Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Bertemu Cerry


Selamat Membaca...


•••••


Pagi hari Kamis....


Pada malam tadi Nadhira telah membenahi semua barangnya dan memesan tiket pesawat penerbangan pagi hari untuk kembali ke Kota B.


Dan pagi ini dia akan pulang ke Kota B. Mobil sewaan sudah datang dan Nadhira langsung memasukkan barang-barangnya kemudian dirinya.


Mobil melaju dengan kecepatan normal membelah jalanan yang cukup ramai akan mobil yang pastinya orang-orang yang berangkat bekerja maupun bersekolah. Karena saat ini masih jam 7 pagi dan pesawat Nadhira akan lepas landas pada jam 9 pagi, jadi masih ada dua jam untuk bersantai.


Tepat jam 7:30 pagi, Nadhira sampai di bandara. Dia duduk di kursi tunggu menunggu keberangkatan nya.


Sembari menunggu, Nadhira memainkan ponselnya, membuka group WeChat nya.


Di sana sudah hampir lima ratus pesan tak terbaca olehnya, karena dia jarang membuka ponselnya.


Tak terlalu penting, karena teman-temannya hanya menanyakan dan membahas persolan mereka.


Hanya Nadhira yang jarang aktif dalam pembicaraan group WeChat mereka. Tapi meski begitu mereka tak mempermasalahkannya. Mereka paham kalau masing-masing orang itu memiliki urusan pribadi sendiri.


Nadhira menyimpan ponselnya dan mengingat sebelum perpisahannya dengan Jenifer kemarin.


On


"Kau dari Kota B?" Tanya Jenifer terkejut dan yang membuatnya lebih terkejut adalah usia Nadhira yang seumuran dengan adiknya.


Dia tak menyangka kalau Nadhira masihlah sangat muda. Dan untuk keberadaan nya di Kota A Nadhira tidak mengatakan yang sebenarnya, dia hanya beralasan liburan.


Off


Tanpa sadar Nadhira terkekeh pelan mengingat ekspresi terkejut Jenifer.


Dan lagi dia membandingkan dirinya dengan adiknya yang masih tak bisa apa-apa meski umur mereka sama.


Nama adiknya adalah Jerry, dia bersekolah di sekolahan elit yang mana sekolahan itu bersatu dengan sebuah universitas ternama pula.


Biaya sekolah di sana sangatlah mahal, jadi hanya anak-anak dari keluarga kaya yang mampu bersekolah di sana. Untuk anak-anak kalangan menengah ada, akan tetapi itu melalui jalut prestasi.


Dia menatap kamera yang berisikan foto-foto dirinya dan Jenifer dan beberapa foto yang sempat dia ambil saat berjalan-jalan di Kota A, entah itu di pasar barang antik, jalan raya dan dimanapun tempat menarik yang dia lewati.


Beberapa saat telah berlalu, sekarang Nadhira telah berada di dalam pesawat. Kursi di sampingnya belum ada yang menempati. Mungkin orangnya belum datang? Itu pikiran Nadhira.


Tak lama saat sepuluh menit lagi pesawat akan lepas landas orang yang menempati kursi di samping Nadhira datang.


Dia adalah seorang gadis muda. Kalau Nadhira tebak dia seumuran dengan dirinya.


¤¤¤¤¤


Perjalanan yang membosankan membuat Nadhira tertidur selama pesawat mengudara. Dan saat sampai dia pun terbangun dan langsung saja turun dan mencari taxi untuk mengantarkannya langsung kerumahnya.


Sebelum sampai dia telah menelepon ibunya, bahwa dirinya akan segera sampai dia rumah.


Puspa begitu senang sampai-sampai, saat taxi yang di naikin Nadhira sampai di depan gang rumahnya, ternyata di sana sudah berdiri ibunya menunggunya.


"Nadhira!!!" Sapa Puspa saat melihat Nadhira turun dari taxi.


Nadhira membalas dengan senyuman dan menyambut pelukan ibunya.


"Kenapa ibu menunggu di sini? Di luar kan dingin. Nanti ibu sakit!" Ucap Nadhira. Dia tidak menyangka kalau ibunya rela menunggunya di luar saat cuaca dingin. Dia tersentuh, tapi dia juga tidak ingin kalau ibunya sakit.


