
~Jangan merasa bangga dengan apa yang kita miliki, karena semua itu bisa hilang dan karena itu hanyalah titipan~
Selamat Membaca
•••••
Pagi hari, yaitu hari Sabtu, mereka bersiap untuk pulang.
Memanggil taxi dan perjalanan pun berjalan dengan mulus sampai mereka sampai di depan gang sempit rumah mereka pada jam 8 tepat. Mereka masih perlu berjalan ke dalam untuk menuju ke rumah mereka.
"Ibu duduk dan istirahat ya, aku akan buatkan bubur," ucap Nadhira.
Nadhira ke dapur dan memasak bubur dan makanan lainnya untuk mereka makan.
Dia memasak bubur ayam, sup ayam, dan tak lupa nasinya.
Setelah beberapa saat masakannya matang dan dia membawa dan menyusunnya di meja makan.
"Bu, Kak, makanan nya sudah siap, mari kita makan sama-sama,"
"Ya, kami akan ke sana," sahut Andara.
Mereka makan dengan tenang dan sesekali bercanda. Setelah acara makan selesai mereka tak langsung pergi dari meja makan, mereka akan melakukan tiup lilin acara ulang tahun sederhana untuk Puspa yang tertunda.
"Terimakasih! Ibu sangat senang," ucap Puspa terharu.
"Sama-sama," sahut Andara dan Nadhira.
Saat kebersamaan keluarga kecil itu terasa harmonis tiba-tiba pintu di ketuk oleh seseorang.
Tok
Tok
Tok
"Siapa?" Tanya Nadhira.
"Entahlah?" Sahut Andara.
"Biar ibu yang bukakan," ucap Puspa.
"Biar aku saja, bu," ucap Nadhira akan bangun dari duduknya tapi dihentikan oleh ibunya.
"Tidak perlu biar ibu saja. Kan tangan ibu yang luka bukan kaki ibu, jadi ibu dapat berjalan,"
Puspa meninggalkan kedua anaknya di ruang makan. Ruang makan dengan ruang tamu dan pintu masuk terhalang oleh dinding semen, jadi mereka berdua tidak tahu siapa yang bertamu.
Nadhira mendengar suara perempuan dengan nada yang tajam dan memaksa begitu jelas di pendengaran.
"Oh Puspa, aku mendengar kau mengalami kecelakaan dan masuk rumah sakit. Dan ternyata kau telah pulang ya! Ku kira kau masih di rawat tak tahunya telah di rumah. Oh iya kan biaya rumah sakit sepenuhnya di tanggung oleh pihak pabrik dan tentunya mereka tak ingin rugi hanya untuk membiayai perawatan mu, kalau kau masih menginap di rumah sakit maka mereka harus membayar lagi untuk biaya rawat inap mu. Kalau memang kau masih di rumah sakit, kau sungguh tak tahu malu. Untungnya kau sadar diri," mendengar itu Andara dan Nadhira pun keluar dan melihat seorang wanita dengan empat pria bertubuh besar di belakangnya.
Dia adalah bibi Mawar, adik kandung dari ayah Nadhira dan Andara.
"Lukamu terlihat sangat parah ya, aku jadi merasa tak enak untuk meminta mu membayar uang yang kau pinjamkan padaku. Tapi tidak ada cara lain, aku membutuhkan uang itu sekarang. Apakah kamu dapat mengembalikannya kepadaku sekarang?"
Andara sepertinya mempersilahkan mereka masuk.
Kunjungan dari adik ipar perempuannya sendiri pada hari kepulangannya dari rumah sakit, seharusnya menjadi hal yang bagus, namun kenyataannya tidak.
Sangat jelas tujuan sebenarnya adalah meminta uang yang di pinjam oleh Puspa.
Belum lama ini, sekitar satu bulan yang lalu, Puspa meminjam sejumlah uang dari bibi Mawar, untuk biaya sekolah Andara yang baru saja naik ke kelas dua belas, oleh karena setiap kenaikan kelas para siswa harus membayar sejumlah uang kepada pihak sekolah, meski hanya untuk bayar asrama itu pun Puspa tak memiliki tabungan yang cukup. Untuk biaya pendidikan Andara itu gratis, karena Andara menerima beasiswa. Oleh sebab itu Puspa terpaksa meminjam uang kepada keluarganya dan hanya bibi Mawar yang bersedia, itu pun secara terpaksa.
