
Selamat Membaca...
•••
"KEJUTAN!"
Teriak Paman Aryo, bibi Mayang, Puspa dan Andara seraya bertepuk tangan dan menyanyikan lagu ulang tahun, tapi seketika keceriaan itu hilang tergantikan dengan taut terkejut dan khawatir.
"Sinta kenapa?" Tanya bibi Mayang seraya menghampiri Sinta yang berdiri kaku ditempatnya. "Ra, Sinta kenapa?" Tanya bibi Mayang lagi tapi sekarang bertanya kepada Nadhira.
"Tanya saja kepada Sinta nya! Tapi biarkan dia mandi dan ganti baju dulu," Ucap Nadhira seraya duduk di sofa.
Semuanya menatap Sinta. "Aku ke kamar dulu, nanti aku jelaskan!" Ucap Sinta.
Mereka pun membiarkan Sinta membersihkan dirinya dulu atau bisa menenangkan dirinya, pikir mereka kecuali Nadhira.
Berulang kali paman, bibi, ibu dan kakaknya menanyai Nadhira, tapi tak di jawab olehnya, karena dia ingin Sinta sendiri yang menceritakannya.
Beberapa saat kemudian Sinta datang dan duduk di antara ayah dan ibunya. Semua menunggu Sinta bicara dan setelah menarik nafas, Sinta pun menceritakan semuanya dari mengapa dia berpakaian sederhana, hanya ingin naik bus, dan tidak melawan meski dia di bully, meskipun dia dapat melawan.
"Jadi begitu! Akutuh ingin mendapatkan teman yang benar-benar menerimaku apa adanya, tanpa memandang fisik, materi dan sebagainya," jelas Sinta.
"Oh begitu! Tapi tetap saja itu tidak bisa di biarkan! Kau murid disana, bayar sekolah juga, meski bukan investor, tapi tetap saja pihak sekolah harusnya adil dengan semua siswanya," marah Paman Aryo.
Semua menyetujui itu, tapi mereka juga tak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanyalah orang biasa yang hanya beberapa tahun merasakan hidup mewah, itu juga berkat Nadhira.
Nadhira bisa melakukan apa saja untuk membuat pihak sekolah maupun para pembully kapok, tapi dia ingin membuat Sinta mandiri dengan menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Ayah, ibu, semuanya, aku tidak apa-apa, aku juga sudah menemukan teman sesungguhnya, benarkan kak Ira?" Sinta.
"Hm!" Nadhira mengangguk membenarkan.
Mereka berusaha melupakan kejadian yang menimpa Sinta meski itu sulit. Dan pembicaraan malam itu berakhir dan dilanjutkan dengan pesta kecil-kecilan.
...•••...
Besok paginya Nadhira kembali ke rumahnya karena siang hari dia ada mata kuliah.
Jam satu siang dia telah berada di dalam kelas nya, menunggu dosen pengajar.
"Selamat siang anak-anak!" Sapa pak Heru.
"Siang pak!" Sahut seluruh mahasiswa/i.
Pelajaran di mulai, semua mahasiswa/i serius dalam mendengarkan penjelasan dari pak Heru.
Satu jam lebih telah berlalu, dan pak Heru pun mengakhiri pengajarannya. "Penjelasan saya cukup sampai disini. Sampai berjumpa diwaktu berikutnya!"
Pak Heru keluar kelas di susul oleh mahasiswa/i di dalam kelas.
Nadhira menuju kantin, dia tidak pulang karena dia ada mata kuliah lagi pada sore harinya.
Saat ini Nadhira makan sendiri karena Alisya tidak ada mata kuliah hari ini jadi dia tak masuk, sedangkan Alena mendadak ada acara keluarga katanya.
Dan saat asiknya menikmati makanannya tiba-tiba seseorang menggebrak mejanya.
Minuman, makanan yang ada di atas meja tumpah berserakan sampai mengenai celana Nadhira. Nadhira mendongak mengangkat sebelah alisnya pertanda bertanya 'Ada apa?'
"Kau tidak berniat meminta maaf?" Tanya nya. Dia adalah Calvin dan dua temannya yang selalu bersamanya.
"Minta maaf? Untuk apa? Aku tidak merasa ada salah dulu atau pun sekarang!" Jawab Nadhira dengan santai.
"Untuk apa? Kau tidak merasa bersalah setelah melukai tanganku? Wah, keterlaluan!" Ucap Calvin tak percaya dan mengapa Calvin yang dingin sekarang banyak bicara? Mungkin itu yang para penghuni kantin pikirkan.
