
Selamat Membaca...
•••
Tak mau banyak berpikir, Nadhira pun memilih ke kamar mandi untuk mencuci muka dan melakukan apa yang ibunya minta. Kan gak elit kalau memang ada acara dan banyak orang dan dia masih memakai pakaian tidur. Mau di taroh dimana mukanya nanti.
Beberapa menit kemudian dia selesai dan segera turun kebawah menuju ruang makan seperti pesan ibunya sebelumnya.
Tap
Tap
Tap
Nadhira dengan santai menuruni tangga tanpa tahu akan hal yang akan terjadi pada dirinya kedepannya.
"Siapa mereka?" Gumam Nadhira. "Sepertinya tak asing!" Lanjutnya.
"Ra, ayo kesini, kita makan sama-sama," Puspa melambaikan tangannya meminta Nadhira mendekat.
Nadhira mengangguk dan mendatangi ibunya dan duduk di salah satu kursi kosong yang masih tertinggal 3 buah.
Dan saat melihat siapa yang duduk diseberangnya, berapa terkejutnya dirinya ternyata.
"Gilang/Nadhira?" Ucap mereka berbarengan.
"Ngapain disini?" Tanya Nadhira.
"Harusnya aku yang tanya kenapa kamu ada disini? Aku di sini karena...," ucapan Gilang terpotong karena ibunya Gilang menyela.
"Hahaha, kami di sini untuk silaturahmi Ra. Sudah lama kita tidak bertemu ya, bagaimana kabarmu?" Tanya Ibu Gilang.
"Baik tante! Oh Geo ternyata sudah besar ya!" Tapi yang dipanggil Geo membuang muka.
Nadhira tahu kenapa. "Geo marah ya sama kakak? Maaf ya kakak tidak mengunjungi Geo lagi," ucap Nadhira dengan wajah bersalah dan sedih.
Terlihat Geo sudah gelisah dan Nadhira melanjutkan lagi aktingnya.
"Yasudahlah kalau Geo tidak mau bicara sama kakak lagi, nanti kakak cari adik baru saja!" Ucap Nadhira melipat kedua tangannya ke dada kemudian membuang muka dan benar saja Geo langsung turun dari kursinya dan segera mendekati Nadhira.
"Tidak! Kakak jangan mencari adik baru lagi! Geo tidak marah kok!" Ucap Geo sambil memeluk lutut Nadhira yang saat ini sedang duduk di kursi, tapi Nadhira masih menunjukkan aktingnya dengan pura-pura merajuk.
"Kak...," panggil Geo memelas sampai-sampai dia berlutut dan memeluk kaki Nadhira.
"Hei kamu ngapain meluk kak Ira ku? Dia kakakku! Minggir!" Dia Arlan. Dia menarik dan mendorong Geo sampai terjatuh.
"Hiks hiks huaaaaa, kak Ira punya adik baru huaaa," pecah sudah tangis Geo. Yang tadi tak mendapatkan respon dari Nadhira dan sekarang menangis karena di dorong seseorang yang dia tahu anak angkat kakak tertuanya dan otomatis dia adalah om nya, tapi berani sekali dia kasar padanya.
"Arlan jangan begitu! Kasian kan kakaknya!" Eh benar atau salah? Nadhira bingung.
Geo bangun dengan sambil sesegukkan dan berkata. "Beraninya kau! aku lebih tua dari mu dan yang lebih penting aku lebih dulu kenal dengan kak Ira," ucapnya dengan berkacak pinggang.
Arlan dan Geo hanya beda satu tahun lebih, Geo yang berumur 8 tahun yang beranjak ke 9 tahun, sedangkan Arlan berusia 7 tahun.
Merasa menang, Geo memeletkan lidahnya ke arah Arlan bermaksud berkata 'Kan, kak Ira lebih sayang aku' dan itu membuat Arlan menangis.
"Hiks hiks Huaaa kak Ira sudah gak sayang Arlan...,"
Nadhira jadi gelabakan menghadapi dua bocil yang sedang menangis ini. Sampah, lebih baik dia bertarung dengan dua orang pria berbadan besar daripada menghadapi dua bocil yang sedang menangis.
"Arlan, Geo berhentilah menangis! Kalian membuat Nadhira kewalahan menghadapi tingkah kekanakan kalian!"
Siapa yang berbicara itu?
