Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Masuk Kasino


Selamat Membaca...


•••••


Setibanya di ruangannya Nadhira di sambut tepuk tangan oleh dua orang.


Prok prok prok


"Selamat! Selamat!" White Snake yang berucap dengan semangatnya. Sedangkan Bafo tersenyum.


Nadhira melepas topengnya dan tersenyum simpul kemudian duduk mengistirahatkan tubuhnya seraya memejamkan matanya. Merasa nyeri di tangannya yang tadinya untuk menahan tinju King Kobra. Nadhira pun membuka matanya dan mengambil balsem untuk memijat lengannya yang sedikit nyeri.


Krek


Krek


Ternyata sendi pada sikunya sedikit geser dan dia langsung membenarkannya.


White Snake dan Bafo juga ikut duduk dan terus bicara mengenai pertarungan tadi.


Nadhira hanya mendengarkan tanpa berniat ikut pembicaraan itu.


Beberapa saat kemudian Nadhira dan lainnya telah bersiap untuk kembali ke hotel.


Bafo telah berpisah dari mereka sedari berangkat dari gedung pertarungan. Bafo tinggal di sana untuk melakukan tugasnya tersendiri.


Mereka berdua sampai di hotel pada jam satu pagi dan masing-masing mereka masuk ke kamar mereka.


Di kamar Nadhira langsung berendam karena tubuhnya sangat lengket karena setelah pertarungan dia tidak bisa mandi di sana.


Setelah selesai dia mengistirahatkan tubuhnya dan langsung menuju alam mimpinya, karena hari juga sudah larut malam dan akan segera pagi kembali.


¤¤¤¤¤


Pagi telah datang, Nadhira masih dengan nyenyak nya tidur. Dan beberapa saat kemudian baru dia bangun pada jam 8 pagi. Dia langsung mandi dan setelah dua puluh menit dia selesai dengan segala rutinitas paginya.


Groook


Groook


Terdengar suara yang berasal dari perut Nadhira.


"Ugh.. Lapar!" Gumamnya.


"Apa aku minta antar ke kamar saja ya?" Tak sempat menelepon jasa pengantar makanan dari hotel, ponsel Nadhira berbunyi terlebih dulu.


"Hallo!" Nadhira.


'Kita makan bersama di restoran bawah, kau mau?' Itu adalah telepon dari White Snake.


"Ok! Kebetulan aku juga ingin makan," setuju Nadhira.


Nadhira pun setelah menaruh ponsel di tas kecilnya langsung pergi keluar menuju restoran yang berada di lantai dasar.


Nadhira telah sampai di sana. Dia melihat ke sekeliling dan tampaklah White Snake melambaikan tangannya ke arah Nadhira.


Nadhira pun menuju meja yang di tempati White Snake. "Sudah lama?" Tanya Nadhira.


"Tidak! Baru juga!" Jawab White Snake.


Nadhira pun mengangguk dan duduk di salah satu kursi di sana.


Nadhira mengambil buku menu dan memesan. White Snake juga melakukan hal yang sama.


Setelah selesai makan, mereka tidak langsung pergi dari sana. Mereka memesan makanan penutup terlebih dulu dan saat makan penutup datang sambil makan White Snake mengajak Nadhira bicara.


"Ekhem...," White Snake berdehem untuk memulai bicara. "Aku tahu ini tidak sopan, akan tetapi dari awal kita bertemu aku sudah tertarik padamu. Bukan tertarik dalam artian suka, akan tetapi tertarik untuk lebih mengenalmu," White Snake menjeda perkataannya untuk menghela dan mengambil oksigen. "Huuh... Jadi bisakah kita berkenalan dari awal? Bukan dengan nama samaran, akan tetapi nama asli. Aku ingin berteman denganmu," ucap White Snake panjang lebar.


"Boleh!" Satu kata dari Nadhira membuat White Snake senang.


"Baik! Perkenalkan namaku Kania Laranzo, terserah kau mau memanggil dengan Kania, Lara atau apa pun," ucap White Snake memperkenalkan dirinya dengan nama aslinya sambil mengulurkan tangannya.


"Nadhira, Ok akan ku ingat terus," ucap Kania.


Note: Sekarang kalau hanya ada Nadhira dan White Snake maka mereka akan memanggil dengan nama asli mereka dan jika sedang di arena pertarungan maka dengan nama samaran mereka.


