Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Tawaran


Selamat Membaca...


•••••


Di depan gerbang gedung kelas sepuluh semua siswa menyebar untuk pulang ke rumah masing-masing.


Nadhira juga salah satu dari mereka. Dia berjalan di trotoar sambil bersiul.


Tanpa di duga dia menabrak seorang pria setengah baya, seumuran dengan ibunya.


"Maaf pak, saya tidak sengaja," ucap Nadhira seraya membantu pria setengah baya itu menyusun berkas-berkasnya yang bertebaran di jalan.


"Tidak... Tidak apa! Saya yang salah, saya melamun tadi," ucap pria setengah baya itu.


Tak sengaja Nadhira melihat isi berkas itu. Isinya yaitu pengajuan pinjaman ke bank, tapi entah mengapa Nadhira merasa harus bertanya.


"Maaf pak lebih baik bapak duduk dulu tenangkan pikiran, tidak baik dan bahaya kalau melamun saat berjalan," ucap Nadhira sopan.


Nadhira pun menuntunnya ke kursi taman terdekat.


Nadhira menyodorkan satu botol minuman dan di terima oleh pria setengah baya itu.


"Terimakasih!" Ucapnya dan di balas senyuman dari Nadhira.


Nadhira pun menyampaikan niatnya. "Maaf pak, tadi saya tak sengaja melihat isi berkas bapak yang isinya pengajuan pinjaman di bank, itu untuk apa pak?" Pertanyaan Nadhira membuat pria setengah baya menatap Nadhira bangun akan tetapi dia tetap menjawab.


"Benar! Itu proposal pengajuan pinjaman ke bank, akan tetapi proposal itu di tolak," ucap pria setengah baya itu dengan sendu.


"Hmm, kalau begitu boleh saya lihat?" Pria setengah baya masih ragu akan tetapi tetap dia berikan. Dia merasa gadis di depannya ini hanya menghiburnya saja.


Nadhira membaca dengan teliti isi proposal itu dan dia melihat bahwa pria ini mengajukan pinjaman karena kondisi perusahaan yang berjalan di bidang properti mengalami krisis dan hampir bangkrut oleh karena itu dia mengajukan pinjaman sebesar dua milayar rupiah akan tetapi ditolak bank karena perusahaannya di ambang batas dan pihak bank hanya mampu meminjamkan satu milyar.


Setelah membaca dan memahami isi proposal Nadhira berkata. "Kalau saya bisa bantu bagaimana pak? Bukan maksud membantu dengan meminjamkan uang akan tetapi membeli perusahaan bapak dengan harga yang sesuai," ucap Nadhira tiba-tiba.


Mata pria setengah baya itu terbelalak kemudian meredup lagi, dia tidak berpikir terlalu jauh. Gadis di depannya ini masihlah sangat muda. Bagaimana dia bisa berpikir tentang membeli sebuah perusahaan.


Nadhira merasa di remehkan, dia kembali meyakinkan. "Bapak boleh menganggap saya masih sangat muda untuk mengatakan itu, tapi saya beraungguh-sungguh. Bapak bisa mengajukan harganya kepada saya,"


"Hehe," pria setengah baya itu terkekeh dan berkata. "Bisakah kau membelinya dengan harga tiga milyar? Itu harga terendah yang dapat ku tawarkan!" Ucap nya dengan nada bercanda tapi itu di anggap serius oleh Nadhira.


Nadhira berkata dengan tegas. "Baiklah! Saya akan menyiapkan uangnya. Anda bisa menghubungi saya jika serius dengan harga segitu. Dan untuk meyakinkan anda saya bisa mengirimkan uang muka sebanyak satu milyar di muka dulu," perkataan tegas Nadhira membuat pria setengah baya itu tertegun. Apakah gadis di depan nya ini bersungguh-sungguh?


Dia hanya sembarang menaruh harga, dan itu adalah harga yang termasuk tinggi akan tetapi dia menyanggupinya?


"Kau bersungguh-sungguh nak?" Tanya pria itu dan diangguki Nadhira pasti.


"Apakah ada walimu yang mengurus ini?" Tanyanya, pasalnya sangat tidak mungkin jika Nadhira sendiri yang mengurusnya bukan!


