
Selamat Membaca...
•••
Nadhira melihat sebagian murid CENDRAWASIH atau geng Xavier kewalahan menghadapi geng Sanca? Itu yang Nadhira dengar.
Anggota geng Xavier sudah banyak yang terluka karena faktor tak seimbangnya jumlah mereka. Mungkin anggota geng Xavier tidak semua bersekolah di SMA CENDRAWASIH, jadi hanya sedikit yang melawan geng Sanca.
Nadhira sempat mendengar kalau alasan geng Sanca menyerang, karena geng Xavier menghancurkan markas mereka dan geng Xavier membantah, jadi dapat Nadhira simpulkan kalau benar geng Xavier tidak menghancurkan Marian geng Sanca maka ada yang mau mengadu dua geng ini.
Nadhira Bukannya melarang kalau mereka ingin tawuran atau berkelahi, tapi Nadhira sangat membenci geng-geng yang seperti ini yang malah mencari masalah di sekolah, ditempat umum, yang menyebabkan banyak keselamatan orang terancam.
Bruummm
Bruummm
Bruummm
Motor Nadhira melaju sangat cepat ke arah perkelahian.
Nadhira semakin dekat dengan mereka, dan dia langsung melintas di tengah tengah perkelahian,dan membuat mereka berhenti berkelahi dan terbelah menjadi dua sisi.
Setelah membuat mereka terbelah menjadi dua, Nadhira kembali menjalankan motornya ke tengah mereka dan berputar putar di sana. Mereka hanya diam melihat Nadhira yang seperti orang sedang melakukan freestyl menggunakan motor. Para penduduk sekolah memandang dini takjub dengan keahliannya, tapi mereka masih belum mengetahui siapa gerangan orang di balik helm itu.
Setelah beberapa kali melakukan putaran Nadhira menjalankan motor nya ke dalam gerbang yang mana saat ini geng Xavier berkumpul sambil membantu anggota nya yang terluka.
Nadhira memutar balik motornya dengan cepat ke arah geng Sanca dengan helm yang masih tertutup rapat. Dia berhenti sejenak meperhatikan anggota-anggota geng Sanca dan menggas gas motornya lagi kemudian melajukannya dengan sangat cepat kearah arah geng Sanca, mereka sedikit panik dan masing-masing mereka menghindar, menyelamatkan diri dari motor Nadhira.
Ciiitttt
Nadhira merem motornya tepat di hadapan geng Sanca.
Sebenarnya Nadhira tidak benar-benar ingin menabrak mereka, dia hanya main-main.
Geng Sanca sempat mengira bahwa Nadhira akan benar-benar menabrak mereka, jadi jantung mereka saat ini dag dig dug.
Semua penduduk sekolah yang menyaksikan bersorak kagum dan bertepuk tangan.
Nadhira membuka kaca helm full face nya yang hanya menampakan mata tajam dan dinginnya.
Semua orang yang menatap mata itu sempat bergidik, ibaratnya seperti ada jarum yang menusuk mata mereka kalau mereka terus menatapnya.
"Kalian pilih, mau kerumah sakit dulu atau langsung liang lahat?" Tanya Nadhira datar dan dingin yang membuat bulu kuduk orang-orang yang mendengar meremang.
"Siapa kau?" Tanya Ferdi yang Nadhira yakini adalah ketua mereka.
"Malaikat maut kalian!" Ujar Nadhira.
"Kami tidak ada urusannya denganmu! Lebih baik kau pergi!" Ucap Ferdi kembali yang tidak mau kalah.
Nadhira tersenyum miring kemudian memutar tubuhnya di atas motor dan menendang Ferdi, hingga tersungkur dan kembali duduk sempurna di atas motonya.
Semua orang terkagum dengan keahlian seseorang dibalik helmnya itu.
Ferdi yang kena tendangan maut Nadhira hampir tak bisa bangun sendiri dan para anggota geng Sanca segera membantu ketua mereka berdiri dan langsung meninggalkan pekarangan sekolah.
Semua orang menghela nafas lega, melihat geng itu pergi dan kembali terfokus kepada sosok luar biasa itu, siapa lagi kalau bukan Nadhira.
Nadhira kembali memutar motornya dan segera memarkirkan motornya di parkiran sekolah!?
Anggota geng Xavier yang tersisa karena yang lainnya di bawa ke UKS sekolah di bantu murid lainnya, memperhatikan pergerakan Nadhira dan mereka cukup terkejut bahwa orang itu mungkin...
Murid baru? Mereka rasa bukan, karena ini sudah jam pulang.
