
Selamat Membaca
•••
"Mau kemana tuan muda?"
Suara seorang perempuan membuat dua pemuda berhenti dari jalan santainya.
"K-kalian? B-bagaiamana bisa kalian tahu kalau kami disini?" Tanya Kai terkejut. Bagaimana bisa, dalam waktu secepat ini mereka sudah ketahuan akan pergi.
"Hm, tahu saja," jawab Nadhira.
Bukan hanya Kai dan Zidan yang kaget, Marcel saja kaget, bagaimana Nadhira mengetahui jika orang yang mereka cari akan melewati tempat ini.
"Jangan membuat kami susah tuan muda. Kami juga tidak akan lama mengawal anda. Tolong bertahanlah sebentar lagi, agar pekerjaan kami selesai dengan cepat,"
Ucapan Nadhira ini memang dari lubuk hati terdalamnya. Dia juga sebenarnya malas untuk mengikuti semua aktivitas orang lain, namun karena sudah pekerjaan nya mau bagaimana lagi.
"Apa maksudmu?" Tanya Kai.
"Hm? Oh, begini saya tidak akan lama bekerja dengan keluarga Ling, entah untuk Marcel, karena saya memiliki pekerjaan yang lebih penting daripada harus mengikuti sikap kekanakan anda. Anda itu sudah dewasa, bahkan lebih tua dari saya bukan? Jadi bersikaplah sesuai umur anda. Apa anda tidak kasihan dengan kakek anda? Beliau sayang dengan anda, melakukan apa saja untuk keselamatan anda. Tolong hargai beliau. Jikalau saya yang jadi tuan Ling, anda yang jadi cucu saya sudah saya singkirkan. Kenapa? Lebih baik mencari orang yang lebih baik, bijaksana memimpin keluarga daripada membiarkan pria belum dewasa seperti anda memimpin. Yang ada keluarga bakalan kacau. Jadi silahkan katakan pada kakek anda jika anda tidak ingin meneruskan kepemimpinan beliau dan jika ingin ubah sikap kekanakan anda, sekian,"
Semua terdiam, entah hipnotis apa yang di sebarkan Nadhira membuat ketiga pemuda di hadapan nya itu menunduk patuh.
"Bisakah kita kembali ke Mansion? Atau ada tempat yang ingin anda datangi?"
Kai mengangkat kepalanya menatap lurus ke mata Nadhira. "Pulang,"
...•••...
Sudah seminggu berlalu ceramah panjang lebar yang di berikan oleh Nadhira kepada Kai dan sekarang Kai sedang merenung lagi.
...PoV Kai On...
Aku sungguh bingung sekarang. Apa yang harus ku lakukan? Aku masih mengingat kejadian tragis yang menimpa kakakku.
Aku berbuat seperti ini juga karena tidak ingin di anggap penting oleh musuh-musuh kakekku.
Tapi setelah mendengar perkataan gadis menyebalkan itu membuatku ragu. Apakah semua yang kulakukan selama ini salah?
Mungkin benar salah, tapi bagaimana yang benar?
...PoV Kai Off...
Setelah berpikir keras malam itu, sekarang sikap Kai berubah sedikit demi sedikit.
Dia tak lagi membuat masalah, kuliah dengan benar, bahkan dalam satu minggu dia telah selesai dengan proposalnya dan akan melanjutkan ke skripsinya agar cepat lulus.
Dan juga hari ini adalah hari dimana waktu kerja Nadhira berkahir, karena dua hari kedepan dia akan kembali sekolah.
"Apakah kau sungguh ingin berhenti?" Tanya Tuan Ling.
"Ya!"
"Haahhh, baiklah! Kau Marcel?"
"Karena saya masih cuti kuliah, jadi saya akan tetap disini jika di ijinkan,"
"Baiklah, kau tetap menjadi bodyguard cucuku,"
"Jadi kapan kau akan pulang?" Tanya Tuan Ling pada Nadhira.
"Besok,"
"Hmm, kakek!" Panggil Kai.
"Ya kenapa?"
"Bagaimana untuk merayakan perpisahan kita mengadakan pesta kecil-kecilan?"
"Ide yang bagus!"
Nadhira ingin menolak pun rasanya tidak ada yang akan setuju terlihat dari mereka yang sudah tak menghiraukan panggilannya dan sibuk dengan pembicaraan tentang pesta perpisahan.
...•••...
"Ahhh! Beginikan jadinya," Nadhira memijat keningnya yang berdenyut.
"Hei kau sudah disini, ayo kesana! Mereka sudah menunggu tokoh utama nya,"
Dia Marcel dengan baju santainya.
