
Selamat Membaca...
•••••
Orang-orang yang melihat bukannya membantu, tetapi malah menjauh dan lari.
"Serahkan semua uang yang kau punya pada kami, atau kami akan memberimu pelajaran yang tak terlupakan," bos para penjahat itu, yang memiliki rambut berwarna merah mengancam Nadhira.
"Oh apakah aku harus menyerah kan uangku kepada kalian? Memangnya harus?" Nadhira menyipit kan matanya seolah dia tidak peduli dan para penonton terkejut dengan reaksi Nadhira yang begitu tenang.
Bukankah seharusnya dia takut?
Apakah dia hanya berpura-pura tidak takut?
Atau apakah dia berpikir akan ada yang membantu nya?
Penjahat-penjahat itu sangat terkenal di wilayah pasar barang antik itu, dan tidak ada yang akan berani terlibat masalah dengan mereka.
"Jangan pernah berharap seseorang akan menolong mu, gadis kecil, cepat berikan kami uang mu!!" Pria berambut merah itu mengancam sekali Nadhira sekali lagi.
Nadhira tahu bahwa tidak akan ada yang membantunya, karena semua orang telah melarikan diri. Namun dia yakin dia bisa dengan mudah untuk mengalahkan para penjahat-penjahat itu. "Ambil sendiri jika kalian mau dan tentunya kalau bisa," Nadhira menantang mereka.
"Kau.." para penjahat itu menjadi sangat kesal.
"Bagus, berani sekali kau... hajar saja dia!!" Lelaki berambut merah memerintahkan.
Kemudian dua penjahat berlari kearah Nadhira berusaha untuk menangkap nya. Akan tetapi sebelum mereka semua bisa mendekatinya, Nadhira menendang perut satu persatu dari mereka berdua, dan dua pria itu jatuh ke tanah dengan sangat keras.
Arghhh....
Jerit mereka berdua.
Aaaaaaa
Jeritan tak luput juga dari para penonton.
Dua penjahat yang tersisa terkejut sekarang, semua kejadian itu di luar imajinasi mereka bahwa seorang gadis remaja bisa menghajar dua pria dengan sangat kejam bahkan melebihi kekejaman mereka.
Tiba-tiba seorang anak laki-laki bergegas keluar menyerang pria dengan rambut merah dengan memukul punggungnya, dan pria rambut merah itu langsung terjatuh.
Pria berambut cokelat satu-satunya yang tertinggal sendirian langsung melarikan diri, sayangnya dia berlari sembarangan tak melihat arah dan kemudian dia menabrak tiang, mungkin tak merasa sakit karena terlalu takut dia langsung bangkit kembali dari kemudian melarikan diri dengan cepat meninggalkan ketiga temannya yang telah terkapar.
Nadhira tertawa terbahak-bahak oleh adegan lucu itu. Dan rasanya terhenti saat anak laki-laki yang menolongnya barusan mengenalinya.
"Ira, apakah ini benar-benar kau? Aku pikir aku salah mengenali orang, tapi ternyata benar ini kau. Wooowwww kamu sangat hebat dapat mengalahkan dua pria itu dengan mudah," Nadhira mencoba mengingat anak laki-laki di depannya ini, dan dia adalah Rangga, anak laki-laki yang di temui nya ketika berada di Kota B di warung internet.
"Oh kau Rangga kan, aku baru ingat," ucap Nadhira. "Terima kasih banyak untuk bantuannya, Rangga," lanjut Nadhira sambil tersenyum kepada Rangga dan mengucapkan terima kasih dengan tulus. Meskipun sebenarnya dia sanggup menghadapi semua preman itu sendiri, tapi Rangga memang membantu nya, jadi dia harus berterima kasih pada nya.
"Sama-sama...Aku berpikir meskipun aku tidak membantu mu, mereka tidak akan bisa menyakiti mu sama sekali," Rangga tiba-tiba malu sendiri dengan perkataannya.
"Pokoknya terima kasih banyak karena telah membantu ku," ucap Nadhira.
Tiba-tiba Rangga teringat sesuatu yang penting. Dia memandang Nadhira dengan heran. "Oh mengapa kau berada di pasar barang antik ini?" Tanya Rangga.
