Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Gadis Normal


Selamat Membaca...


•••••


Dia berpikir, dia telah memahami seluruhnya mengenai adik perempuannya, akan tetapi ternyata tidak. Dia sama sekali tak memahami adik perempuannya itu. Dia pun berhenti memberontak dan diam di tempat dengan penuh ke khawatiran yang di tunjukkan kepada adiknya.


Beralih kepada Nadhira yang saat ini sedang berhadapan dengan dua penembak jitu.


Saat empat peluru ditembakkan ke arah Nadhira, dia tidak mundur akan tetapi dia bergiling menghindari empat peluru itu dan alhasil keempat peluru itu menancap di pilar dan dinding tembok yang di mana Nadhira berdiri sebelumnya.


Semua teman-temannya dan kakaknya menahan nafas tak sanggup membayangkan jika Nadhira tak menghindarinya.


Kalau di lihat posisi Nadhira saat ini sangat mudah untuk di capai oleh dua penembak jitu itu akan tetapi akankah hasilnya sama seperti sebelumnya?


Mereka masih mengharapkan keselamatan Nadhira.


Terlihat oleh Nadhira kalau penembak jitu itu marah. "Brengsek!"


Kedua penembak jitu yang tak satu tim itu merasa di permainkan oleh gadis kecil yang dengan mudahnya menghindari tembakan mereka, padahal posisi sudah sangat menguntungkan mereka.


Apakah gadis itu sudah lebih dari dua puluh tahun? Mereka rasa tidak!


Mereka merasa gadis kecil itu mengejek mereka, karena mereka tak dapat mengenainya, dan dalam hayalan mereka, gadis kecil itu berkata.


Apakah kalian sudah tak mampu menembak, hingga tak satu oun peluru yang kalian tembakan mengenaiku?


Kedua penembak jitu itu marah dengan khayalan mereka, penembak jitu itu menyesuaikan bidikannya lagi. Jari telunjuknya menyentuh pelatuk dan kemudian menariknya. "Tss!" Itu suara peluru dari penembak jitu arah jam 3.


Sesaat setelahnya. "Tss!" Suara tembakan lagi dari penembak jitu arah jam 10.


Tapi karena terlalu fokus dengan pemikiran mereka, mereka tak sadar kalau mereka tidak menembak ke arah Nadhira, karena sekarang Nadhira beradi di dekat jendela kaca besar tepat berhadapan dengan mereka.


Seringai licik tersungging di bibir kecil Nadhira.


Tsk...Tsk...


Dengan jeda yang tak terlalu jauh, dengan sekali tembak di masing-masing pistol di tangan Nadhira, tepat mengenai kepala kedua penembak jitu itu. Suara tembakan tak terlalu terdengar, karena pistol yang di gunakan Nadhira juga sangat luar biasa. Kalau tembakan itu bersuara maka akan terjadi kegemparan di restoran itu dan membuat dirinya mendapat masalah.


Bagh!!!


Tubuh keduanya jatuh menghantam lantai marmer dan darah keluar dengan derasnya dari kepala mereka.


Semua orang bersembunyi di balik tembok, tapi mereka masih bisa melihat setiap pergerakan Nadhira. Mereka tak mempercayai apa yang mereka lihat barusan. Mereka mengedipkan, mengucek dan mengusap-ngusap mata mereka kalau-kalau mereka salah lihat. Tapi pada kenyataannya itulah yang terjadi.


Bibir Nadhira tertarik membentuk senyuman kemenangan, tak ada rasa takut di matanya, setelah menembakkan peluru dan membunuh dua orang.


Sebaliknya, Andara dan lainnya memiliki perasaan yang campur aduk. Perasaan tak percaya terhadap Nadhira saat ini.


Tapi satu, mereka lega melihat Nadhira baik-baik saja sekarang.


Banyak pertanyaan yang ingin di ajukan oleh Andara kepada adiknya itu, tapi masih dia tahan. Nanti kalau dia sudah hanya berdua mungkin dia akan mengorek seluruh isi pikiran adiknya itu.


Apakah Nadhira yang luar biasa yang membuat jantungnya hampir copot ini masih adik perempuannya di masa lalu?


