutnya?" Tanya salah satu polisi.
"Kita kembali ke kantor, panggil ahli medis untuk mengobati luka tembak pada para pengedar itu! Aku tidak habis pikir bagaimana gadis itu bisa dengan entengnya menembak lengan mereka," ucap Bayu yang merasa penasaran dengan identitas Nadhira yang menurutnya bukanlah gadis biasa. Pasalnya dia telah melihat semua yang di lakukan oleh Nadhira dari awal hingga akhir menembaki semua pengedar tepat di lengan di mana mereka memegang pistol dan dengan tepat menebak pistol akan terlempar atau jatuh jika dia menembaknya di lengan mereka.
¤
¤
¤
Semoga Suka...