
Selamat Membaca...
•••
Dan untuk mengerahkan bodyguard nya untuk mengawal Nadhira dia ragu. Dilihat dari wajah tak suka Nadhira, dia bukanlah orang yang suka di ikuti, pikirnya.
Ingin membantah kembali tapi terhenti saat ponselnya berdering.
Dia mengambil ponselnya dari dalam tas dan menjauhi dari mereka. Tak jauh, yang penting tidak terdengar, karena dia bicara sedikit berbisik juga.
"Ya?" Nadhira.
'....,'
"Baiklah!" Nadhira.
'....,'
"Hm," Nadhira.
Nadhira mengakhiri telponnya kembali ke arah Ganendra dan lainnya, menatap mereka satu persatu dan memutuskan.
"Baiklah saya setuju!" Putus Nadhira. Dia tak ada waktu untuk tawar menawar lagi, dia harus pergi.
"Kalau begitu saya pergi! Ah dimana Arlan? Saya harus pamit dengannya dulu," tanya Nadhira. Dia ingin langsung pergi, tapi tadi saja dia ingin pergi Arlan sudah sangat sedih.
"Kakak," panggil Arlan.
Arlan turun dari gendongan pengasuhnya dan berlari menghampiri Nadhira.
"Kakak mau pergi?" Tanya Arlan sedih.
"Iya! Tapi Arlan jangan khawatir, besok kakak kesini lagi!" Nadhira.
"Janji?!" Arlan menunjukkan jari kelingkingnya meminta Nadhira menautkan dengan jari kelingkingnya juga.
'Oh gemasnya,' batin Nadhira.
Nadhira menyatukan jari kelingking mereka dan berkata. "Besok kita bakal main sampai malam! Mau?" Diangguki antusias oleh Arlan.
"Kalau begitu kakak pulang dulu ya,"
Ganendra mendekat ke arah mereka berdua. "Arlan sama ayah dulu ya!" Diangguki Arlan.
"Saya pulang dulu! Permisi," Nadhira akan pergi tapi...
"Tunggu!" Dia Ganendra lagi?
"Apa lagi?!" Nadhira sudah jengah, daritadi terus ditahan. Kalau Arlan sih tak masalah.
"Pistol," Nadhira mengernyit dengan wajah bertanya 'Apa?'
"Pistol yang kau gunakan tadi, itu illegal! Apalagi kau masih baru melewati masa remajamu," jelas Ganendra sambil menadahkan tangannya meminta Nadhira menyerahkan pistol.
"Tidak bisa! Ini punya saya. Saya juga tidak menggunakannya sembarangan kok. Kalau ada hal mendesak saja saya gunakan," tolak Nadhira. Memang tidak terlalu sulit mendapatkan nya, akan tetapi kalau ingin memilikinya dia harus berhubungan dengan dunia bawah dulu, itu merepotkan.
"Jangan keras kepala! Saya bisa saja menangkap mu sekarang juga, karena kepemilikan senjata api illegal," Ganendra.
"Tidak! Saya tidak akan menyerahkannya. Kalau mau menangkap saya, tunggu saya keluar dari mension ini dulu dong, jangan main tangkap. Itu namanya curang," bagaimana tidak kesal. Sekarang dia berada di sarangnya, masa langsung ditangkap, kalau mau menangkap biarkan dia kabur dulu.
"Hah," Ganendra sampai lelah menghadapi remaja beranjak dewasa di hadapan nya ini. Kalau bukan gadis yang di sukainya, sudah dia seret tanpa pemberitahuan.
Tapi sesuka apapun dirinya kepada Nadhira, tapi kalau salah ya tetap salah. Dia menjunjung keadilan.
"Serahkan saja! Kalau karena kamu takut ada yang berniat jahat terhadapmu, aku akan memerintahkan beberapa bodyguard untuk mengawalmu bagaimana?" Tawar Ganendra.
"Tidak! Aku tidak ingin ada yang mengikutiku. Baiklah! Akan ku serahkan pistolku, tapi belati tidak kan?" Ucap Nadhira seraya menyerahkan piatolnya dengan berat hati.
Ganendra ingin menyanggah, akan tetapi keduluan Nadhira. "Tidak tidak! Cukup pistol itu, jangan belati ini," Nadhira tidak akan menyerah kan belati kesayangannya itu. Di kehidupan keduanya ini dia senantiasa ditemani belati kesayangannya itu setiap berkelahi, dia tidak akan menyerahkannya, meski Ganendra memaksa nya. Kalau pistol bisa dia dapatkan lagi nanti.
