
Selamat Membaca...
•••
Nadhira menatap gadis yang menunduk di depannya dan meneliti. "Cantik! Hanya saja penampilan culunnya menutupi itu," batin Nadhira menilai.
Nadhira menggeleng. "Tidak! Aku hanya terganggu dengan keributan itu," ucap Nadhira yang mengarahkan wajahnya ke arah keributan itu.
Disana terlihat seorang perempuan berpakaian sedikit terbuka dan jatuh terududuk dilantai karena dorongan dari salah satu ketiga laki-laki yang menjadi pemusat perhatian tadi.
"Pergi!" Perintah laki-laki berbadan tinggi, dengan wajah datar dan tatapan tajam. Dia memerintah dengan suara dingin yang dominan.
"Hiks hiks Calvin? Kamu kok gitu, dia aja boleh duduk denganmu masa aku tidak yang tunanganmu!" Ucap gadis itu sesegukan.
Nadhira dapat melihat kalau gadis itu benar-benar terluka. Bukan fisik tapi mental dan hatinya.
"Ck! Pergi!" Perintah, Calvin lagi, kemudian dia duduk kembali di samping perempuan yang di sebut gadis yang terduduk itu.
Mereka terlihat mesra? Pacar? Bukankah gadis terduduk itu mengatakan kalau dia tunangannya? Masa laki-laki itu pinta pacar lagi? Laki-laki bajingan! Pikir Nadhira.
Nadhira tiba-tiba berdiri membuat gadis di depannya juga ikut berdiri karena refleks.
Nadhira mengambil garpu nya dan...
Suuutttt...
Garpu itu menancap tepat di tengah meja laki-laki famous. Semua orang kaget seraya menahan nafas. Mereka terkejut darimana datangnya garpu itu.
Kedua laki-laki dan satu perempuan yang duduk disana refleks berdiri dan berteriak untuk si perempuan.
Kedua laki-laki yang juga bermuka datar tapi manis dan imut itu mencari pelaku pelemparan garpu itu. Menurutnya lemparan itu tidak main-main, karena kalau kena kepala bakalan menancap.
Tatapan mereka berhenti ke arah satu gadis yang berdiri dan menatap ke arah mereka tajam, lebih tepatnya menatap teman mereka Calvin tajam.
Merasa ada yang menatapnya, Calvin pun berbalik setelah tadi dia menampar gadis terduduk itu.
"Permisi boleh aku ambil bakso mu dulu, nanti kau ganti!" Ucap Nadhira kepada gadis di depan nya itu dan di angguki langsung olehnya.
Nadhira mengambil satu bakso bulat dari dalam mangkuk dengan kuah panas yang masih mengepul.
Gadis itu memekik kaget sambil menutup mulutnya, dia pikir untuk apa gadis datar di depannya ini meminta baksonya? Tapi dia tidak menyangka lagi kalau bakso itu dia lemparkan ke arah, Calvin?
Dia tahu siapa Calvin? Dia anak dari pejabat pemerintahan yang berjasa dalam proses pembangunan kampus GALAKSI dalam hal dana.
Tidak ada yang berani, karena semua orang tahu itu, dan mungkin gadis datar di depannya ini bukan orang Kota A, jadi dia tidak tahu.
Bukan hanya dia, yang lain pun terkejut dengan tindakan yang dilakukan oleh mahasiswa baru. Apalagi di sana ada anggota panitia Ospek.
Tapi yang membuat Nadhira tidak menghiraukan mereka karena mereka tak menghentikan keributan itu dan masih asik menonton.
Dia tahu siapa Calvin! Karena sebelum dia memasuki kampus GALAKSI ini dia sudah mencari tahu semua identitas para mahasiwa dan juga para petingginya.
Nadhira berjalan cepat ke arah keributan tersebut dan dalam sekali tarik, gadis yang kembali duduk bahkan tersungkur sudah berada di pelukan Nadhira. Meski tubuh Nadhira dan gadis itu tingginya tidak terlalu jauh, tapi mudah bagi Nadhira untuk menariknya.
Gadis itu terkejut dan langsung berhenti menangis. Nadhira menatap tajam Calvin dan Calvin juga menatap tajam Nadhira.
"Siapa perempuan ini?" batin Calvin. Mungkin juga semua yang ada dikantin yang tidak tahu siapa Nadhira.
"Banci!" Ucap Nadhira.
Keadaan yang tadi ramai mengatai gadis yang menangis itu sekarang hening. Mereka kagum sekaligus merasa Iba dengan gadis yang berani dengan tiga mahasiswa berpengaruh itu.
"Kenapa? Tidak merasa? Kalau tidak, Jangan tersinggung!" Ejek Nadhira dengan wajah datarnya.
