Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Mendapat Pendukung


Selamat Membaca...


•••••


Penilai mengambil piringan itu dan menilainya. Setelah beberapa saat menilai matanya terbelalak akan tetapi dia langsung mengubahnya biasa saja.


Dia ingin orang lain menyadari nya karena berniat membuat piringan ini menjadi miliknya dengan harga murah. Dia tahu barang antik ini asli, tapi dia tidak ingin mengatakan itu asli. Dia melihat Nadhira hanyalah seorang gadis kecil yang tidak akan mengerti ini asli atau tidak, jadi dia memiliki ide licik untuk itu.


"Hmm, ini palsu," ucap penilai.


Semua orang merasa lesu mendengarnya akan tetapi tatapan Nadhira tetap sama tak mengubah ekspresinya.


"Hmm, baiklah kembalikan padaku!" Ucap Nadhira sambil mengulurkan tangannya akan mengambil kembali piringan nya itu. Dia tahu kalau itu barang asli, dan si penilai berbohong akan itu.


"Bagaimana kalau kau jual di sini, aku akan membelinya dengan harga lima ratus ribu," tawar penilai.


Semua orang pun terkejut, lima ratus ribu untuk barang palsu, sungguh membuang-buang uang, akan tetapi itu pantas untuk piringan secantik itu.


"Tidak!" Tolak Nadhira langsung.


Dia mengambil piringannya dan pergi. Sedangkan penilai menggerutu tidak mendapat kan apa yang di inginkan nya.


Sebelum Nadhira keluar dari kerumunan orang yang akan menilai barang mereka. Seseorang menghentikan Nadhira.


"Gadis kecil, bisa aku melihat barang mu yang tadi?" Tanya seorang pria paruh baya yang umurnya sekitar 45 tahunan dengan setelan jaz hitam dengan dua bodyguard di belakangnya.


Nadhira menaikkan alisnya sebelah dan dia pun mengeluarkan piringan itu dan menyerahkannya.


"Ini!"


Pria paruh baya itu menerimanya dan menelitinya. Dia mengeluarkan sebuah alat dan menempelkannya di matanya dan menatap lekat pada piringan itu menggunakan alat itu.


Matanya terbuka lebar saat mengetahui barang antik yang sekarang dia pegang.


"Wah wah... Ini luar biasa, ini barang antik asli. Penilai itu berbohong bahwa ini palsu. Dia ingin mendapatkannya dengan harga murah," teriak pria paruh baya itu lantang membuat mereka menjadi pusat perhatian.


Orang-orang mulai mencibir sang penilai. Sedangkan sang penilai di panggil oleh pria paruh baya itu. Terlihat dia menunduk takut.


"Kenapa kau berbohong?" Tanya pria paruh baya itu dengan dingin dan menatap tajam sang penilai.


Penilai itu gemetar ketakutan, mulutnya kaku untuk menjawab.


Siapa kah pria paruh baya ini?


"M-maaf kan saya tuan Hendra. S-saya hanya ingin memilikinya, tapi tidak memiliki uang untuk membelinya jika itu barang asli, jadi saya berbohong," jelas penilai gagap.


Semua menatap penilai tajam.


Apakah barang yang dia katakan juga kebanyak asli? Ini tidak baik. Dia berbohong.


Semua orang berbisik-bisik marah dan tak suka dengan penilai itu.


Sedangkan sang penilai hanya tertunduk takut menghadapi tatapan tajam semua orang.


"Kau di pecat! Aku tidak memerlukan orang pembohong seperti kau, yang ingin mengambil keuntungan dari ketidaktahuan orang lain," ucap tuan Hendra.


Penilai itu terkejut, tapi tidak bisa menolak. Memang sudah tertulis di kontrak kerja, jika kudapat berbohong dalam menilai maka akan di pecat.


Tuan Hendra beralih menatap gadis kecil di depan nya ini. "Kalau begitu bisa kah aku membeli barang antik mu ini?" Tanya tuan Hendra.


Tuan Hendra adalah seseorang yang mengelola tempat penilaian barang antik di pasar barang antik ini. Dia sudah di kenal di seluruh pasar akan tetapi meski begitu tak menutup mata, bahwa banyak juga yang menginginkan iringan itu.


