Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Sosok Yang Sulit Dipahami


Selamat Membaca...


•••


Saat yang lain beristirahat Nadhira pergi untuk membeli minum. Yang lain juga menawarkan diri untuk membeli minum, akan tetapi Nadhira tahu untuk sekedar melangkahkan kaki saja mereka tak akan sanggup jadi Nadhira sendiri yang membelinya.


Entah itu kebetulan atau apa, Nadhira melihat sosok perempuan yang duduk di sampingnya saat di dalam pesawat menuju Kota B beberapa hari yang lalu saat dia ke minimarket.


Dilihatnya perempuan itu juga habis olahraga, dapat di lihat dari pakaian yang dia gunakan. Dia sedang duduk di kursi depan minimarket sambil minum.


Saat melihat ke arah Nadhira, dia menghampiri Nadhira.


"Hai! Kau yang duduk di sampingku di dalam pesawat waktu itu kan?" Tanyanya.


Nadhira mengangguk. Dia sebenarnya tak terlalu memperhatikan perempuan di sampingnya waktu itu, akan tetapi dia mengingat wajahnya.


"Benar! Itu aku," jawab Nadhira.


"Jadi kau orang sini?" Tanya nya sambil melihat ke sekitar. Nadhira paham, kemungkinan dia mengira Nadhira tinggal di sekitaran lingkungan sana, akan tetapi kenyataannya tidak.


"Aku tidak tinggal di sini! Di sini aku hanya berolahraga bersama teman-temanku," jelas Nadhira.


"Oh begitu! Boleh gabung?" Tanyanya.


"Boleh!" Jawab Nadhira dengan anggukan.


Nadhira pun kembali ke tempat teman-temannya setelah membeli beberapa minuman untuk mereka. Tak lupa perempuan tadi yang bernama Cerry ikut bersamanya.


"Itu bos sudah datang!" Ucap Bagas sambil menunjuk dengan telunjuknya. Semua menatap ke arah tunjukkan Bagas.


"Eh siapa yang bersama bos?" Tanya Rima yang pastinya tidak ada yang tahu jawabannya. Semua menggedik kan bahu mereka tak tahu.


"Entahlah, nanti kita tanya," ucap Clara.


Nadhira telah sampai di depan mereka dan langsung memberikan minuman masing-masing kepada mereka dan mendapati rasa penasaran dan bertanya dari mereka kepadanya.


Nadhira teringat. "Oh ya, perkenalkan dia kenalan baru ku," ucap Nadhira memperkenalkan Cerry, tapi dia tidak mengatakan mereka bertemu di pesawat, pasalnya mereka tidak tahu kalau Nadhira pergi ke Kota A.


"Hai! Perkenalkan namaku Cerry, senang bertemu dengan kalian," ucap Cerry.


Mereka pun menyapa balik dan saling menukar nama dengan nya.


Jam menunjukkan pukul 10 pagi. Matahari semakin meninggi, mereka pun memilih berhenti latihan setelah sebelumnya Cerry menantang Nadhira untuk bertarung atau lebih tepatnya latihan tarung. Nadhira menerimanya dengan santai akan tetapi dia tetap waspada. Dia tidak tahu seberapa kuat lawannya saat ini.


Cerry, anggota mafia king, anak buah Stiven yang di tugaskan untuk mendekati Nadhira, akan tetapi Nadhira tidak tahu akan hal itu, dia mengira Cerry hanyalah orang yang kebetulan dia temui sama seperti teman-teman baru yang dia dapat atau murid baru di sekolah yang menjadi temannya.


Berusia 20 tahun, menjadi anggota mulai dari umur 15 tahun dan karena kemampuannya dia dipercaya oleh Stiven dan menjadi salah satu anggota inti dari King Mafia.


"Kita lanjut bos?" Tanya Bagas yang tak sabar ingin melanjutkan latihan.


"Hmm," Nadhira mengangguk seraya berdiri.


"Lanjut apa?" Tanya Cerry.


"Latihan," jawab Bagas.


"Latihan?" Cery semakin bingung. Sebenarnya Cerry bingung, kenapa bosnya (Stiven) menugaskan nya untuk mendekati gadis remaja ini.


Dia mengira gadis yang bos nya suruh untuk dekati adalah gadis yang di sukai bosnya dan ternyata dia benar! Dia melihat saat bosnya menceritakan tentang gadis bernama Nadhira itu bosnya sedikit tersenyum.