Semua orang menahan nafas, tidak ada orang yang berani melawan Calvin, sekedar menjawab kata-katanya saja perlu extra keberanian.
"Kau!" Urat-urat pada lehernya mengeluar mengatakan kalau sang empu sangat marah.
Tangan Calvin terkepal kuat, dan sebentar lagi dia akan menggunakan fisik untuk mengajari gadis kurang ajar dihadapannya ini.
Calvin orang yang arogan, sombong, dan kasar kepada siapa pun, tidak memandang baik itu laki-laki maupun perempuan.
Aaaaaaaaa
Jerit para penghuni kantin, karena terkejut, karena Calvin memukul gadis yang terlalu berani? Dengan kepalannya yang besar.
Tapi lagi-lagi mereka terkejut dengan fakta di depan mata mereka. Gadis itu, Nadhira menahan pukulan Calvin dengan satu tangannya dan wajahnya sama sekali tidak berubah tetap datar tanpa ekspresi.
"Haha, ternyata memang banci!" Ejek Nadhira tertawa aneh. Bagaimana tidak aneh, dengan wajah datar tanpa ekspresi nya itu dia tertawa mengejek.
Dipelintir Nadhira tangan Calvin dan akhirnya wajah datar Calvin berekspresi untuk pertama kalinya. Bukan tersenyum, malu atau hal baik lainnya, tapi kesakitan.
Dia merasakan sakit yang menjalani dari jari-jarinya sampai ke punggung. Ingin melepaskan tangannya dari genggaman tangan Nadhira yang kecil, tapi tak bisa. Tenaga gadis di depannya ini sungguh kuat melebihi diri nya.
"A-aaahggg," jerit tertahan Calvin yang kesakitan.
Kedua temannya akan membantu tetapi berhenti saat Nadhira berkata. "Kalian maju, artinya mati atau koma!" Ancam Nadhira. Mereka masih akan maju, karena keluarga mereka memiliki kekuatan di Kota A ini, tapi sekarang benar-benar berhenti dengan kata kelanjutan Nadhira. "Aku tidak takut dengan keluarga kalian, jika aku mau hari ini pun keluarga kalian akan bangkrut! Dan kalau kalian ingin mencoba silahkan!"
Nadhira bukan hanya sekedar menggertak, dia serius soal dia akan membuat bangkrut keluarga mereka, tapi hanya dana gelap mereka yang akan lenyap, dan karena dana gelap lebih banyak dari pada dana hasil mereka, otomatis mereka akan bangkrut kan?
Nadhira mendorong tangan Calvin membuat nya terhuyung kebelakang dan kalau tidak di tahan kedua temannya, maka akan jatuh.
"Jangan berani lagi kasar kepada perempuan! Apakah kau tidak berpikir kalau ibumu juga perempuan? Bagaimana perasaan mu kalau ibumu di pukul? Sedih? Bersalah? Dan tadi ku dengar bahwa gadis ini berkata bahwa kau tunangannya? Ku rasa tidak pantas. Dia gadis baik, kau pria jahat, dia setia, kau pengkhianat?" Ucap Nadhira pandang lebar.
Gadis yang di perlukan Nadhira mendongak menatap gadis yang bicara mewakilinya. Nadhira sedikit menunduk, karena dia sedikit lebih tinggi dari gadis itu, dan mengangkat alisnya bertanya dan gadis itu menggeleng dan kembali menunduk.
"Kalau kau tidak mau dengannya, aku ambil dia sebagai kakak iparku! Kakakku lebih tampan dirimu, baik, perhatian, dan penyayang, tidak sepertimu, banci!" Tidak ada yang ternyata, hanya Nadhira sedari tadi bicara. Calvin pun juga hanya diam menyimak sesekali meringis karena tangannya yang sangat sakit.
"Kakak mau jadi kakak iparku?" Tanya Nadhira pada gadis yang dia tebak kakak seniornya itu.
Gadis itu mendongak dan bertanya. "Namamu siapa?"
"Nadhira! Kakak?" Tanya balik Nadhira sopan.
"Namaku Alisya!" Jawabnya.
"Hm, jadi bagaimana dengan tawaranku?" Nadhira.
"Akan ku pikiran!?" Jawab ragu Alisya dan Nadhira paham itu, dia tahu sebuah perasaan tidak bisa hilang begitu saja, perlu proses dan waktu.
"Ok! Seperti nya Ospek akan segera di mulai lagi! Nanti kapan-kapan kita ketemu lagi. Sebaiknya kakak mengobati lukamu dulu," berbeda berbicara kepada Calvin dan lainnya, sekarang Nadhira lebih lembut meski dengan wajah masih datar.
Mereka pun pergi dari kantin, meninggalkan orang-orang yang masih terkejut, Dan lainnya.
¤
¤
¤
Semoga Suka...