
Selamat Membaca...
•••••
Musim tenang berakhir dengan cepat dan di gantikan masa menegangkan bagi semua murid kelas sepuluh dan sebelas, dimana mereka sekarang akan menghadapi ulangan kenaikan kelas.
Dan di sinilah mereka sekarang, di kelas sedang menunggu seorang guru pengawas masuk untuk memberikan lembar soal kepada mereka.
Suasana yang biasa ceria dan berisik sekarang digantikan dengan keadaan yang menegangkan, karena semua murid sedang gugup.
Cklek
Pintu di dorong dari luar dan nampak lah seorang guru pengawas perempuan memasuki kelas dengan membawa amplop besar yang berisikan lembaran soal ulangan.
Berjalan dengan begitu santainya. Apakah guru ini tidak merasakan ketegangan di dalam kelas itu? Sungguh membuat semua murid jengkel.
"Baiklah anak-anak. Simpan semua buku kalian dan siapkan alat tulis di atas meja," sebelum arahan dari guru itu pun semua murid sudah menyimpan buku pelajaran mereka, menyisakan pensil, rautan dan penghapus di atas meja mereka.
Guru pengawas itu pun membagikan lembar soal ke murid duduk paling depan dan murid itu pun mengopernya ke belakang dan seterusnya.
"Waktu kalian mengerjakannya selama satu jam setengah dimulai dari sekarang," arahan guru pengawas.
Semua murid pun berfokus membaca serta menjawab soal-soal yang ada.
Untuk Nadhira dia terlihat santai saja, berbeda dengan sebagian murid lainnya yang terlihat begitu begitu kesulitan, sangat terlihat dari wajah mereka.
Ting Tong...
'Waktu mengerjakan soal ulangan telah berakhir, silahkan kumpulkan lembar jawaban kalian ke guru pengawas yang berada di dalam kelas masing-masing'
Seperti baru sebentar, akan tetapi bel pertanda waktu habis pun berbunyi membuat hampir satu kelas mendesah pasrah dengan hasil nya dan lagi suara dari pengeras suara itu membuat mereka sekali lagi mendesah pasrah.
Satu minggu ke depan adalah hari dimana para siswa berperang dengan otak mereka untuk menjawab soal-soal ulangan. Setelah itu mereka akan menghadapi kenaikan kelas menuju kelas dua belas dimana masa yang akan menentukan mereka berhasil atau tidak untuk masuk ke sebuah universitas ternama atau tidak.
"Ayo anak-anak, waktu habis, kumpulkan lembar jawaban kalian sekarang," teriak guru pengawas di kelas Nadhira.
Semua murid mengumpulkan lembar jawaban mereka dan meninggalkan lembar soal nya, karena akan ada murid khusus yang akan mengumpulkannya.
¤...Di Kantin...¤
"Aduhhhh, bagaimana hasil ulangan ku ya! Tadi itu pertanyaan-pertanyaannya sangat sulit," Bagas sangat frustasi dengan ulangan hari ini yaitu mata pelajaran Matematika.
"Tidak ada yang sulit jika kau belajar," ucap Clara. Mereka semua setuju, pasalnya dari mereka semua hanya Bagas yang tidak masuk dalam peringkat sepuluh besar di kelas. Meski Nadhira belum di ketahui, tapi sudah di ketahui oleh semuanya bahwa Nadhira saja masuk melalui jalur pindah karena prestasinya di bidang akademik, jadi tak perlu diragukan lagi kalau Nadhira akan dengan mudahnya mengerjakan soal ulangan Matematika tersebut.
Saat ini mereka berada di kantin untuk sekedar mengisi perut mereka yang berdemo. Pasalnya mengerjakan soal ulangan menguras otak dan pastinya akan membuat perut mereka lapar.
"Ah, bagaimana pun ulangan Matematika telah berlalu, sekarang aku harus mengisi perutku yang lapar ini agar nanti saat ulangan selanjutnya fokus ku tidak teralihkan karena lapar. Bi!" Panggil Bagas pada bibi kantin.
"Ya nak? Mau pesan apa?" Bibi kantin pun menghampiri meja mereka dan bertanya.
"Nasi goreng dan minumnya es limun ya bi. Kalian!?" Tanya Bagas kepada yang lain dan mereka pun menjawab 'Samakan saja' dan minumnya mereka sepakat hanya es teh.