Ya! Kenapa Calvin sekarang banyak bicara? Kedua temannya, Erwin dan Karan juga bingung, karena sebelum kemari Calvin minta di temani untuk memberi pelajaran kepada mahasiswi baru yang memulai tangannya, tapi tidak dengan mengeluarkan Kata sebanyak ini!
Dan apakah itu harapan Calvin bahwa mahasiswi itu akan minta maaf padanya? Hah?! Seorang Calvin yang tak pernah minta seseorang minta maaf padanya pun orang tersebut sudah minta maaf duluan, kalau pun seseorang itu tak minta maaf, maka dia langsung menghajarnya. Tapi ini apa? Dia yang mengharapkannya? Wah wah, keajaiban!
"Memang kenapa? Memang aku tidak salah! Kau saja yang terlalu sombong, terlalu memandang tinggi dirimu sendiri, sehingga terus berpikir harus orang lain yang minta maaf duluan meski kau yang salah!" Ucap Nadhira.
"Sudah tak ada yang perlu dibicarakan lagi kan? Hilang sudah selera makanku!" Ucap Nadhira diakhiri gumaman untuk dirinya sendiri.
Nadhira pergi dari sana meninggalkan semua orang yang tak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Nadhira. Mengabaikan seorang Calvin. Tapi belum sampai di pintu keluar kantin, tangan Nadhira di cekal oleh seseorang. "Tunggu! Urusan kita belum selesai!" Dia Calvin. Dia masih belum terima di permalukan untuk yang kedua kalinya.
Pak...
Tangan Calvin ditepis seseorang yang baru datang. "Sepertinya urusan kalian sudah selesai!" Ucap orang itu.
Nadhira dan Calvin menatap orang tersebut dan sedikit terkejut, Nadhira dengan cepat menetralkan taut wajahnya seperti semula.
Orang tersebut tersenyum tipis Saat menatap Nadhira. "Lama tidak bertemu! Nadhira?!"
Siapa yang tidak kenal dengan orang ini! Pria ini?! Dia adalah seorang pembisnis muda, yang perusahaannya terkenal di dunia bahkan memiliki anak cabang dimana-mana. Tapi satu yang tidak diketahui banyak orang, yaitu dia juga terkenal di dunia bawah, dunia mafia.
Stiven? Itu dia. "Jangan katakan kau melupakanku?!" Ucap Stiven.
Sebelah alis Nadhira terangkat dan berkata. "Mengapa aku harus mengingatmu?"
Perkataan Nadhira membuat orang-orang melongo, apakah yang gadis itu katakan? Apakah dia harus mengingatnya? Apakah gadis ini tidak tahu kalau orang yang mengajaknya bicara sangat banyak orang yang ingin berbicara santai sepertinya tapi tidak bisa?! Sedangkan dia?
Mereka bertanya-tanya, ada hubungan apa mahasiswi baru itu dengan di pengusaha muda, Stiven ini? Sampai-sampai dia berbicara sesantai itu.
Dan mereka jadi tidak dapat menyalahkan mahasiswi baru itu berani dengan anak pemilik kampus ini, karena dia saja kenal dengan orang yang sangat berpengaruh, tidak ada bandingkannya dengan seorang anak pemilik kampus.
"Oh ayolah! Ah lebih baik kita bicara ditempat lain, bisa? Disini banyak pasang mata yang melihat, aku merasa tak nyaman!" Ucap Stiven melirik kesekelilingnya, dan di jawab anggukan oleh Nadhira dengan malas.
Mereka berdua pun meninggalkan kantin.
"Cal, sebaiknya kau lupakan Untuk bales dendam dengan gadis itu!" Saran Erwin saat sudah berada di dekat Calvin. Dia dan Karan. sempat terkejut saat Calvin mengikuti Nadhira, dan mencegahnya pergi. Apalagi menyentuh tangan seorang gadis, itu bukan Calvin sekali. Dia bukan tipe yang mau memaksakan kehendaknya, membuat seorang gadis meminta maaf padanya, karena biasanya sedikit orang salah padanya maka orang tersebut akan langsung meminta maaf tanpa perlu diminta.
"Benar Kata Erwin. Sebaiknya kita tak berurusan dengan orang sepertinya! Kau lihat dia mengenal orang yang sangat hebat, Pantas saja dia tak takut denganmu yang notabennya anak pemilik kampus ini," ucap Karan menyetujui perkataan Erwin.
¤
¤
¤
Semoga Suka...