Pertanyaan pria setengah baya itu banyak di setujui para penonton dan itu membuat tuan Hendra tak dapat berbuat apa-apa. Dia pun menyetujuinya.


"Baiklah, saya menawar barang ini dari seratus juta rupiah," ucap tuan Hendra.


"Seratus sepuluh juta," ucap pria setengah baya.


"Seratus lima puluh juta," tawar yang lain.


"Dua ratus juta,"


"Dua ratus tiga puluh juta,"


Sampai pada saat tuan Hendra mengatakan. "Tiga ratus juta rupiah,"


Semua orang menahan nafas mendengar nominal besar itu. Tak ada lagi yang mampu menawarnya. Dan pria setengah baya tadi pun juga mengalah. "Baiklah tuan Hendra, sekarang anda menang, lain kali biarkan saya menang,"


"Oh hohoho, kita lihat saja nanti tuan Niko," ucap tuan Hendra tertawa kemenangan akan tetapi dia tidak menyinggung.


"Oh aku sampai lupa menanyakan persetujuan yang punya!" Ucap tuan Hendra baru teringat. Dia menatap Nadhira. "Bagaimana gadis kecil, apakah kau setuju dengan harga yang telah ku tawarkan?"


Nadhira mengangguk tenang, akan tetapi hatinya juga terkejut dengan harganya. "Ya! Aku setuju," ucap Nadhira tenang.


Proses serah terima pun berjalan lancar. Tapi yang membuat Nadhira bingung adalah tuan Niko ikut dalam proses itu.


"Umm, gadis kecil, bisa aku tahu namamu. Jangan salah paham, aku hanya ingin jika kau memiliki barang antik lainnya, kau bisa menawarkannya padaku," ucap tuan Niko dengan cepat, dia tidak ingin di salah pahami dan di anggap pedofil oleh gadis muda di depannya ini.


Nadhira tersenyum kecil dan paham. "Namaku Nadhira,"


"Oh baiklah! Kalau begitu jangan lupa hubungi aku jika kau memiliki barang antik lainnya ya," ucap tuan Niko seraya menyerahkan kartu identitasnya.


Nadhira menerimanya dengan baik. Ini lah kebutuhan lainnya, untuk lebih memudahkannya di masa depan.


"Hohoho, Nadhira ya, kalau begitu ini juga kartu namaku. Jangan lupa hubungi aku juga kalau kau memiliki barang antik lainnya," ucap tuan Hendra.


"Baik! Aku akan menghubungi kalian jika memilikinya," sahut Nadhira. Hari ini dia sungguh beruntung, mendapat dua orang yang berpengaruh dan memiliki jabatan, itu tebakan Nadhira.


Mereka bertiga pun berpisah di tempat proses penyerahan barang. Nadhira memilih untuk kembali, karena uang yang dia dapat lumayan banyak.


Kalau di total uang tabungan nya sekarang hampir dua milyar itu setelah di potong untuk pembelian gedung cafe dan proses renovasinya.


Nadhira menaiki bus, tidak dengan taxi, karena dia ingin berjalan-jalan terlebih dahulu. Ibunya juga akan pulang jam enam sore dan sekarang masih jam satu siang.


Bus yang dia naikin berhenti di halte bus dan semua penumpang turun termasuk Nadhira.


Dia pun berjalan kaki, tidak naik bus lagi. Dia memilih jalan kaki, karena ingin menikmati jalanan dan memperhatikan kehidupan di kota B.


Saat berjalan di menemukan taman hijau, dia mendatanginya dan duduk di salah satu kursi yang telah di sediakan di taman hijau itu.


Saat duduk dia melihat sekelompok muda-mudi sedang asik nongkrong di taman itu. Dia teringat dengan kehidupannya dulu saat masih berteman dengan teman-temannya yang sekarang adalah pengkhianat baginya. Dia mengepalkan tangannya dan bertekad. "Tunggu aku wahai teman-teman pengkhianat ku," gumam Nadhira.


Dia sungguh sangat ingin membalas dendam saat ini, akan tetapi dia sadar dia belum mampu, pasalnya dia sekarang masih anak sekolah, keluarga nya miskin dan dia baru membuka usaha dan mengumpulkan uang. Dengan uang segitu tidak akan mampu membalas dendam.


¤


¤


¤


Semoga Suka...