"Huhh," Nadhira menghela nafas pasrah. "Baiklah! Kalau begitu ayo kita masuk, di sini sangat dingin," Nadhira pun mengambil barang-barangnya yang telah di keluarkan oleh pak supir taxi dari bagasi mobil.


Puspa akan membantu, tetapi di cegah Nadhira. Meski barangnya lumayan banyak, tapi dia mampu membawa semuanya, dia tidak ingin merepotkan ibunya.


Di dalam rumah Puspa tak mengganggu Nadhira, dia tahu kalau Nadhira pasti kelelahan, tapi saat makan malam Puspa terus bertanya mengenai selama masa liburannya dan Nadhira dengan senang hati bercerita seperlunya dan di selingi kebohongan pastinya.


¤¤¤¤¤


Hari Sabtu, dimana hari yang telah di tunggu-tunggu oleh Bagas. Pasalnya hari yang di janjikan oleh Nadhira untuk melatihnya pada hari Sabtu.


Saat ini Nadhira sedang berlari menyusuri trotoar untuk menuju lapangan yang berada di pusat Kota B. Tapi dia berlari mulai dari turun bus, karena kalau dia berlari dari rumah dapat di pastikan dia akan terlambat dan juga pastinya sangat kelelahan.


Saat Nadhira sampai di lapangan dia tak langsung beristirahat, dia berlari seputaran kemudian setelah selesai baru dia beristirahat.


Saat ini masih jam 8 pagi, dia pertama yang datang. Setelah 10 menit kemudian Bagas dan Clara datang, dilanjutkan oleh Rima, kemudian terakhir adalah Rangga.


"Semua sudah sampai? Mari kita mulai latihannya dengan keliling lapangan sebanyak 5 kali," perintah Nadhira.


Tanpa protes mereka semua menuruti perintah Nadhira. Nadhira juga ikut berlari, karena dia sudah cukup untuk istirahat.


Setelah lima putaran selesai mereka beristirahat sebentar sebelum melanjutkan ke tahap selanjutnya.


"Bagaimana kabar kalian semua?" Tanya Nadhira berbasa-basi.


"Baik,"


Jawab semua nya kecuali Rangga yang terlihat lesu dan dari wajahnya terlihat kelelahan.


Semua menatap Rangga. "Kau terlihat sangat kelelahan? Apa tak sebaiknya kau istirahat saja?" Ucap Nadhira.


Rangga menggeleng. "Tidak apa, akan sangat di sayangkan jika aku melewatkan latihan ini," ucap Rangga.


"Tak masalah jika kau melewatkan latihan kali ini. Lain waktu kita akan latihan lagi juga," jelas Nadhira. Dia merasa prihatin dengan Rangga yang dia tebak kelelahannya itu akibat tugas nya sebagai tangan kanan Kakaknya, Reno.


"Tidak! Aku akan tetap ikut latihan. Jika aku tak sanggup aku akan berhenti nanti," ucap Rangga keras kepala.


Nadhira tak dapat menasehatinya lagi dan dia pun membiarkan Rangga ikut latihan bersama mereka.


Tak terasa sudah hampir satu jam lebih mereka latihan. Semua orang merasa kelelahan akan tetapi tidak dengan Bagas yang begitu semangatnya latihan. Benar! Dia yang menginginkan latihan dalam porsi lebih berat untuknya, tapi dia terlalu bersemangat untuk itu.


Nadhira senang, tapi dia juga khawatir dengan keadaan tubuh bagas yang kemungkinan tidak sanggup menerima semua latihan keras darinya, tapi kalau orangnya mau Nadhira juga tidak akan melarang dan berhenti hanya karena khawatir.


"Kita istirahat setengah jam!" Ucap Nadhira kepada semuanya.


Semuanya langsung terduduk dengan nafas tak beraturan.


Saat yang lain beristirahat Nadhira pergi untuk membeli minum. Yang lain juga menawarkan diri untuk membeli minum, akan tetapi Nadhira tahu untuk sekedar melangkahkan kaki saja mereka tak akan sanggup jadi Nadhira sendiri yang membelinya.


Entah itu kebetulan atau apa, Nadhira melihat sosok perempuan yang duduk di sampingnya saat di dalam pesawat menuju Kota B beberapa hari yang lalu saat dia ke minimarket. Dilihat dia habis olahraga juga, dapat di lihat dari pakaian yang dia gunakan. Dia sedang duduk di kursi depan minimarket sambil minum.


¤


¤


¤


Semoga Suka...