
Selamat Membaca...
•••
Zidan menatap sekeliling kamar, mencari sesuatu yang dapat dia jadikan senjata. Saat dia melihat di atas meja kayu di sudut kamar beberapa botol wine, Zidan mengambilnya tanpa di sadari orang-orang. Dia berlari cepat ke arah pria kekar yang memerintah kedua temannya barusan.
Prang!!!
"Mampus!"
Zidan meringis sendiri saat melihat sasarannya tidak pingsan, tapi malah berbalik menatap marah ke arahnya.
"Sial! Kuat sekali pria itu," gumam Zidan, tapi waktu berikutnya dia tersenyum miring.
"Maaf paman, buat kali ini saja, aku bakal melanggar norma kesopanan sama orang yang lebih tua," ucap Zidan yang setelahnya langsung menggerakkan kakinya ke arah wajah pria berambut brondong itu. Mulut dan hidungnya penuh dengan darah.
Setelah berhasil mengalahkan satu pria tersebut dia berbalik menatap dua pria kekar lainnya yang ternyata sudah tersungkur pula. Matanya melotot saat menyadari kalau dua pria kekar bukan hanya pingsan tapi juga wajah mereka sudah tidak dapat di kenali.
Gadis itu menatap Zidan yang masih diam di tempat. Tak menghiraukan ke terdiaman atau melamun nya Zidan gadis itu mendekat ke arah Kai yang sedang di tahan oleh Toni agar tidak terjatuh.
"Jadi ini orang nya?" Tanya Nadhira sedikit tak percaya.
"Ya begitulah! Kan tuan Ling sudah menceritakan bagaimana kelakuan cucu nya," jawab Marcel.
Beralih kepada Zidan yang sadar sari lamunan bergegas dia menghampiri Kai. Setelah memastikan Kai baik-baik saja dia beralih menatap dua orang tidak di kenal.
"Kalian siap?" Tanya Zidan menatap waspada.
Nadhira memberi kode kepada Marcel untuk memberitahukan siapa mereka membuat Marcel mendengus. "Di sini siapa yang lebih tua emang nya?" Gerutuan Marcel yang hanya dapat dia simpan di dalam hati, karena dia tahu gadis di sampingnya ini lebih hebat dari pada dirinya dalam hal bertarung.
"Saya Marcel dan gadis ini nama nya Nadhira," ucap Marcel membuat Nadhira mendesah lelah.
"Aku tidak bertanya nama kalian, akan tetapi mengapa kalian membantuku melawan para orang itu?" Zidan.
"Kami berdua orang yang di tugaskan oleh tuan Ling untuk menjadi bodyguard tuan muda Kai. Apa itu cukup alasannya? Dan bisakah kami membawa tuan muda Kai sekarang?" jelas Nadhira.
Tangan Nadhira ingin menarik tangan Kai dan memapahnya, tapi di tepis oleh Zidan.
"Tunggu! Apa yang bisa membuat saya yakin, jika kamu memang suruhan tuan Ling dan bukan bagian dari mereka?"
"Saya Marcel dan gadis ini nama nya Nadhira," ucap Marcel membuat Nadhira mendesah lelah.
"Aku tidak bertanya nama kalian, akan tetapi mengapa kalian membantuku melawan para orang itu?" Zidan.
"Kami berdua orang yang di tugaskan oleh tuan Ling untuk menjadi bodyguard tuan muda Kai. Apa itu cukup alasannya? Dan bisakah kami membawa tuan muda Kai sekarang?" jelas Nadhira.
Tangan Nadhira ingin menarik tangan Kai dan memapahnya, tapi di tepis oleh Zidan.
"Tunggu! Apa yang bisa kalian tunjukkan untuk membuat ku yakin, kalian memang suruhan tuan Ling dan bukan bagian dari mereka?"
Nadhira menghela nafas, sungguh orang yang terlalu cerewet. "Begini, jika kau ingin mengetahui nya bagaimana kalau kau hubungi tuan Ling. Tanyakan padanya apakah kami berdua memang di suruh olehnya atau tidak. Ku lihat kau teman, dan kemungkinan orang yang di minta tuan Ling untuk menjaga cucu nya bukan? Meski kau berusaha menjaganya tapi pada akhirnya selalu gagal, seperti sekarang,"
Zidan mendelik ketika kalimat terakhir gadis muda dia dengar. Bahkan gadis muda ini tidak tahu kemampuan dirinya, sejak tadi dia tidak di beri kesempatan untuk menyanggah semua perkataannya.
