Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Terkejut


Selamat Membaca...


•••••


Pagi itu Nadhira tidak lari pagi, dia memilih bermalas-malasan, kebetulan hari itu hari Sabtu, masa para pelajar untuk bersantai.


"Ira," panggil Puspa dari luar pintu kamar Nadhira.


Nadhira yang mendengar namanya di sebut langsung bangun. "Hmm, ya ibu ada apa?" Bangun tapi tidak duduk, karema di masih menyesuaikan diri dari antara mimpi dan kenyataan.


"Kau belum bangun? Ini sudah siang loh. Masa anak gadis bangunnya siang sih!" Puspa.


"Hmm, iya iya, ini aku bangun kok, cuman lagi rebahan aja," ucap Nadhira seraya turun dari kasurnya dan menuju pintu.


Cklek...


Pintu terbuka menampilkan sosok gadis remaja yang cantik hanya dengan rambut yang acak-acakan.


"Ekhem,"


Deheman seseorang dari belakang Puspa.


"Siapa tuh?" Mata Nadhira yang mulanya masih sempit sekarang terbuka lebar.


"Ini aku, kakakmu! Kau ini jam segini masih tidur aja, kaya kebo," ucap Andara bercanda.


"Iihhh, kakak. Ibu lihat kakak ngejek Ira," manja Ira kepada ibunya.


Seketika Andara tertegun dan mengingat kembali kejadian di restoran itu.


Dimana adik perempuannya yang tangkas waktu itu?


Sudahlah yang penting dia tetap adik perempuan satu-satunya.


Andara kemudian mengacak rambut Nadhira.


Dan terjadi lah acak-acakan rambut diantara keduanya.


"Sudah...sudah! Kalian ini sudah besar kok masih aja kaya anak kecil," ucap Puspa yang terkekeh.


"Iih ibu, Ira kan memang masih kecil," ucap Nadhira membuat wajah seimut mungkin dan bergelayut manja di lengan Puspa.


Ibu dan kakaknya tak dapat berkata-kata melihat tingkah Nadhira yang selalu berubah-ubah, tapi meski begitu mereka senang dengan perubahan Nadhira yang tidak menjaga jarak lagi dengan mereka seperti dulu.


Mereka turun ke bawah untuk sarapan bersama, bukan mereka hanya Nadhira yang belum makan, karena dia bangun siang.


"Kapan datangnya?" Tanya Nadhira kepada Andara.


"Pagi tadi," jawab Andara.


"Oh,"


¤¤¤¤¤


Akhir pekan yang membosankan menurut Nadhira. Ibunya bekerja dia hanya berdua dengan kakaknya di rumah dan lagi Andara tidak sedang bersantai akan tetapi dia tetap belajar meski itu di rumah sekalipun.


"Ekhem," Nadhira berdehem mencoba mengalihkan perhatian Andara dari buku pelajaran.


Tahu akan maksud adiknya Andara merespon. "Hmm? Apa?"


"Mau ikut aku keluar?" Tanya Nadhira dengan mata penuh harap.


"Fyuhhh, memang nya mau kemana? Oh ya aku butuh penjelasan mengenai kejadian terakhir kali di restoran,"


Tiba-tiba Nadhira menegang. Bagaimana dia harus menjelaskannya?


Apa dia harus jujur bahwa dirinya bukan adik nya yang sebenarnya?


Tidak mungkin? Tidak boleh? Tidak akan pernah?


Dia takut kalau keluarganya yang dengan sangat mustahil ini di dapatnya hilang begitu saja.


"Emmm, baiklah!" Sahut Nadhira berusaha setenang mungkin.


Setelah dia cukup tenang dia pun menceritakan kebohongan yang sedikitnya ada juga faktanya.


"Oh ya, saat aku koma aku bermimpi di datangi oleh seorang perempuan yang berkisar 20 tahunan ke atas, mungkin 23 tahunan. Dia sangat cantik dan dia berkata 'Ku serhakan semua kemampuanku kepadamu, gunakanlah dengan baik' Nah begitu lah yang dia katakan, setelah itu aku langsung terbangun dari komaku,"


Nadhira bercerita panjang lebar dan serius agar Andara percaya dengan keseluruhan ceritanya.


Andara tidak langsung menyanggah, bertanya dan sebagainya, dia nampak berpikir keras.


Mungkin ada yang aneh dari cerita adiknya, tapi kemungkinam semua yang di ceritakan adiknya masuk akal. Akan tetapi tak dapat di jelaskan secara logis.


