
Selamat Membaca...
•••••
Mereka sampai di taman belakang sekolah. Nadhira dan Rangga langsung berhadapan dan tanpa sadar ternyata Rangga telah roboh hanya dalam satu gerakan oleh Nadhira.
Rangga tertegun, bukan karena rasa sakit akan tetapi karena rasa kaget yang dia terima.
Meskipun Nadhira bersungguh-sungguh dengan kekuatan penuh dalam memukul Rangga, akan tetapi kondisi tubuh nya tidak dalam kondisi yang baik sekarang, kekuatannya sangat terbatas, jadi Rangga tidak akan mengalami cedera yang serius.
Rangga memang merasa sakit, tapi sakitnya masih dapat di toleransi. Seorang harus belajar dari rasa sakit yang mereka terima saat sedang berlatih. Itu akan membuat kita terbiasa dengan rasa sakit yang lebih pada saat pertarungan sesungguhnya.
Bagas, Clara, dan Rima yang berdiri di samping mereka merasa kagum dengan mulut yang terbuka, mereka sekarang mengagumi Nadhira lebih dari sebelumnya.
Luar biasa, ini sangat menakjubkan. "Cepat berdiri dengan tegak sekarang," Nadhira berkata dengan tegas, memperingati Rangga yang masih terbaring di tanah.
Nadhira bukan bermaksud sok, akan tetapi dia bermaksud untuk membuat Rangga memahami keterampilan dengan cepat, jadi dia selalu menyerang Rangga dengan kekuatan penuh yang dia miliki saat ini.
Tentu saja Nadhira tidak akan menyakiti Rangga secara fisik, dia menyesuaikan kemampuan Rangga dengan kemampuannya.
Setelah beberapa saat, Rangga merasa tak sanggup lagi, tapi dia tetap berusaha bertahan. Meskipun Rangga merasa sangat kesakitan, Rangga tidak mau berhenti atau pun menyerah, dia menghadapi tantangan nya dengan keberanian.
Ketiga teman mereka benar-benar asyik menonton latihan Nadhira bersama Rangga, setiap kali Rangga berteriak kesakitan, mereka akan berteriak dan gemetaran pada saat yang sama, seolah-olah mereka lah yang berada di posisi Rangga saat ini.
Meskipun hanya ada beberapa orang di taman belakang ini, teriakan Rangga menarik perhatian beberapa siswa.
Melihat seorang anak laki-laki di pukuli oleh seorang gadis, mereka merasa sangat heran dan bahkan beberapa anak laki-laki berbicara.
"Apa-apaan gadis itu! Dia luar biasa, bocah laki-laki itu tidak bisa melawannya sama sekali, bahkan hanya menyentuh seragamnya tidak bisa. Bagaimana kalau saya merekamnya dan menyebarkannya di forum group sekolah? Hahahaha," Anak laki-laki itu mengeluarkan ponsel di sakunya.
Akan tetapi sebelum dia mulai merekam, Nadhira dan Rangga sudah berhenti.
"Kenapa berhenti? Lanjutkan! Aku akan merekamnya," anak laki-laki itu mengangkat suaranya dengan tidak suka dan cemas kalau kegiatan yang dilakukan Nadhira dan Rangga berhenti.
Nadhira menatap anak laki-laki itu dengan dingin, dan dia langsung berjalan ke arahnya.
"Nah, mengapa tidak kau saja yang mencoba bertarung dengan ku?"
Jika anak laki-laki itu merekam mereka dan menaruhnya di forum grup sekolah mereka, semua orang akan tahu tentang itu, Nadhira tidak ingin mendapatkan masalah.
Anak laki-laki itu seketika ketakutan dan segera menolak. "Tidak...tidak, saya pikir itu tidak perlu,"
Lalu dia melangkah mundur menjauh dari Nadhira. Setelah Nadhira dan Rangga berhenti berlatih, para penonton secara perlahan membubarkan diri mereka.
"Hei bos, kau lebih kuat dari pada yang aku kira, aku benar kan?" Rangga merasa sedikit tubuhnya sangat sakit sekarang, sampai-sampai dia kesulitan hanya sekadar berjalan ke arah Nadhira, dia tampak sangat bersemangat, seperti dia telah mendapat hadian yang sangat dia inginkan.
Lain hal nya dengan Nadhira yang merasa tak puas dengan dirinya sendiri. Dia sadar bahwa saat ini dia masihlah sangat lemah di bandingkan dirinya yang dulu.