"Aku hanya jalan-jalan. Oh ya aku harus pergi sekarang, sampai jumpa!" Jawab Nadhira.
"Ohhh....Tentu selamat tinggal!" Jawab Rangga tidak menahan Nadhira lebih lama lagi.
Hanya memerlukan dua puluh menit untuk sampai di rumah sewaan Nadhira kalau menggunakan taxi.
Ketika Nadhira telah tiba di rumahnya, sudah hampir pukul enam sore lebih, dia di sambut oleh ibunya yang nampak sangat cemas.
Mereka hanya makan berdua dengan makanan yang sangat sederhana yaitu tempe dan tahu, serta nasi.
Tapi meskipun hanya sekedar makanan sederhana itu, hati Nadhira merasa hangat karena makan bersama orang terkasih.
"Ibu, aku janji kita akan hidup lebih baik lagi dari sekarang,"
Puspa merasa terharu dengan perkataan puteri nya itu. "Ya ya, ibu yakin kau bisa melakukannya dengan baik,"
Nadhira tidak memberi tahu ibunya, bahwa dia telah menghasilkan banyak uang, dia menunggu sampai uangnya cukup untuk membeli rumah, dan mencukupi kebutuhan mereka baru dia berniat mengatakannya.
Berbaring di tempat tidur sebelum tertidur, Nadhira mengeluarkan buku pelajaran untuk di baca, meskipun Nadhira adalah murid yang rajin belajar dalam kehidupannya, tetapi dia tidak cukup baik dalam memahami dan mengingat pelajaran, tetapi sekarang berbeda, karena jiwa di dalam tubuhnya adalah jenius, jadi meskipun dia jenius tetap saja dia belajar meski dia bosan akan hal itu.
Dia membuka buku pelajarannya, membacanya dengan cepat dan karena mata ajaibnya dia dapat menyerap dengan cepat isi dari buku pelajaran itu tanpa harus membacanya dengan teliti.
Selain dapat membedakan barang antik, mata ajaib Nadhira juga dapat menyerap pelajaran dengan cepat, sungguh menguntungkan bagi Nadhira.
¤¤¤¤¤
Hari Senin, hari pertama dalam seminggu untuk memulai kelas. Hari dimana para siswa di tuntut untuk mengikuti upacara bendera pada pagi harinya.
Nadhira seperti hari-hari sebelumnya berangkat pagi tidak naik bus, akan tetapi dengan berlari. Dia berpikir berlari akan mampu memperkuat fisiknya sekarang, karena tidak ada sepersepuluh kekuatan fisiknya dari yang dulu, jadi dia akan berusaha memperkuat fisiknya.
Setelah satu jam lebih upacara bendera terlaksana, para siswa kembali ke kelas masing-masing untuk menjalan kan kewajiban mereka yaitu belajar.
Dua jam mata pelajaran berakhir dan waktu istirahat datang.
"Ira ayo ke kantin," ajak Clara pada Nadhira.
Nadhira mengangguk mengiyakan dan langsung saja Clara menggandeng tangan Nadhira.
Sebelum mereka berdua menghilang dari balik pintu Bagas berteriak. "Hei, Clara, bos tunggu aku," dia bergegas berlari menghampiri kedua gadis yang meninggalkannya itu.
Sedangkan kedua gadis itu tetap berjalan tapi pelan.
Mereka bertiga sampai di kantin untuk para siswa kalangan atas, Nadhira tidak terganggu dengan semua tatapan benci dan jijik dari setiap siswa yang tidak menyukai siswa miskin. Dia berlalu menuju stand penjual makanan di sana bersama kedua temannya.
Setelah memesan makanan mereka mencari tempat duduk yang kosong dan mereka menemukannya dan kemudian duduk di sana. Seperti hari sebelumnya sekarang Rima juga ikut duduk dan makan di satu meja bersama mereka, sedikit terbiasa Clara dan Bagas tidak lagi kaku saat ada Rima di sana.
Kali ini mereka tidak menerima masalah dari Yunita dan temannya, akan tetapi bertemu dengan seorang anak laki-laki yaitu Rangga.
Rangga?
Apakah dia bersekolah di SMA ini juga?
¤
¤
¤
Semoga Suka...