Mereka pun berbincang mengenai kepribadian masing-masing. Meski hanya Kania yang banyak bertanya akan tetapi Kania juga selalu menceritakan tentang dirinya. Sedikit paham mengenai kepribadian Nadhira yang tidak banyak bicara, dia pun memahami itu.


Nadhira juga tidak menyangka kalau perempuan yang awalnya dia temui berekspresi datar, dingin dan tak banyak bicara sekarang sangat banyak bicara.


Nadhira tidak keberatan akan hal itu dia menikmatinya saja toh bukan mulutnya yang lelah bicara, dia hanya mendengarkan dan sesekali menjawab pertanyaan Kania.


"Oh ya, kita akan kembali ke Kota B malam ini," ucap Kania sambil memakan dessertnya.


Nadhira mendongak menatap Kania, Kania yang di tatap bertanya-tanya akan tetapi tidak dengan kata-kata akan tetapi dengan ekspresinya.


"Aku akan tinggal beberapa hari lagi di sini," ucap Nadhira.


"Kenapa?" Tanya Kania.


"Hanya ingin liburan," jawaban Nadhira masih meninggalkan tanda tanya pada Kania, tapi dia juga paham tidak semua hal yang ingin dia ketahui harus selalu dia dapat.


"Oh...Baiklah! Aku akan memperpanjang masa penginapan mu di hotel ini saat cek out nanti," ucap Kania.


"Terimakasih!" Ucap Nadhira.


"Bukan masalah! Aku juga sudah mentransfer uang kemenangan mu ke akun mu!" Ucap Kania.


"Terimakasih!" Ucap Nadhira lagi.


"Ya ya ya, tidak perlu berterimakasih terus. Itu memang hak mu dan aku hanya mengirimkannya. Kita kan teman jadi berhentilah berterimakasih berlebihan," ucap Kania sedikit menggerutu, tapi dalam artian senang karena Nadhira bukanlah orang yang sombong dan dia juga adalah orang baik bagi orang yang baik kepadanya.


Setelah dessert mereka habis mereka kembali ke kamar mereka. Kania sedang berbenah untuk keberangkatannya malam ini. Sedangkan Nadhira juga bersiap untuk jalan-jalan keluar.


Kemarin dia tidak sempat untuk masuk ke kasino yang ada di pasar barang antik, jadi rencananya hari ini dia akan ke sana.


Sebelum ke sana dia mempersiapkan kartu identitas palsu yang dibuatnya dengan keahlian mengambil identitas orang lain menggunakan kecerdasannya.


Berdandan sedikit tebal agar membuat wajahnya lebih dewasa. Tak lupa pakaian yang dia gunakan juga yang dewasa.


Dengan blazer abu-abu tua dan kaos polos cream di dalamnya di padukan dengan celana panjang hitam semata kaki. Sepatu boots pentofel hitam.


Rambutnya di galungkan dengan rapi sedikit ke atas membuatnya seperti seorang perempuan dewasa berumur dua puluhan keatas.


Setelah semua persiapan selesai Nadhira langsung ke luar hotel dan mencari taxi saja.


Setelah beberapa saat dia telah mendapatkan taxi dan menaikinya ke pasar barang antik sebelumnya.


Pihak lelang masih belum menghubunginya untuk pelelangan resmi jadi dia tidak datang kesan untuk mengecek, akan tetapi dia berniat untuk berjudi.


Nadhira sampai di depan gang, tapi dia tidak langsung masuk gang, akan tetapi dia mencari mesin ATM untuk penarikan uang.


Lima puluh juta rupiah dia tarik dan memasukkan ke tas besar yang dia bawa untuk penyamaran.


Nadhira telah berada di depan gedung kasino terbesar. Kartu identitasnya sedang di cek oleh pegawai di sana. Dan beberapa saat kemudian...


"Silahkan masuk! Maaf atas ketidaknyamanannya!" Ucap pegawai itu kemudian mempersilahkan masuk.


Nadhira menyeringai samar. "Berhasil!" Batinnya.


"Tidak masalah!" Nadhira pun pergi, masuk ke dalam gedung kasino terbesar.


Saat sudah di dalam Kasino, Nadhira mendengar teriakan keras yang hampir menusuk gendang telinganya. "Ayo datang kemari! Tebak besar dan kecil, ayo pasang taruhan yang banyak, di manapun anda inginkan!"


¤


¤


¤


Semoga Suka...