Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Pengakuan Ganendra


Selamat Membaca...


•••


Saat ini Bagas dan Clara sedang mencari tempat penyewaan perahu untuk pergi ke bagian wisata bawah air 'Terumbu Karang'.


"Tidak juga!" Jawab Nadhira.


"Ira/bos," panggil Bagas dan Clara.


"Kami sudah menyewa perahu nya!" Ucap Bagas. "Eh siapa nih?" Tanya Bagas setelah menyadari keberadaan Calvin.


"Calvin, temannya Nadhira!" Ucap Calvin memperkenal kan dirinya.


"Bagas,"


"Clara,"


"Hah hah hah, maaf aku terlambat ya?" Alena, dia datang dengan ngos-ngosan. Sepertinya dia berlari dari area parkiran di depan pantai yang lumayan jauh.


"Tidak juga kok! Perkenalkan ini Clara (menunjuk Clara) dan ini Bagas (menunjuk Bagas)," ucap Nadhira memperkenalkan mereka.


"H-hai! Salam kenal, namaku Bagas," mungkin ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama, batin Bagas.


"Karena semuanya sudah kumpul dan perahu sudah dapat, mari kita berangkat!" Ucap Nadhira yang diangguki mereka semua.


Mereka semua pun mengikuti arahan Bagas, dimana dia mengarahkan dimana letak perahu yang sudah mereka sewa.


"Itu disana!" Ucap Bagas sambil menunjuk tepi pantai yang disana ada sebuah perahu kecil yang hanya muat paling banyak 10 orang.


"Pak, teman-teman saya sudah sampai, bisa berangkat sekarang?" Ucap Bagas pada pemilik perahu.


"Bisa-bisa! Silahkan naik!" Ucap Pak pemilik.


Mereka naik, dengan dibantu oleh 2 asisten pemilik perahu.


Setelah semuanya sudah naik, perahu pun berlayar menuju tempat tujuan. Dua puluh menit berlalu, mereka pun sampai di tempat tujuan.


"Nak, ini peralatan menyelamnya, silahkan digunakan!" Ucap pak pemilik.


"Terimakasih pak!" Ucap Nadhira dan kawan-kawan.


"Ku bantu?" Ucap Nadhira kepada Alena yang terlihat kesusahan memakai perlengkapannya.


"Boleh! Ini sudah sekali!" Ucap Alena.


Nadhira pun membantu Alena, sedangkan yang lain sepertinya lebih terbiasa menggunakannya.


Saat mereka sedang sibuk-sibuknya memakai perlengkapan mereka tiba-tiba perahu bergoyang cukup kuat akibat gelombang air laut.


"Oaaaaaa!"


"Hap!"


Hampir saja Clara kecebur ke air dengan perlengkapan yang masih belum lengkap. Untungnya ada yang menangkapnya, Calvin, ya dialah orangnya yang menangkap Clara dengan posisi yang ambigu di penglihatan semua orang.


Calvin, karena refleks mungkin, dia memeluk erat pinggang Clara dari belakang. Dan saat itu juga perahu jadi tenang, seperti kejadian sebelumnya tak pernah terjadi membuat keduanya menjadi malu dan canggung.


"Ekhem, kau tidak apa?" Tanya Calvin berusaha menghilangkan malunya.


"M-makasih, aku tidak apa!" Ucap Clara dan di jawab hanya dengan deheman yang sebenarnya menghilangkan kecanggungan, tapi Calvin berusaha terlihat cool.


"Hm, sama-sama dan hati-hati!" Ucap Calvin, kemudian dia tak menghiraukan kalau mereka sedang jadi pusat perhatian dan melanjutkan memakai perlengkapannya, begitu juga dengan Clara yang tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Mereka pun selesai memakai perlengkapan menyelam.


"1..2..3..Go!" Mereka semua pun menceburkan diri ke dalam air.


Beberapa jam telah lewat, mereka lupa waktu saking asiknya menyelam dan sesekali berfoto.


Dan saat ini mereka sudah dalam perjalanan kembali ke tepi pantai.


...•••...


Berbulan-bulan telah berlalu dan libur panjang telah di depan mata dan acara pernikahan Alisya dan Andara sudah dekat. Cukup lama mereka mempersiapkan segalanya. Selain karena menunggu kelulusan Andara juga menunggu libur.


Andara lulus dalam waktu yang singkat, hanya 3,5 tahun saja. Jadi mereka telah sepakat setelah kelulusan acara pernikahan akan diadakan.


