
Selamat Membaca...
•••
Berkedip beberapa kali, apakah dihadapan mereka ini benar-benar seperti yang terlihat?
Mereka kira saat mendengar suaranya yang datar, dan terdengar berwibawa merupakan gadis yang sudah 20 an keatas. Tapi salah! Ternyata wajahnya tak mencerminkan suaranya. Dia terlihat seperti anak SMP?
"Sudahkan! Dan untuk permintaan sepertinya tidak ada. Karena saya membantu karena kasihan dengan Arlan yang terus menangis. Mungkin kalau tidak ada anak sekecil Arlan di tengah pertarungan kalian, saya juga tidak akan membantu, mungkin?" ucap Nadhira blak-blakan menyadarkan mereka dari pikiran mereka.
"Ekhem.. Ahhhh begitu! Tapi bagaimanapun juga nona Nadhira sudah menolong kami, jadi apakah tidak ada permintaan sesuatu hal barang kali? Oh ngomong-ngomong apakah nona masih sekolah?" Tanya Giandra.
Dia sangat penasaran dengan Nadhira. Dia sempat melihat Nadhira yang dengan brutalnya memukuli bawahan Erik, jadi dia pikir Nadhira sudah 20 an, tapi tidak dipungkiri juga wajahnya yang terkesan imut, dengan pipi chubby, bibir mungil berwarna merah cery hidung mancung, sangat khas dengan anak remaja. Jadi daripada mati penasaran lebih baik bertanya bukan.
"Tidak ada! Saya baru lulus SMA!" Jawaban Nadhira membuat semuanya mengangguk. Pasalnya pertanyaan Giandra merupakan pertanyaan yang lain juga.
'Mereka dapat menebak umurku kan?' Batin Nadhira. Dia malas mengatakan umurnya, karena kalau dipikir-pikir umurnya sudah berada di tingkat dewasa kalau di tambah kehidupan sebelumnya.
"Oh saya kira nona masih sekolah?" Giandra sedikit terkejut Mendengar faktanya.
"Hm, jadi sekarang kalau tidak ada pertanyaan lagi, apakah saya boleh pergi?" Nadhira keluar hanya untuk mengecek rumah lamanya dan berakhir di sini, Di mansion bak istana dengan para cogan, yang lebih cocok menjadi hot daddy. Nadhira gadis normal, dia juga suka yang tampan-tampan. Dia takut khilaf dengan bicara ngaur nanti.
"Kakak Ira tidak suka berada di sini?" Tanya Arlan yang tadinya hanya diam menyimak pembicaraan orang dewasa dengan tatapan sedih ke arah Nadhira.
Nadhira memusatkan matanya ke arah bocah laki-laki yang imut, Arlan.
"Tidak kok! Kak Ira hanya harus pulang! Ibu kakak pasti khawatir, karena kakak sudah lama diluar," jelas Nadhira.
"Hmmm, baiklah! Tapi... Apakah kita bisa bertemu lagi?" Tanya Arlan dengan wajah menggemaskan.
Tak tahan lagi, Nadhira langsung mengambil Arlan dari pangkuan Ganendra tanpa menghiraukan tatapan tajam dari Ganendra.
Dia menciumi setiap inci wajah chubby Arlan, membuat sang empu tertawa cekikikan.
"Arlan mau ikut kakak? Tinggal dirumah kakak, jadi adik kakak. Kebetulan kakak hanya punya abang dan adik sepupu perempuan. Di sana pasti menyenangkan," tawar Nadhira.
"Tidak!" Bukan Arlan yang menjawab, tapi Ganendra. "Kau hanya boleh menjadi ibunya!" Lanjutnya.
Giandra, Kevin bahkan para pelayan yang kebetulan lewat melotot.
'Apakah tuan/kak Ganendra secara tidak langsung melamar Nadhira? Tak ada romantis-romantisnya' pikir mereka.
"Heh, apa yang om katakan?" Meskipun dia suka cogan, tapi bukan untuk dijadikan pacar, apalagi suami. Tidak sekarang! Untuk nanti bisa dipikirkan.
"Om jangan bercanda," wajah datar Nadhira menatap tajam Ganendra. Meskipun dianggap tak sopan, tapi dia juga tidak ingin dibecandain. Dia ingin diseriusin. Eh gak sekarang ya!
"Berhentilah memanggilku om, aku tidak setua itu!" Tegas Ganendra. Dia sedikit kesal dengan Nadhira yang selalu memanggilnya 'Om' Apakah wajahnya setua itu?
"Oh? Tapi," meskipun Nadhira tak mengatakannya mereka yang berada di sana mengerti.