Bibi itu pun kembali ke belakang untuk menyiapkan pesanan mereka. Dan tak berapa lama pesanan datang dan mereka langsung menyantapnya.
Setelah beberapa saat kemudian bel pertanda masuk terdengar. Mereka pun bergegas masuk kelas dan bersiap mengerjakan ulangan selanjutnya.
Sama hal nya ulangan pertama, yang kedua ini pun dengan waktu yang sama yaitu satu jam setengah.
Semua kelas dalam keadaan sunyi, sepi. Tak ada suara satu orang pun memecah keheningan sampai satu jam berlalu dan suara gesekan antara kaki kursi dan lantai terdengar.
"Nadhira sudah selesai?" Tanya guru pengawas. Kali ini seorang guru laki-laki.
Hampir semua murid menatap Nadhira kagum, tapi tak sedikit pula yang menatap iri dan benci, tapi semua itu tak di hiraukan Nadhira. Dia memilih keluar dan pulang tanpa menunggu teman-temannya.
¤¤¤¤¤
Satu minggu kemudian, akhirnya masa ulangan telah berakhir dan sekarang tinggal menunggu nilai hasil ulangan.
Seraya menunggu hasil nilai ulangan keluar yang akan di ketahui satu minggu ke depan maka para anggota OSIS mengadakan perlombaan yang bertujuan untuk menjernihkan pikiran para murid dari ketegangan sehabis ulangan satu minggu sebelumnya.
"Kelas kita ikut perlombaan apa saja?" Tanya Clara kepada Bagas.
"Yang ku tahu, sepak bola, basket dan Volley, lari, itu bagi murid laki-laki nya, entahlah kalau murid perempuan," jawab Bagas.
"Ira kau mau ikut lomba apa?" Tanya Clara kepada Nadhira.
"Entahlah! Aku tidak berminat mengikuti lomba apa pun," jawab Nadhira.
Dia sungguh tidak tertarik mengikuti lomba apa pun. Dia malas dan hanya ingin menonton.
"Yahhh, kalau begitu aku juga tidak mau ikut lomba apa pun juga deh," Clara mengatakan itu dengan cemberut. Nadhira berpikir kalau Clara ingin mengikuti salah satu lomba itu dan mungkin tidak ada teman jadi tidak jadi
"Memang nya kamu ingin ikut lomba apa?" Tanya Nadhira.
"Ya lomba apa? Yang ku tahu kau tidak memiliki bakat satu pun dari semua lomba yang ada," ucap Bagas yang membuat Clara marah.
"Kau..., hpmp," Clara membuang muka dari Bagas.
Dia menatap Nadhira. "Sebenarnya aku ingin ikut lomba fashion show, tapi aku malu kalau sendiri yang ikut dari kelas kita," Clara.
"Kan yang lain juga pada ikut, kenapa mesti malu?" Nadhira.
"Bukan itu, hanya saja aku tidak percaya diri sendiri. Tapi kalau Ira mau ikut, aku bakal ikutan juga," bujuk Clara.
"Heh, bilang saja emang minta ditemenin," sindir Bagas.
"Huh, hus, sana, ikut campur aja," sewot Clara kepada Bagas.
Nadhira berpikir sejenak, menarik juga kalau dirinya ikut. Bukan pamer akan kecantikannya, akan tetapi dia juga ingin menikmati masa remaja yang baru sekarang dia rasakan. Tidak ada salah dan ruginya kan kalau ikut.
"Baiklah! Aku akan ikut," Nadhira memutuskan untuk ikut dan Clara begitu senang Nadhira mau ikut.
"Bagus! Baju apa ya yang akan kita kenakan? Tema nya kan bebas?" Clara.
"Entahlah! Aku tidak terlalu mengerti dengan baju apa pun," Nadhira.
¤¤¤¤¤
Hari mendebarkan bagi Clara tiba, dimana hari perlombaan fashion show sekolah akan di laksanakan pada malam hari itu dan pastinya hari terakhir masa semua perlombaan, dan malam itu pun semua pemenang dari berbagai macam lomba akan di umumkan.
Dan ya lomba fashion show, bernyanyi dan menari akan di laksanakan pada malam hari, tepatnya pada jam 7 malam akan di mulai.
¤
¤
¤
Semoga Suka...