"Kau...,"
"Sudahlah jangan banyak bicara. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk berbicara panjang, kita memiliki waktu sepuluh menit untuk membawa taun muda Kai keluar dari sini, sebelum orang-orang di luar menemukan tempat ini,"
Meski masih kesal, Zidan tetap mematuhi perkataan Nadhira. Pasalnya dia juga tahu kalau wanita sebelumnya menghilang dan kemungkinan mereka membawa teman lainnya untuk menangkap Kai. Tapi kalau di pikir-pikir lagi...
Di luar?
Apakah orang-orang itu sudah berada di luar club ini?
Tapi tidak terlalu memikirkan lebih lama, dia memilih memapah Kai dan membawa nya keluar di ikuti Nadhira, Marcel, dan Toni.
Mereka berhasil keluar melalui pintu belakang, karena di pintu depan orang-orang dari bantuan ketiga pria kelar itu sedang berjaga.
Nadhira berhenti saat mereka telah berada tak jauh dari mobil Kai, membuat ketiga pemuda yang masih sadar itu kebingungan.
"Cepat sembunyikan tuan muda Kai, ada musuh di sana,"
Mengerti maksud Nadhira, Zidan membawa Kai ke tempat persembunyian, yaitu di balik-balik mobil yang terparkir.
Tapi yang membuat nya bingung lagi, kenapa gadis ini tidak ikut bersembunyi.
"Hei hei," panggil Zidan dengan sangat pelan.
Nadhira menatap Zidan yang melambai padanya menyuruh untuk ikut bersembunyi.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, jumlahnya ada lima," gumam Nadhira menghitung jumlah orang yang sedang mencari keberadaan Kai di dekat mobil Kai.
Tiba-tiba Marcel berdiri di samping Nadhira dan berkata. "Jangan bilang kau akan melawan mereka semua," tebak Marcel.
"Tepat sekali!" Jawab Nadhira membuat Marcel mendesah.
"Haiss, mereka bukan anak buah tuan Ling yang jik adi suruh berhenti mereka berhenti. Apakah kau yakin?" Marcel tidak tahu ke arah mana jalan pikiran gadis yang dua tahun lebih muda darinya itu, mungkin.
"Mengapa tidak!" Tidak ada keraguan sedikit pun dari wajah Nadhira.
Sebelum pergi Nadhira berkata. "Kalian berdua! Setelah mereka lengah, bawa tuan muda Kai ke mobilnya dan pergi dari sini,"
"Kalian?" Zidan tidak tahu, tapi apakah dirinya harus meninggalkan seorang gadis muda ini melawan mereka yang berbadan besar itu? Meski ada pemuda lain di sampingnya, tapi tetap saja rasanya aneh kalau dirinya kabur kan.
"Jangan banyak berpikir, bagaimana kami bisa menjadi bodyguard kalau hak seperti ini tidak bisa kami tangani," kata-kata Nadhira begitu ambigu. Marcel saja tidak mengerti maksud perkataan Nadhira tapi dia mengangguk angguk saja.
"Cepat! Tidak ada banyak waktu, karena selain kelima orang ini masih banyak yang lain. Kalau kalian lambat, kemungkinan akan sulit keluar dari area club ini,"
Memikirkan apa yang di katakan Nadhira, Zidan mulai mengiyakan, dia juga teringat kalau dua orang ini hebat saat melawan dua pria kekar di dalam barusan.
"Baiklah! Kami akan pergi," ucap Zidan.
Nadhira pun berjalan santai seperti dirinya bukan lah orang ikut campur masalah mereka.
Dan tiba-tiba dia berbalik menatap pria berbadan besar yang mana dia adalah salah satu dari lima orang yang sedang mengejar Kai.
"Eh paman, kalian sedang apa berkeliling di tempat parkiran? Mencari seseorang?" Tanya Nadhira.
Marcel dan lainnya kaget dengan perbuatan Nadhira. Zidan juga mulai berpikir kalau dirinya sedang di permainkan sekarang, tapi kejadian selanjutnya membuat mereka mengerti mengapa Nadhira melakukan itu.
"Benar! Apakah kau melihat beberapa orang yang sedang memapah seorang pemuda mabuk?" Tanya orang yang di tanya Nadhira.
Nadhira nampak berpikir supaya akting nya meyakinkan.
"Tadi ku lihat sekelompok orang seperti yang paman sebutkan itu pergi ke arah sana, mereke terlihat tergesa-gesa menuju ke sana, entahlah karena apa aku tidak tahu," ucap Nadhira berakting polos membuat orang yang dia panggil paman itu terlihat mempercayai semua yang di katakan Nadhira.
"Baiklah! Kalau begitu terimakasih!" Segera orang yang di panggil Nadhira paman itu mengajak teman-temannya untuk mengikuti arah yang di tunjuk Nadhira barusan, yaitu ke arah yang berlawanan di mana mobil Kai terparkir.
¤
¤
¤
Semoga Suka...