"Bagaimana dengan keadaan mu sekarang?" Rima bertanya kepada Rangga sedikit khawatir. Dia tahu Rangga sangat menderita dari pukulan-pukulan dalam latihan.
"Ini benar-benar sakit, tapi itu sangat wajar. Kau akan belajar dari rasa sakit yang kau derita saat latihan," jawab Rangga yang terlihat sangat menikmatinya.
"Seseorang tidak akan mudah belajar bela diri di awal, jadi jika kalian benar-benar ingin menjadi hebat, kalian harus siap menerima sakit dan cedera hasil dari latihan. Jadi jika kalian ingin hebat maka biasakanlah hal itu,"
Nadhira tidak menuntut kepada teman-teman perempuannya agar berlatih terlalu keras, akan tetapi dia berharap mereka mampu menjaga diri mereka sendiri dengan latihan yang dia berikan kedepannya. Dia akan memberi latihan kepada mereka sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.
Jam kelas terakhir mereka memilih masuk kelas dan memulai pelajaran mereka, sampai saatnya bel pulang berbunyi mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
Siswa dan siswi yang berasal dari keluarga kaya akan di jemput dengan mobil, sedangkan sisa nya akan naik taxi atau pun bus.
Akan tetapi berbeda dengan Nadhira, dia tidak akan naik taxi maupun bus, dia akan berlari untuk sampai ke rumahnya.
Meskipun gang menuju tempat tinggal Nadhira tidak aman, tetapi itu tidak membuat Nadhira takut sama sekali.
Ini bukan pertama kalinya dia pulang sendirian di malam hari, dia belum pernah berada dalam bahaya sebelumnya. Namun, malam ini terasa agak berbeda. Sebuah mobil Van hitam berhenti tiba-tiba di depan Nadhira dan tiba-tiba tiga pria berbadan kekar turun dari mobil, dan langsung menghalangi jalan Nadhira.
Setiap pria memiliki tato di lengannya, mereka memang tampak seperti penjahat. "Kau Nadhira kan?" Kemungkinan yang berbicara itu adalah bos dari dua pria lainnya.
"Kalau iya kenapa?" Tidak ada rasa takut sama sekali di mata Nadhira saat ini, hanya ada ketidak senangan karena waktunya di ambil secara paksa oleh ketiga pria di depannya ini.
Seketika ketiga pria tersebut merasa terkejut dan takut, akan tetapi mereka tepis. Mungkin Nadhira berusaha tenang, pikir mereka.
Tak ada jawaban, Nadhira kembali membuka suara.
"Siapa yang mengirim kalian?" Nadhira tidak merasa takut akan tetapi bertanya dengan tenang kembali.
Meskipun dia tidak tahu siapa yang berada di belakang mereka, dia tahu bahwa mereka pasti di kirim oleh Yunita, karena dia merasa tidak memiliki masalah dengan orang lain selain dia.
"Apakah kau tidak tahu dengan siapa kau memiliki masalah sebelumnya?" Pria berambut hijau berkata mengejek.
"Tidak juga! Tapi yang ku tahu pasti dia bernama Yunita bukan?" Jawab Nadhira.
Sekarang ketiga penjahat memperhatikan kalau Nadhira tetap tenang tanpa rasa takut sedikitpun menjadi panik dan takut.
Seketika mereka merasa agak malu dan sekaligus penasaran.
"Astaga, gadis kecil yang pemberani! Sekarang aku tahu mengapa kau berani memiliki masalah dengan putri dari keluarga besar Wiguna," kali ini penjahat itu secara langsung mengungkapkan siapa yang berada di belakang mereka. Itu adalah Yunita Wiguna. Nadhira tidak terkejut sama sekali, memang dia sudah menebaknya.
"Jadi apa yang dia perintahkan kepada kalian untuk lakukan kepadaku?" Tanya Isabel dengan ringan.
"Dia ingin kami memperkosa mu lalu memposting Video itu di internet," penjahat itu memberi tahu Nadhira segalanya, mereka tidak peduli jika Nadhira tahu atau tidak karena mereka akan tetap melakukannya.
Bahkan mereka harus mengakui bahwa gadis yang ada di hadapan mereka luar biasa cantik. Mereka telah bermain-main dengan banyak siswa perempuan sebelumnya, tetapi tidak ada yang secantik Nadhira.
¤
¤
¤
Semoga Suka...