Sekarang dia mendengar berita tentang Puspa yang kecelakaan, bibi Mawar tidak lagi tenang. Dia bukan khawatir tentang cedera adik ipar perempuannya, tetapi dia mengkhawatirkan, bagaimana Puspa akan uang untuk melunasi hutangnya ketika tangannya terluka.
Inilah mengapa Qin Junlan ada di sini hari ini membawa empat preman, bertujuan untuk menggertak Puspa serta kedua anaknya agar mereka cepat membayar hutang.
"Adik, lihat kondisiku sekarang. Aku bahkan tidak bisa makan sendiri. Bolehkah aku mengembalikan uangnya nanti? Aku akan kembali bekerja di pabrik setelah lukaku sembuh dan membayar hutangku setelah aku menerima gaji ku!" Puspa memohon pada bibi Mawar.
Bibi Mawar kesal akan hal itu, dia bukan orang yang akan meminjamkan uang dengan senang hati terhadap orang yang tidak bisa mengembalikan uangnya meskipun itu keluarga sekalipun.
Sebenarnya bibi Mawar tidak terlalu membutuhkan uang tersebut. Sebaliknya, keluarganya adalah salah satu yang terkaya di Kota D. Meski begitu, dia masih tidak mau meminjamkan uang tanpa bayaran, bahkan jika itu adalah saudara kandungnya.
Dengan mata elangnya, bibi Mawar tiba-tiba melihat sekilas kue ulang tahun yang ada di atas meja makan di ruang makan dan sekotak hadiah.
Memang dari tempat bibi Mawar duduk meja makan terlihat.
"Oh, Puspa, lihat...kamu bekerja sangat keras dan membuat dirimu terluka namun kedua anakmu membelikan kue ulang tahun serta hadiah untukmu. Betapa mahalnya itu! Berhemat lah!" Sindiran bibi Mawar.
Keluarga ini tidak dapat membayar hutang mereka, akan tetapi merayakan ulang tahun? Apakah mereka pikir dirinya ini hanya lelucon yang lewat?
"Aku dan kakakku membelikan ibuku kue ulang tahun dan hadiah. Apa masalahnya untuk bibi? Aku akan membayar hutang kami dalam beberapa hari ke depan. Kau tenang saja, karena kami pasti membayarnya," Nadhira melirik bibi Mawar yang angkuh, semakin kesal pada bibinya.
Dia dengan datar meminta agar mereka pergi. "Ibuku perlu istirahat. Lain kali saja jika ada yang ingin kau katakan lagi," Nadhira bisa merasakan kecewa saat ini. Dia juga sempat melirik ke arah kakaknya yang terlihat mengepalkan tangannya.
"Tidak bisa!" Teriak bibi Mawar. "Ambil barang-barang berharga yang ada," perintah bibi Mawar kepada preman-preman yang di bawanya.
Andara hanya bisa menahan amarahnya dengan melihat sekelompok pria itu dan juga bibinya. "Tunggu! Kan kami sudah mengatakan kalau akan membayar hutang kami. Bisakah bibi memberi kami waktu beberapa hari lagi?" Andara berpikir dia harus mendapatkan pinjaman dulu untuk membayar hutang. Dan nanti dia akan mengumpulkan uang untuk membayar hutang yang lain.
"Heh, beberapa hari lagi? Tentu saja!"
Sebelum Andara bisa bernafas lega, bibi Mawar melanjutkan. "Hanya jika Nadhira bekerja di bar milikku tanpa bayaran, menjadi pelayan yang melayani tamu-tamu!" Bibi Mawar tersenyum sinis.
Nadhira itu adalah gadis yang sangat cantik dengan mata besar dan bibir kecil merah nya. Jadi akan sangat menguntungkan kalau dia bekerja di barnya, karena akan lebih banyak pengunjung laki-laki yang akan datang.
Andara mengepalkan tangannya tapi dia tidak bisa membantah dengan kasar, karena walau bagaimana pun bibinya ini orang yang lumayan berpengaruh di Kota D ini. Dia tidak akan membiarkan adiknya menderita meski hanya sedikit. Dia tahu tempat yang namanya bar itu seperti apa, ditambah Nadhira anak perempuan.
"Biarkan aku saja yang melakukannya, aku akan minta cuti pada pihak sekolah untuk bekerja di sana!" Kata-kata itu keluar dengan rahang yang mengencang, akibat menahan amarah.
¤
¤
¤
Semoga Suka...