"Baik untuk sekarang aku akan percaya padamu, tapi tolong certiakan semua masalah mu pada kakakmu ini. Aku sebagai kakak merasa gagal karena tidak megenal dengan baik adikku sendiri," ucap Andara sendu.


Hati Nadhira tersentuh dengan perhatian Andara kepadanya.


Nadhira mengangguk pasti. "Pasti, aku akan selalu menceritakan masalah ku kepada kakak,"


"Jadi mau ikut keluar?" Tanya Nadhira.


"Baiklah!"


"Oh ya nanti jangan tanya dulu ya kalau kakak ingin tanya, nanti akan ku jelaskan,"


"Hmm,"


Mereka pun bersiap-siap untuk keluar rumah, tapi sebelum itu Andara telah mengirim pesan kepada ibunya akan keluar.


Setelah beberapa saat mereka pun keluar rumah setelah sebelumnya mengunci pintu dan pergi ke luar dari gang rumah mereka kemudian menuju halte bus.


Tak berapa lama menunggu bus pun datang mereka menaikinya. Andara tidak tahu kemana adiknya akan membawanya, akan tetapi dia teringat dengan perkataan Nadhira terakhit kali agar tidak bertanya dulu sebelum dirinya sendiri yang menjelaskanya.


Dia memilih diam dan tetap fokus pada jalan dari balik jendela bus.


Setengah jam perjalanan akhirnya bus berhenti di halte bus yang tak pernah Andara datangi, dia bingung akan tetapi tetap diam. Dia masih menunggu Nadhira untuk menjelaskan.


"Ayo!" Ajak Nadhira sambil menarik tangan kanan Andara.


Andara yang terseret ikut saja membiarkan dirinya ditarik kesana kemari oleh adiknya.


Mereka berhenti di depan sebuah bangunan berlatai dua. Ukurannya kira-kira 200 meter persegi.


"Ayo masuk kita lihat di dalamnya," ajak Nadhira lagi dan Andara ikut saja.


Pemandangan pertama yang terlihat adalah ruangan yang kosong, akan tetapi sepertinya bangunan ini akan di jadikan sebuah cafe.


Melihat dari wajah Andara yang seperti banyak pertanyaan yang di tahannya, Nadhira pun mulai menjelaskan tujuannya mengajak Andara ke sana.


"Bangunan ini akan ku beli untuk di jadikan sebuah cafe dan bisa di lihat dekorasi dan tata ruangnya telah di perbaiki sang pemilik sebelumnya. Dan hari ini aku akan tanda tangan kontrak dengan pemilik sebelumnya," jelas Nadhira panjang lebar tanpa mengurangi satu fakta pun.


Andara yang mendengar itu sangat terkejut. Darimana Nadhira mendapatkan uang untuk membeli bangunan itu? Yang terlihat dari lokasinya sangat strategis, pasti sangat mahal.


Mengerti dengan keterdiaman Andara,N Nadhira kembali berucap. "Untuk membeli bangunan ini aku mendapatkan uang dari seseorang yang datang ke mimpiku yang pagi tadi ku ceritakan. Dia memintaku untuk menggunakan uangnya, tapi aku harus meretas akun rekeningnya untuk menarik uangnya. Itu berhasil dan aku sekarang memegang uangnya. Tidak banyak hanya satu milyar lebih di tabungannya,"


Lagi-lagi Andara dibuat syok oleh Nadhira. Dia tidak berpikir sejauh itu.


Meretas?


Apakah sekarang adik perempuannya yang sebelumnya sangat tertutup menjadi sehebat ini setelah bangun dari koma?


Sungguh tak masuk di akal. Akan tetapi dia berusaha percaya dengan semua yang di katakan adiknya. Toh apa lagi yang dapat di tebak dengan semua kejadian di luar ekspektasinya.


Beberapa menit kemudian seorang pria paruh baya memasuki gedung membawa amplop cokelat di tangannya.


"Anda nona Nadhira Maharani?" Tanya pria paruh baya itu.


"Ya itu saya," sahut Nadhira tenang membuat pria paruh baya sedikit terkejut. Dia pikir nona yang akan membeli gedungnya akan lebih berumur dari ini, mungkin 20 tahunan keatas akan tetapi ini? Dia tebak hanya belasan tahun saja.


¤


¤


¤


Semoga Suka...