
Selamat Membaca...
•••••
Lagi-lagi libur, karena kelas dua belas menjalani ujian kelulusan dan saat ini Nadhira menggantikan Andara dan Glen yang biasanya selalu berada di sini untuk memantau serta membantu melayani. Untungnya dia di bantu oleh teman-temannya.
Pengunjung yang datang, makin hari semakin banyak. Sampai ada yang rela mengantri panjang hanya untuk bisa masuk ke dalam, entah itu untuk menikmati hidangan sambil mencuci mata.
Dia tahu penyebabnya, siapa lagi kalau bukan karena ada salah satu anggota boyband FiveBoys, Rayhan yang hampir setiap Nadhira ada di cafe dia selalu datang.
Tidak merepotkan sama sekali, karena dia sesekali menyumbangkan lagu yang memang di cafe ada tersedia panggung kecil untuk bernyanyi. Belum di buka secara umum karena belum menemukan penyanyi serta pemain musiknya, untuk alat-alat musiknya telah di sediakan.
Kebanyakan pengunjung adalah para gadis remaja yang pastinya ingin menatap wajah ganteng kakaknya dan Glen saat berada di cafe. Kalau ada Rayhan semakin banyak tuh kaum hawa, baik remaja hingga lansia haha.
¤¤¤¤¤
Jam, hari hingga minggu telah berlalu. Tapi aktivitas seseorang tetap sama setiap harinya. Yang berbeda hanya dia sekarang di rumah tidak sendiri lagi. Karena kakaknya telah menyelesaikan sekolah jenjang SMA nya, tinggal menunggu kelulusan.
"Kak, kakak mau melanjutkan kuliah dimana?" Tanya Nadhira yang sedang rebahan di sofa seberang Andara.
"Entahlah! Inginnya di universitas terbaik di Kita B saja, itu pun kalau bisa masuk dengan beasiswa," meski Andara sudah mengurus cafe Nadhira dan menerima hasilnya juga, tapi dia tidak ingin terpaku di situ, kalau-kalau sewaktu-waktu terjadi masalah, uangnya dapat dia gunakan untuk yang lain. Untuk kuliah dia bisa dengan beasiswa.
Kalau pun tidak bisa masuk dengan beasiswa di universitas terbaik di Kota B, dia memilih masuk universitas lain.
"Mengapa begitu? Kan kita sudah ada penghasilan dari cafe. Cafe juga lancar bahkan sangat lancar, jadi tidak apa jika ingin tetapi kuliah di sana tanpa beasiswa," Nadhira tahu maksud Andara. Dia ingin mendorong Andara untuk menempuh pendidikan yang lebih baik. Untuk biaya, meski tidak ada cafe pun dia akan memaksa Andara untuk masuk sana. Dia akan mencari nya sampai dapat agar Andara dapat kuliah di tempat yang dia inginkan.
"Tidak! Aku tidak ingin mengharapkan itu, kalau bisa dengan beasiswa untuk apa bayar kan?" Sungguh Andara terlalu hemat.
"Emm, bagaimana kalau kakak berkuliah di universitas terbaik di Kota A? Apakah mau?" Tanya Nadhira. Dia ingin Andara berkuliah di sana, karena kedepannya mereka juga akan pindah ke sana saat dia lulus sekolah dan mempersiapkan semuanya.
"Hahahaha, tentu mau, tapi aku tidak terlalu berharap. Pergi ke Kota A saja tidak pernah, ingin kuliah di sana? Ku rasa hanya dalam mimpiku,"
Nadhira ingin menceritakan semuanya pada Andara, tapi dia ragu dan dia pun bertekad akan berkata jujur tapi hanya yang bisa di terima, untuk pertarungan, judi dan hal-hal berbau kriminal, dia tak akan mengatakannya.
"Emmm kak," panggil Nadhira ragu-ragu khas anak remaja yang akan mengatakan kebohongannya yang besar.
"Hmmm," Andara menatap Nadhira dan menaikkan sebelah alisnya, menatap bingung dengan tingkah aneh adiknya itu. Tidak biasanya dia seperti remaja normal yang takut-takut. "Ada apa? Sepertinya kau ingin mengatakan sesuatu?" Andara ini terlalu peka.
Nadhira mengangguk dan membuka dan mengantup kembali mulutnya. "Katakanlah, aku akan mendengarkannya, dan tidak akan menyela sampai kau selesai berbicara," Andara tak lagi sabar dengan apa yang akan di katakan adiknya itu.
"Bagaimana kalau aku bisa membiayai mu untuk berkuliah di Kota A, di universitas terbaik di sana?" Nadhira bukan takut di marahi karena tak memberitahu dan membohongi mereka, tapi yang dia takuti adalah kalau pemuda yang notabennya adalah kakaknya Nadhira yang sekarang telah menjadi kakaknya karena dia menempati tubuh Nadhira, dia takut kalau Andara akan meragukan kalau dia adalah adiknya meski kenyataan nya wajah nya memang adiknya.