Tapi selepas dari itu, dia akan terus meyakini bahwa adiknya tetaplah adik perempuannya yang dia sayangi.


Mereka pun pergi melalui pintu deoan dengan tanpa membuat semua orang maupun polisi merasa curiga terhadap mereka. Mereka menggunakan seragam sekolah, jadi pastinya tak akan ada yang curiga kalau salah satu dari mereka lah yang membawa pistol apalagi menembak kedua penembak jitu.


Mereka berhasil keluar tanpa di curigai.


Mereka semua masih syok dengan kejadian barusan, akan tetapi mereka berusah melupakannya dan menganggap semua nya tidak pernah terjadi.


Karena mereka tak jadi makan di restoran itu, jadi mereka pum beralih ketempat lain, tepatnya di rumah makan sederhana di pinggir jalan.


Sebenarnya mereka akan pulang saja, akan tetapi Glen bersikeras mentraktir mereka dan semua orang pun tak ada pilihan dan setuju.


Setelah makan selesai, Nadhira dan keempat temannya, termasuk Rima pulang, sedangkan Andara dan Glen tetap berada di asrama mereka. Sedangkan Nadhira dan lainnya pulang ke rumah masing-masing.


Nadhira sampai di rumah pada jam 5 sore, cukup awal. Karena ibunya belum kembali dari bekerja.


Menghilangkan waktu jenuhnya dia pun memilih memasak untuk ibunya dan dirinya.


Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, ibunya telah pulang selepas bekerja dan langsung di sambut hangat oleh Nadhira.


"Eh, pulangnya cepat ya?" Tanya Puspa kepada Nadhira. Karena tidak biasanya Nadhira pulang secepat ini dan sudah memasak makanan untuk mereka.


"Iya bu, tadi semua guru mengadakan rapat, jadi para siswa di minta pulang cepat," jelas Nadhira.


"Oh, sudahkan memberikan selimut untuk kakakmu?" Puspa.


"Sudah bu, tadi kami juga sempat jalan-jalan sebelum pulang,"


Nadhira sangat merindukan saat-saat seperti ini. Dimana dia akan bercerita kepada ibunya mengenai sekolahnya dan lainnya. Dia sangat ingin menjadi gadis normal pada umumnya, akan tetapi untuk sekarang tidak bisa.


Nadhira pun menceritakan pengalamannya jalan-jalan bersama teman-temannya serta kakaknya, tapi tidak untuk kejadian di restoran.


Keasikkan bercerita, tak terasa sudah jam 9 malam. Mereka pun kembali ke kamar masing-masing untuk mengistirahatkan tubuh yang kaku karena kebanyakan beraktivitas pada siang hari.


¤¤¤¤¤


Hari-hari telah berlalu seperti biasa. Tidak ada kejadian seperti yang terakhir kali di restoran tentang penembak jitu, sekarang hari-hari nya lebih tenang, meski membosankan akan tetapi Nadhira mendapat banyak hal saat dia berada di sekolahan karena saat dia menjadi agen pembunuh dia tidak pernah bersekolah pada umumnya. Akan tetapi dia di didik secara keras di sebuah hutan dan gedung yang mayoritaskanya para penjahat dan juga para anak-anak yang di culik untuk di jadikan mesin pembunuh bagi para oknum yang membutuhkan mereka.


Yunita juga terlihat lebih tenang, tidak ada pergerakan untuk membuat masalah dengan Nadhira. Entah apa lagi yang dia rencanakan kali ini. Semoga saja tidak ada.


Hari Jumat, mereka pulang dengan cepat, akan tetapi Nadhira menyisihkan waktu nya untuk mengajari teman-temannya ilmu bela diri. Hanya dasar-dasar yang mereka tidak mengerti. Akan tetapi untuk Clara dia akan mengajarkannya dari awal.


Mereka sangat bersemangat meski hanya latihan dasar saja, tapi tidak untuk Clara yang merasa sangat kelelahan.


"Pelan-pelan saja! Jangan terlalu di paksakan. Nanti juga akan terbiasa," ucap Nadhira seraya tersenyum ke arah Clara. Clara mengangguk mengiyakan dan penuh semangat.


¤


¤


¤


Semoga Suka...