Giandra mendekat kearah Nadhira dan Kevin mengambil alih Arlan dan berjalan menjauh.
"Aku mengerti maksudmu! Tapi sebenarnya Arlan bukan anak kandung kak Ganendra. Dia anak yang ditemukan oleh kakak di hutan saat penyergapan para penyeludup manusia, dia mengangkatnya jadi anak. Dan kami tidak setua seperti yang kau kira. Umur ku baru 22 tahun, kak Ganendra 25 tahun dan Kevin 26 tahun," jelas Giandra.
'Karena itu? Ku kira karena wajahku sudah menua!' Batin Ganendra lega.
"Oh!" Nadhira hanya ber oh ria.
'Jadi pikiran ku salah kan kalau dia ingin melamarku. Ah aku ini apaan sih. Dia menyuruhku menjadi ibunya Arlan tanpa adanya ikatan kan, kan dia bukan ayah kandung Arlan juga,' batin Nadhira meruntuki pikirannya.
"Kalau begitu saya terima jadi ibunya Arlan," senyum tipis terpatri di wajah datar Ganendra, tapi senyum itu tak bertahan lama.
Nadhira celingukan memastikan Arlan tak ada disana. "Tuan muda Arlan bersama pengasuhnya," ucap Kevin baru datang.
Nadhira mengangguk kemudian berkata. "Anda kan bukan ayah kandung Arlan, jadi saya mau jadi ibunya juga. Karena maksud anda saya jadi angkatnya dan anda jadi ayah angkatnya, jadi kita bisa masing-masing mengurusnya. Misalkan satu minggu di rumah anda dan minggu berikutnya bersama saya, begitukah?" Ucap Nadhira mengungkapkan pemahamannya.
Wajah ketiga pria di depan Nadhira berubah kesemula, datar dan jengah?
'Apakah gadis yang beranjak dewasa biasanya tak peka?' Batin Kevin.
'Ah kemana sikapnya yang tegas sebelumnya?' Batin Giandra.
'Sikap percaya diri apa itu?' Batin Ganendra. Dia sangat ingin menjelaskan maksudnya ke Nadhira yang tak peka, tapi dia gengsi, dia harus mempertahankan wibawanya di hadapan Nadhira. Bisa kacau kalau dirinya nanti di sebut cerewet.
"Yah terserah apa pehamanmu saja!" Ucap Ganendra. Dia tidak mau terburu-buru dan membuat Nadhira menjauhi darinya.
Dia tidak mau itu terjadi! Entah sejak kapan, tapi yang pasti saat pertama gadis kecil itu muncul dan mendengar suaranya seolah menghipnotisnya untuk jangan perpaling dari sosok gadis pemberani itu.
Dia tak pernah merasakan ini sebelumnya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, bahkan disaat keadaan antara mati dan hidup tak pernah jantungnya seperti ini.
Meskipun dia tidak tahu bagaimana itu rasa suka, tapi kalau mendengar cerita dari para bawahannya, suka itu kalau bertemu sang pujaan maka akan terasa gugup, jantung berdetak lebih cepat dan sebagainya dan sekarang dia merasakan itu, jadi dapat dia pastikan dia menyukai gadis yang baru dia temui ini. Cinta pada pandangan pertama?
"OK! Kalau begitu bagaimana pengaturannya? Oh begini saja, kan dia sudah lama tinggal bersama anda jadi bisalah Arlan seminggu ini bersama saya," keluar sudah sifat tawar menawarnya.
"Baiklah! Minggu depan pun kau boleh bersama Arlan, tapi...," Ganendra.
"Tapi?" Nadhira.
"Tapi kau harus tinggal di mansion ini!" Ganendra.
"Hah?! Tidak salah? Saya tidak bisa begitu! Saya memiliki urusan pribadi sendiri. Saya tidak bisa tinggal di rumah orang lain," Nadhira.
"Kenapa?" Ganendra.
"Seperti nya anda tidak perlu tahu!" Jawab Nadhira datar kembali. Dia tidak suka jika urusan pribadianya di urusi, dia akan marah jika ada orang yang bersikeras ingin mengetahui kehidupan pribadinya.
"Baiklah! Aku tidak akan bertanya lagi! Sesuai keinginanmu, kau boleh mengajak Arlan bersamamu selama satu minggu, tapi tidak dengan tinggal di rumahmu. Kalau mau bertemu datang ke mension ini untuk menjemputnya," putus Ganendra.
Dia tidak ingin rugi, kalau dia menyetujui keinginan Nadhira yang mana Arlan tinggal di rumahnya selama satu minggu otomatis dia tidak bisa melakukan pendekatan dengannya jika dia tidak ada di mansion ini.
¤
¤
¤
Semoga Suka...