"Ya ya ya! Cukup pistol ini! Sekarang kau boleh pergi! Mau di antar?" Ganendra.
Tanpa menunggu ditahan kembali Nadhira pergi keluar dengan arahan pelayan. Mension itu sangat besar dan luas. Kalau dia nekat sendiri keluar, bisa-bisa dia tersesat, meskipun tak sampai 10 persen dia akan tersesat. Ingat Nadhira mempunyai kelebihan yang tak orang lain punya.
•••
"Maafkan aku datang terlambat! Sudah lama?" Dia Nadhira yang baru saja datang setelah sebelumnya pulang kerumah nya karena sedari keluar dari mension Ganendra, ibunya menelpon menanyakan keberadaannya.
"Tidak kok! Kau kan sudah mengatakan di telpon bahwa kita akan janjian jam 7 malam dan sekang baru jam 7 lewat sedikit," jawab Kania (White Snake).
Nadhira duduk berhadapan dengan Kania dan langsung saja bertanya. "Ada apa kau mencariku?"
"Sebenarnya tidak terlalu penting dan bisa kusampaikan lewat telpon, akan tetapi saat mendengar kau berada di Kota A, rasanya aku sangat ingin bertemu denganmu, jadi ku ajak kau bertemu," jelas Kania.
"Hmm, lalu?" Nadhira.
"Huh kau ini sama seperti dulu terlalu datar. Yasudahlah! Begini, minggu depan ada tarung bebas lagi! Kau mau ikut?" Kania.
"Di gedung tarung seperti biasa?" Tanya Nadhira.
"Bukan! Itu karena ini tarung bebas illegal, jadi tersembunyi. Hanya orang-orang yang benar-benar berhubungan dengan dunia bawah yang mengetahuinya," jawab Kania berbisik.
"Dimana?" Tanya Nadhira.
"Di tengah hutan di ujung Kota A! Mau ikut?" Kania.
"Boleh! Jemput aku, nanti ku kabar lokasiku," jawab Nadhira.
•••
Berhubung tarung bebas yang ingin diikutinya minggu depan, masih ada satu minggu lebih, jadi dia masih mempunyai waktu untuk pindah dan tinggal sendiri seperti rencana awalnya.
"Tidak bisakah kau tinggal dengan kami saja?" Puspa sangat terkejut saat mendengar bahwa Nadhira ingin tinggal sendiri.
Dia khawatir, puterinya itu baru mau 19 tahun, masa sudah mau pisah rumah? Dia tidak tenang membiarkan anak gadisnya sendirian di luar sana.
"Ira hanya ingin mandiri bu, bi, paman. Ira bakal jaga diri baik-baik. Di sekitar rumah yang Ira tempati itu ramai, jadi kalau ada apa-apa bakalan banyak orang yang datang menolong. Jadi kalian semua jangan khawatir dan ijinkan Ira pergi ya!?"
Semua saling tatap dan pasrah. "Baiklah! Ibu ijinkan! Kakakku bagaimana? Apakah sudah tahu dengan rencanamu?" Tanya Puspa.
"Belum! Nanti aku kabari dia. Sekarang dia masih sibuk dengan organisasinya," jawab Nadhira.
Sudah dua hari Andara tidak pulang. Dia menginap di kos an temannya yang berada dekat dengan kampus.
Meski apartementnya dekat dengan kampus, tapi lumayan lah kalau bolak balik, karena dalam 24 jam dia harus siap saat dicari karena di kampusnya akan di langsungkan acara penggalangan dana yang akan berlangsung selama 3 hari.
Dengan persetujuan Ibu, bibi dan pamannya, Nadhira pun berkemas barang seperlunya untuk tinggal sendiri.
"Harus sekarang? Tidak bisa besok? Baru juga kau meminta ijin," Puspa kira Nadhira akan pergi setidaknya besok, ternyata tidak.
"Iya ibu! Kalau diulur terus nanti bakal tidak kesampaian, jadi karena sudah dapat ijin langsung saja deh hehe, nanti ibu berubah pikiran kalau Ira lama-lama perginya,"
Benar saja, wajah Puspa dapat di tebak kalau dia akan menarik ijinnya.
"Ah baiklah! Nanti kabari ibu kalau sudah sampai ya!"
"Baik ibu! Paman bi, Ira pergi! Bu Ora pergi dulu,"
Nadhira menaiki taxi yang dipesannya dan taxi itu meninggalkan gedung apartment.
"Mulai dari sini awal hidup baruku!" Gumam Nadhira penuh tekad.
¤
¤
¤
Semoga Suka...