Saat acara pernikahan Andara dan Alisya yang di adakan disebuah hotel berbintang, banyak tamu undangan yang datang dan yang jadi perhatian semua orang adalah beberapa diantara mereka adalah orang yang sangat berpengaruh di dunia perbisnisan, mafia, dan lainnya.


Dan sampai saat ini Nadhira masih tak peka dengan semua kode perbuatan dan lain sebagainya yang sudah di lakukan oleh Ganendra.


Dan saat Ganendra sudah tidak tahan dengan ketidakpekaan Nadhira. Dan dia tahu kalau Nadhira gadis yang kurang peka kalau masalah perasaan, tapi menurutnya ini sudah melewatan dan dia tidak bisa sabar lagi.


Ganendra menarik lengan Nadhira yang pada saat itu, Nadhira sedang minum.


"Hei?! Kau mau membawaku kemana?" Tanya Nadhira sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Ganendra dari tangannya, tapi tak bisa. Dia bingung! Biasanya akan sangat mudah melepaskannya, tapi sekarang?


"Ternyata selama ini aku terlalu meremehkannya!" Batin Nadhira.


Merasa tak ada perlawanan lagi dari Nadhira, Ganendra pun berhenti dan berbalik.


"Kenapa diam? Biasanya berontak terus?" Tanya Ganendra tersenyum kecil. Dia sadar kalau Nadhira baru menyadari perbedaan besar kekuatan fisik mereka. Dia akui kalau selama ini dia hanya mengalah pada Nadhira. Dia tidak menunjukkan kekuatan aslinya karena Nadhira hanyalah seorang gadis, itu pikirnya sebelumnya. Tapi sekarang mungkin dia tidak akan melemah lagi, karena Nadhira bukanlah gadis lemah seperti gadis pada umumnya, jadi dia memutuskan untuk menambah kekuatannya untuk menghadapi gadis kuat di depannya ini, tapi tidak menunjukkan kekuatan maksimalnya juga.


"Kau! Sudahlah! Mau apa kau mengajakku menjauhi dari keramaian?" Tanya Nadhira. langsung bertindak dengan Ganendra menunjukkan kekuatan aslinya dengan tidak mengalah lagi. Karena setiap ada sentuhan fisik Ganendra selalu melemah karena tak ingin Nadhira merasa risih padanya dan takut.


Ganendra menatap Nadhira lama membuat Nadhira was-was dan tak nyaman. Dia bergerak gelisah ingin melepas cekalan di tangannya, tapi genggaman tangan Ganendra sungguh kuat meski tak kencang.


"Kau tidak tahu atau hanya pura-pura tidak tahu?" Tanya Ganendra.


"Maksudnya apa?" Tanya Nadhira. Dari raut wajahnya dia benar-benar tak tahu maksud Ganendra.


"Hahh," Ganendra menghele nafas lelah dengan ketidakpekaan Nadhira.


"Aku menyukaimu! Apakah kau tidak paham dengan semua tindakanku terhadapmu?" Ganendra begitu frustasi dia mengacak rambutnya yang rapi dan terhenti saat mendengar perkataan Nadhira.


"Jangan terlalu berharap padaku! Tapi kau. berusahalah lagi menarik perhatianku!" Ucap Nadhira kemudian pergi dari sana. Mungkin malu dengan perkataannya sendiri.


Ganendra terdiam mencerna semua perkataan Nadhira. 5 menit, 10 menit, 15 menit, dan terbitlah senyum lebar yang sangat langka dari Ganendra.


"Syukurlah!" Ingin jingkrak-jingkrak, tapi malu dengan umur dan jabatannya, dia harus menjaga image nya.


Kembali kepada Nadhira yang pipinya sedikit merah? "Ira kamu kenapa? Sakit? Wajahmu merah!" Tanya Puspa khawatir dan membuat orang-orang disekitarnya menatap Nadhira.


Nadhira menutup wajahnya dan sedikit menunduk. "Tidak bu! Aku hanya kepanasan!" Ucap Nadhira sambil mengalihkan matanya ke Semarang tempat dan tak sengaja matanya bertemu dengan mata Ganendra yang baru masuk ruangan, dia tersenyum kecil dan itu semakin membuat Nadhira mengingat perkataannya beberapa waktu yang lalu dan membuat pipinya semakin memanas.


"Kau istirahat saja! Wajahmu semakin memerah Ra!" Khawatir Puspa.


"Ah malunya," batin Nadhira. "Baik bu! Aku istirahat dulu!" Ucap Nadhira yang kemudian pergi ke tempat tenang.


¤


¤


¤


Semoga Suka...