"Ganendra? Hah?" Nadhira baru ingat kalau ini di apartment nya dan mengapa mereka semua ada disini?
"Oh astaga ini ada apa? Bisa jelaskan padaku? Aku tidak mengerti!" Nadhira menyerah dengan semua ini.
Akhirnya Puspa pun menjelaskan kepada Nadhira tentang acara yang akan diadakan karena dia kasihan dengan keadaan frustasian Nadhira memahami keadaan.
Beberapa saat kemudian penjelasan selesai digantikan dengan keterkejutan Nadhira saat Ganendra membuka suara.
"Pernahkan aku memintamu untuk jangan kemana-mana pada malam minggu?" Nadhira mengangguk. "Alasan nya yaitu, aku serta keluargaku akan datang ke sini dengan niat silaturahmi sekaligus melamarmu! Ah nanti saja kau menjawab nya, aku tahu kau bingung lebih baik kita mencari perut terlebih dulu bukan, benarkan ibu?" Tanya Ganendra kepada Puspa yang dipaksa anggukan serta senyuman.
Mereka pun makan malam bersama dengan Nadhira yang melamun, tapi tak ada yang menegur karena mereka paham kalau Nadhira mungkin syok?
Makan malam berakhir dan sekarang mereka telah berkumpul di ruang tamu.
"Jadi saya ulang lagi, niat saya beserta keluarga saya datang kemari berniat untuk melamar Nadhira. Dan apakah Nadhira mau menerima lamaran saya?" Memang Ganendra orangnya tak mau berbasa basi, tak mau berbelit-belit, jadi dia langsung saja menyampaikan niatnya yang sebenarnya.
"Bagaimana nak Nadhira? Oh ya Maafkan kami, kami juga tidak tahu kalau ternyata nak Nadhira adalah perempuan yang di cintai anak om. Dia hanya mengatakan untuk kami datang ke Kota A dan melamarkan seorang gadis jadi kami kesini tanpa tahu siapa gadis itu. Kami senang jika nak Nadhira mau menerima lamaran anak om," ucap ayahnya Ganendra.
Nadhira menatap Gilang dan mengkode. "Apa? Aku juga tidak tahu. Aku hanya di ajak dan ikut saja!" Ucap pelan Gilang. Memang dia juga tidak tahu menahu, apalagi dia juga tidak terlalu dekat dengan abang pertama dan kedua nya. Saat dia di ajak kedua orang tua nya ke Kota A dia mau-mau saja, karena pikirnya dia bisa bertemu Nadhira nantinya dan ternyata harapannya terkabul bahkan acara lamaran? Wah Nadhira bakalan jadi kakak iparnya dong.
"Terima saja Ra! Kau juga bisa menjadi ibunya Arlan kan!" Bujuk Giandra. Dia tahu kalau Nadhira sangat menyayangi Arlan.
Dari awal Nadhira tak bersuara, dia hanya mendengarkan penjelasan, dan pendapat dari yang lain. Dia bingung dengan perasaannya. Dia tidak tahu, apakah yang dia rasakan aaat ini benar-benar cinta, atau yang lainnya.
Tapi tak di pungkiri dia juga nyaman berada di dekat Ganendra.
Beberapa menit berpikir sambil menatap semua orang yang terlihat sangat berharap, Nadhira pun mengangguk. "Ya! Aku terima!" Hanya dengan kata itu semua orang bersorak gembira. Dan malam minggu itu merupakan malam tak terlupakan untuk kedua keluarga yang tak akan lama lagi akan menjadi besan.
Di perlukan satu tahun lebih! Yang satu tahun lebih kesabaran Ganendra membuahkan hasil. Tak sia-sia dia menunggu, mengkode dan sebagainya telah dia lakukan agar Nadhira peka terhadap perasaannya. Dan sekarang terbayar sudah meskipun hanya sebatas tunangan dulu.
Alasan nya karena menunggu Nadhira lulus kuliah. Tenang saja, karena Nadhira mahasiswi jenius, dia dapat lulus dalam 3 tahun dan masih ada satu tahun untuk itu. Dan dalam waktu satu tahun itu pula, Nadhira akan memastikan lebih perasaannya terhadap Ganendra dan sebaliknya Ganendra akan membuat Nadhira merasakan ketulusan cintanya.
¤
¤
¤
Semoga Suka...