Sebelumnya dia sudah mencari informasi tentang Nadhira dan hanya sedikit yang dia dapat selain menjadi anak dari orang tua tunggal, memiliki kakak yang satu sekolahan dan ekonomi yang serba kekurangan tak ada hal spesial lainnya.


"Ya, kami di sini latihan bela diri dan pelatihnya adalah bos kami, Nadhira!" Jelas Rangga.


Cerry sedikit terkejut, tetapi sebisa mungkin dia terlihat biasa saja.


"Benarkah?" Dia tak mendapat informasi tentang itu, dan dari mata-mata yang telah di sebarnya juga tak ada yang menceritakan tentang keahliannya itu.


"Nadhira ini gadis yang misterius. Mungkin itu yang membuatnya bosnya mencari tahu tentang dirinya," batin Cerry.


"Bagaimana kalau kita bertarung?" Tawar Cerry. Semua orang menatap Cerry. Mereka bukannya meremehkan Cerry, tapi apakah Cerry juga bisa bertarung?


"Bo..," perkataan Nadhira terhenti saat Rima menyela.


"Denganku saja dulu, kalau aku kalah kau bisa melawan bos kami," ucap Rima.


Nadhira tidak keberatan, hitung-hitung itu latihan untuk Rima kalau Cerry benar-benar ahli dalam bertarung.


"Ok!" Setuju Cerry.


Mereka pun bersiap dan berdiri saling berhadapan. Saling memberi salam dan kemudian Rima menyerang lebih dulu.


"Haaa," teriak Rima dikala dia menyerang Cerry, tapi yang tidak dapat dia percaya adalah Cerry dengan mudahnya menghindari serangannya. Dia terus menyerang akan tetapi selalu meleset. Seperti sekarang, dia yang menendang terus menerus dengan kedua kakinya secara bergantian tak lupa tangan yang terus menyerang bagian atasnya selalu meleset, membuatnya kelelahan sendiri, tidak dengan Cerry yang terlihat biasa saja.


"Hah hah hah, kau... Mengapa selalu menghindari serangan ku?" Tanya Rima dengan terengah-engah.


"Hmm, aku takut kalau aku menyerang, kau akan langsung kalah," ucap Cerry semakin membuat Rima kesal.


Tanpa menghiraukan kelelahannya Rima terus menyerang Cerry, tapi tak ada satupun serangan yang kena.


Puk Bugh


"Arghh," jerit Rima tatkala dia terjatuh akibat serangan Cerry.


"Rima," teriak semuanya kecuali Nadhira.


Nadhira tidak terlalu mempermasalahkan tentang apa yang di katakan Cerry terhadap Rima. Memang pada dasarnya kesalahan terletak pada Rima.


"Kau tak apa?" Tanya Clara seraya membantu untuk berdiri.


"Tidak apa!" Jawabnya.


Rima pun menatap kesal Cerry tapi dia tak bersuara.


Dia duduk di samping Nadhira. "Maaf bos, mengecewakan mu," ucap Rima.


Dia sedikit malu, pasalnya sebelum dia di latih oleh Nadhira kemampuannya tak seberapa dan setelah ikut latihan, dengan bimbingan Nadhira kemampuan berkembang pesat, tapi mengapa dia tak mampu mengalahkan Cerry. Dia menatap Cerry dengan penasaran.


"Seberapa kuat dirinya? Apakah kekuatannya lebih kuat dari Nadhira?" Batinnya bertanya-tanya.


"Tak masalah! Wajar kalau kau kalah, karena dia jauh di atas mu. Dan lagi kau bertarung dengan emosi bukan dengan pikiran. Dalam bertarung kita harus memikirkan apakah lawan kita itu lebih kuat dari kita atau tidak dengan menguji terlebih dahulu dengan jangan langsung menyerang, kita harus memperhatikan dan menganalisis lawan kita, baru kita dapat memprediksikan kita mampu atau tidak melawannya. Jika pun kita lebih lemah dari lawan kita, kita harus melawannya dengan trik bukan dengan kekuatan," ucap Nadhira menjelaskan dan memberikan pemahaman kepada Rima. Bukan untuk Rima saja, akan tetapi untuk semuanya.


Saat Nadhira menjelaskan secara panjang lebar mengenai pemahaman bertarung, Cerry tak bisa tidak kagum. Dengan umur semuda itu dia sudah sangat paham mengenai caranya bertarung, dan dia juga sangat bijak. Sungguh sosok gadis yang sangat misterius.


¤


¤


¤


Semoga Suka...