Pesta hanya di hadiri oleh pekerja di mansion serta semua bodyguard yang bernaung di kelurga Ling.
"Sini sini!" Panggil Tuan Ling sambil melambaikan tangan meminta Nadhira bergabung bersama mereka.
Pesta berakhir pada tengah malam dan semuanya pun kembali ketempat masing-masing.
...•••...
"Hati-hati di jalan!" Marcel melambai kan tangannya. Sedangkan yang lain masih diam, apalagi seorang Kai yang biasanya sewot, sekarang hanya diam menatap kepergian Nadhira.
Nadhira menaiki mobil mewah berwarna merah pemberian dari Tuan Ling.
Awalnya Nadhira menolak, tapi dengan paksaan Tuan Ling akhirnya mau tak mau Nadhira menerimanya. Menurutny itu berlebihan untuk kerjanyanya yang hanya satu bulan lebih. Gaji juga sidah diberikan! Nadhira bukan orang yang begitu serakah. Dia tahu berapa besar kerja kerasnya dan upah yang diberikan. Akan tetapi ini tidak sesuai! Berlebihan!
...•••...
TIN
TIN
TIN
Sebuah mobil berwarna merah memasuki pekarangan rumah.
"Ira," Puspa langsung berlari kecil saat seorang gadis keluar dari mobil merah.
"Kamu sudah pulang. Bagaimana keadaanmu? Sehat? Ah di luar dingin, kita masuk dulu," Puspa tak berhenti bicara karena terlampau bahagia telah melihat puterinya sudah kembali.
Saat ini Nadhira dalam mode anak normal seusianya. Bercerita ria dengan sang ibu dan juga banyaknya rentetan pertanyaan dari Puspa yang membuat mereka lupa akan waktu.
"Astaga sudah jam 10 malam. Istirahat gih!"
"Baik!"
Nadhira pun beranjak menuju kamarnya dan mengistirahatkan tubuhnya lelah.
...•••...
"Bu, Ira berangkat dulu!"
"Ya hati-hati!"
Hari ini hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang.
Hari pertama memasuki kelas dua belas.
Hari yang pastinya melelahkan? Bagaimana tidak, teman-temannya sudah mengerumuninya dan melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya sudah di jawabnya di group WeChat mereka.
"Ihh Ira kok gak dijawab sih," dengan cemberut Clara merajuk dan membalik badannya ke arah lain. Tapi itu tak bertahan lama karena lagi-lagi dia tak dapat membendung penasarannya mengenai liburan Nadhira yang katanya bekerja.
Yang lain sebenarnya juga penasaran akan tetapi pertanyaan mereka sidah terwakilkan oleh Clara.
Tak lama bell masuk berbunyi dan tak lama pula guru atau lebih tepatny yang akan menjadi wali kelas mereka yang baru.
"Pagi anak-anak!" Sapa seorang guru perempuan muda.
"Pagi bu!" Sahut semua nya.
"Kalian tahu kan kalau ibu yang akan menjadi wali kelas kalian?"
"Tau bu! Ibu Dea,"
Informasi keas beserta nama wali kelas memang sudah tertempel di mading sekolah, jadi tak perlu menunggu pembagian kelas lagi.
Dan hampir semua teman Nadhira memasuki kelas yang sama sepertinya, dua belas IPS 1.
"Yah meski semua murid di kelas ini bukan teman baru tapi teman lama, tapi ibu memiliki kabar gembira,"
"Apa bu?"
"Kalian memiliki teman baru! Silahkan masuk,"
'Tampan' jerit tertahan semua murid perempuan di kelas itu kecuali Nadhira yang sibuk dengan dunia nya sendiri meski sudaj di senggol-senggol oleh Clara di sampingnya tetap tak digubrisnya.
"Silahkan perkenalkan namamu!"
Yang awalnya menunduk sekarang kepala pemuda itu mendongak, menatap kesemuanya murid di kelas dengan tatapan malasnya.
"Gilang Bagaskara, pindahan dari SMA Budi Tama di kota A,"
Perkenalan singkat yang awalnya hening menjadi ribut karena jeritan-jeritan kagum oleh murid perempuan.
Bagaimana tidak dengan wajah malas yang terlihat cool. Suara berat yang sexy. Sungguh ciptaan yang sempurna bagi kaum hawa.
"Baiklah! Kamu tahu kan nama ibu?" Diangguki oleh Gilang.
"Kalau begitu silahkan duduk di samping Tel, Teh berdiri,"
Gilang pun mendatangi meja dan kursi yang akan menjadi tempatnya belajar.
¤
¤
¤
Semoga Suka...
Maaf kalau gaje