Anak dari salah satu guru? Mungkin.
Tapi mereka tidak dapat menyimpulkan langsung sebelum mereka melihat sendiri apa yang akan di lakukan orang itu selanjutnya.
Nadhira dengan perlahan melepaskan helm full facenya dan nampaklah rambut berantakannya, tapi jangan salah meski begitu dengan segali sugar kebelakang wajah Nadhira pun terpampang jelas.
"Gadis itu?!" Ucap Aziel terkejut. Anggota lainnya yang ada saat Nadhira mengajari mereka beberapa waktu yang lalu mengangguk mengiyakan ucapan Aziel.
Aziel segera mendekat ke arah Nadhira di ikuti anggota yang tersisa lainnya.
"Kau gadis waktu itu bukan?" Tanya Aziel tak sadar kalau dia tersenyum saking senangnya bertemu Nadhira, orang yang sangat dia inginkan untuk masuk gengnya, bahkan kalau dia ingin menjadi ketua maka akan senang hati Aziel berikan jabatannya itu.
Aziel yang tersenyum tak membuat Nadhira merubah ekspresi nya, tapi tidak dengan para penduduk SMA CENDRAWASIH yang sangat jarang melihat most wanted mereka tersenyum, mungkin tidak pernah bagi sebagian murid.
"Hm, kenapa? Masih musuhan sama Nathan?" Tanya Nadhira sambil berjalan pelan. Aziel yang bingung Nadhira mau kemana mengikuti saja dan lagi-lagi penduduk SMA CENDRAWASIH dibuat terkejut karena seorang Aziel yang tidak marah kalau ucapan nya di abaikan atau di jawab singkat.
Siapa kah gadis ini? Pikir mereka.
Banyak yang menyindir Nadhira yang dekat dengan pujaan mereka, terutama para murid perempuan. Tapi Nadhira tak menghiraukannya, dia terus berjalan memasuki sekolahan, mata nya menjelajah mencari sosok Sinta, adik sepupunya, seraya sesekali menjawab pertanyaan Aziel.
"Namamu siapa?" Tanya Aziel.
"Nadhira!" Jawabnya.
"Kau mencari siapa?" Tanya nya lagi.
Aziel tak pernah secerewet ini, entah mengapa dia sangat penasaran dengan sosok Nadhira dia ingin lebih dekat dan dekat.
"Adik sepupu!" Jawab Nadhira.
"Siapa namanya? Kalau-kalau aku tahu siapa dia," ucap Aziel.
"Kau cerewet sekali!? Na....," Belum sempat Nadhira menyelesaikan kalimat nya, tiba-tiba dia berhenti karena dia memangkap suara tangisan, dan itu familiar.
Langkah kaki Nadhira membesar dan lebih cepat, Aziel bingung tapi dia masih mengikuti, hanya dirinya, karena yang lain dia suruh untuk mengobati yang lain.
"Kau mau kemana?" Pertanyaan Aziel diabailan Nadhira, dia terus berjalan dan arahnya menuju kebelakang sekolah.
"Astaga!" Aziel hampir saja menabrak Nadhira yang tiba-tiba berhenti. Ingin bertanya, tapi dia urungkan, karena melihat ekspresi Nadhira yang marah dengan tangan terkepal.
Tiba-tiba Nadhira berlari kencang dan...
Bugh
Menendang seorang murid laki-laki,.sedangkan satu murid laki-laki dan tiga murid perempuan lainnya refleks menjauhi dan menjerit.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Nadhira datar seraya menatap tajam mereka satu persatu.
Mereka ingin menjawab pertanyaan Nadhira dengan wajah songong mereka, tapi tidak jadi karena kedatangan Aziel.
"Ada apa ini?" Tanya Aziel. "Ah kalian membully dia lagi?" Ucap Aziel heran. Dia sering melihat gadis culun yang dia tidak tahu namanya ini sering jadi bahan bulyyan terutama oleh mereka berlima sangat sering.
"Lagi?" Nadhira semakin geram dan saat ini emosinya hampir meledak, kalau tidak Sinta tenangkan.
Sinta tadinya menunduk, dan merasa suara yang dikenalinya ada di depannya dia pun mendongak dan ternyata benar, dia kakak sepupunya.
Awalnya dia takut dan harus alasan apa yang dia berikan mengenai masalah yang dia lihat sendiri ini, tapi ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan itu, karena sekarang yang terpenting dia harus menenangkan Nadhira dulu, dan kalau tidak dia takut kejadian dulu terulang kembali.
¤
¤
¤
Semoga Suka...