Sebenarnya aku telah membeli sebuah perusahaan perhiasan. Nama dari perusahaan itu adalah Beauty Jewelry. Oleh karena itu, meski kakak mau ke universitas terbaik di Kota B dengan tanpa beasiswa pun tidak masalah. Akan terapi aku ingin kakak untuk berkuliah di Kota A, karena aku berencana setelah lulus akan pergi ke sana dan kita semua akan tinggal di sana,"
Terdiam sekian lama setelah pengakuannya Andara pun juga masih diam, dia masih mencerna semua perkataan Nadhira.
Setelah beberapa saat diam akhirnya Andara berbicara. "Jadi kau memiliki sebuah perusahaan?" Andara memastikan kembali apa yang dia dengar. Nadhira mengangguk mengiyakan.
Hening...Andara masih memikirkan dan berusaha menerima semua yang di dengarnya. "Aku tidak tahu harus menanggapi ini bagaimana, tapi aku masih merasa aneh dengan semua perubahan mu setelah keluar dari rumah sakit. Sikapmu dan perilaku mu berubah. Kadang kala aku tidak mengenalmu Nadhira,"
Deg deg deg
Apakah perubahan dalam dirinya sejelas itu? Dia sudah berusaha bersikap senormal mungkin layaknya Nadhira dulu, meski dia tidak ingin mengikuti kebodohan Nadhira yang dulu.
Perkataan Andara barusan membuat Nadhira sedikit lega tapi kelegaannya hanya sementara.
"Tapi aku penasaran bagaimana kau dapat melakukan itu semua dengan waktu yang sangat singkat. Ku rasa tidak mungkin kau melakukan ini sedari dulu, karena aku tahu bagaimana sikapmu dulu. Jadi jelaskan bagaimana kau melakukannya? Oh dan ya, pendukung-pendukung, maksudnya bagaimana juga? Ayo jelaskan, jangan ada yang di tutupi,"
Kan, ini yang di takutkan Nadhira berkata jujur, tapi kalau tidak sekarang, ujung-ujung nya akan ketahuan juga dan lagi akan sulit untuk melakukan apa yang harus dilakukan dimasa depan kalau tidak diberitahu sekarang.
Nadhira sekarang duduk dengan tegak dan wajahnya berubah menjadi serius.
"Sejujurnya apakah kau percaya jika aku bukan Nadhira yang dulu?"
"Ya! Karena dari sifat mu saja sudah berbeda jauh,"
"Nah, jadi ceritanya saat aku koma aku bertemu dengan seorang perempuan yang ku ceritakan dulu dia menyuruhku untuk mengambil uang di rekeningnya kan," Andara mengangguk ingat.
"Selama aku koma, aku sebenarnya berada di alam lain bertemu dengan perempuan itu, dia mengajari ku segala hal yang dia bisa. Mulai dari menembak, bela diri dam sebagainya. Mungkin kakak tidak akan percaya ceritaku ini, tapi percayalah karena kenyataan nya ada di depan mata,"
Andara masih mendengarkan dan mencerna semua perkataan Nadhira, mencari kebohongan melalui matanya, tapi tak dia dapati itu.
"Secara logis memang tidak masuk akal, tapi mendengar dari ceritamu dan kenyataan yang ada mungkin semua itu benar, jadi aku percaya,"
Seketika senyum lebar terpatri di bibir Nadhira, dia bersyukur Andara mempercayai ceritanya.
"Uumm, jadi apakah kakak mau berkuliah di universitas di Kota A?"
"Akan ku pikirkan. Aku tidak ingin menyulitkan mu!"
"Tidak menyulitkan sama sekali, ini memang tujuanku untuk bekerja keras, agar kita semua dapat hidup dengan layak,"
Andara terdiam, dia memang memiliki tekad seperti itu sejak dulu, tapi karena dia masih sekolah dan belum lulus dia tidak dapat mencari pekerjaan yang bagus kalau tidak memiliki ijazah yang memadai, tapi adiknya?
Dia mampu melakukannya dengan baik dan pastinya cepat.
"Aku sangat berterima kasih untuk semuanya, tapi biarkan aku berusaha dulu! Jika tidak mampu, aku akan menerima tawaranmu!"
"Baiklah! Akan ku tunggu, tapi aku sungguh-sungguh akan mengajak ibu tinggal di Kota A, kalau bisa juga paman Aryo dan bibi Mayang, hanya mereka yang baik pada kita saat kita kesusahan, aku ingin membalas budi pada mereka,"
"Baik, aku akan mencoba mendaftar di universitas terbaik di Kota A dengan beasiswa dulu jika tidak lulus aku akan mengatakan padamu untuk membantuku masuk,"
Nadhira mengacungkan dua jempolnya.
Pembicaraan pun selesai dan terakhir Nadhira meminta agar Andara tidak mengatakan rencananya pada ibunya untuk sekarang seperti hal perusahaan dia juga meminta jangan memberitahunya sama halnya dengan cafe yang mereka jalankan.
¤
¤
¤
Semoga Suka...