"Tidak ada! Ini inisiatif saya sendiri dan juga uang saya sendiri dan satu lagi...," Nadhira menjeda perkataannya untuk menarik nafas. "Saya tidak ingin ada yang tahu kalau saya yang akan menjadi pemilik perusahaan bapak kedepannya kalau bapak menjualnya kepada saya. Dan saya ingin menjadi satu-satunya pemilik saham terbanyak di perusahaan itu, boleh saja kalau ada mintra bapak yang ingin bertahan, yang akan menjadi direktur perusahaan itu tetaplah bapak, saya hanya akan menjadi bos di belakang layar," perkataan Nadhira sekali lagi membuat pria setengah baya itu tercengang.


Dia akan tetap menjadi direktur di perusahaan yang telah di jualnya?


Pria setengah baya itu masih terdiam mencerna semua perkataan Nadhira. Dia masih memikirkan apakah semua yang di katakan Nadhira tidak main-main.


"Kalau begitu saya akan pergi! Jangan melamun saat berjalan lagi!" Ucap Nadhira kemudian pergi.


Sepeninggalan Nadhira pria setengah baya itu masihlah terdiam dan beberapa saat kemudian dia tersadar kalau dia telah di tinggal sendirian. Dia mengecek kertas yang di pegangnya dan mendapat nomor telepon dan nama tertulis di atasnya 'Nadhira'.


Nadhira berlari-lari kecil sampai di depan gang rumahnya dia berjalan santai.


¤¤¤¤¤


"Ira!" Panggil seseorang dari luar rumah Nadhira.


Puspa membukakan pintu. "Teman-temannya Ira ya?" Tanya Puspa di angguki mereka bertiga, Bagas, Rima dan Clara.


"Masuk dulu, Iranya lagi siap-siap," ucap Puspa mempersilahkan mereka masuk dan duduk di sofa sederhana di ruang tamu.


Puspa ke kamar Nadhira untuk memberitahukannya dan beberapa saat kemudian dia keluar dengan celana jins dengan hoodie cream tak lupa tas kecil berwarna hitam.


Nadhira bisa melihat kalau ibunya sudah menyiapkan minuman untuk teman-temannya dan mereka pun berpamitan untuk pergi ke konser Damian dan FiveBoys.


FiveBoys terdiri dari lima pemuda dengan kisaran umur 18 sampai 21 tahun.


Leader mereka bernama Kay, dia yang tertua yaitu 21 tahun. Memiliki warna rambut hitam gelap, mata berwarna merah, dan tinggi 180 cm.


Anggota kedua yaitu Reyhan, pemuda yang di tolong Nadhira dari kecelakaan tabrakan, umur 20 tahun.


Anggota ketiga Axel, memiliki rambut silver, mata berwarna hitam pekat, tinggi 175 cm dan berumur 19 tahun


Anggota keempat Daren, memiliki rambut merah menyala, mata hijau, tinggi 180 cm, dan berumur 19 tahun.


Anggota kelima Ben, memiliki rambut hitam kebiruan, mata coklat terang, tinggi 180 cm, dan berumur 18 tahun. Personil termuda.


Itulah sedikit informasi yang di ketahui oleh Nadhira berkat Clara yang tak berhenti mengoceh tentang grouo boyband itu di sepanjang perjalanan menuju konser.


Setelah perjalanan yang memakan waktu 30 menit, mereka keluar dari mobil Rima dan memarkirkannya.


Sekarang mereka telah di area parkir tempat konser. Banyak anak muda terutama perempuan yang datang.


Mereka menemukan studio konser yang sangat besar sekali. Banyak para Fans yang rata-rata adalah perempuan mengantri memasuki dalam Studio dengan antusias, bahkan antriannya sampai keluar dari gedung Studio. Mungkin berkisar ratusan orang yang ada di luar Studio belum lagi di dalam nya.


Hampir semua dari mereka telah menyiapkan berbagai alat pernak pernik untuk memeriahkan konser. Seperti lampu-lampu kecil, bandu menyala yang mana tertulis nama FiveBoys dan ada juga bertuliskan nama Damian di atasnya.


¤


¤


¤


Semoga Suka...